First Love, Last Date

229 3 0
                                        

Katanya, cinta pertama itu susah dilupakan.

Tapi yang ternyata lebih susah adalah menerima kenyataan kalau seseorang yang menjadi kencan pertama mu juga menjadi cinta terakhir mu.

Bukan karena kalian menikah, bukan.

Melainkan karena setelah dia pergi, tidak ada lagi yang berhasil membuat hati ini membuka pintunya.

~~~

Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya kecil, tapi cukup untuk membuat jalanan mengkilap. Orang-orang berlarian mencari tempat teduh, sementara aku justru diam di depan sebuah cafe kecil yang masih sama seperti tiga tahun lalu.

Kursi dekat jendela itu masih ada, lampu kuningnya juga masih terasa hangat. Bahkan aroma kopi yang keluar setiap kali pintu terbuka pun masih sama.

Semuanya tetap sama, kecuali orang yang dulu selalu duduk dihadapan ku.

Aku tersenyum tipis. "Lucu juga ya.." gumamku

Tempat bisa setia menunggu, tapi manusianya tidak.

Tanganku masuk kedalam sebuah saku jaket, menemukan sebuah foto kecil yang di pinggirannya sudah mulai kusut. Difoto itu ada dua orang yang sedang tertawa sambil memegang dua gelas minuman.

 Difoto itu ada dua orang yang sedang tertawa sambil memegang dua gelas minuman

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku dan dia.

Foto dari first date kami.
Sebenarnya hari itu biasa saja.
Tidak ada bunga, tidak ada hadiah mahal, dan tidak ada mobil mewah yang datang menjemput.

Dia hanya datang dengan sweater hitam favorit nya, rambut yang sedikit berantakan karena terburu-buru, lalu menggaruk tengkuknya sambil tersenyum malu.

"Maaf ya, aku telat beberapa menit"

Aku yang waktu itu pura-pura kesal hanya mengangguk. "Aku udah nunggu hampir satu jam"

Dia terlihat panik. "Hah serius?

Disitu aku hanya tertawa "prank"

Ekspresi kesalnya waktu itu masih tersimpan jelas dikepala.
Hal-hal sekecil itu ternyata lebih awet dari yang kubayangkan.

Kami menghabiskan sore dengan jalan tanpa tujuan. Masuk ke toko buku hanya untuk membaca sinopsis novel, membeli eskrim meski cuaca dingin, saling mengejek karena tidak ada yang bisa memotret lebih bagus.

Dia selalu bilang aku tidak fotogenik.
Padahal hasil fotonya emang jelek.
Setiap aku protes dia malah tertawa puas.

"Aku sengaja"

"Dasar nyebelin!"

"Yang penting kamu masih terlihat lucu"

Kalimat itu sederhana, tapi anehnya masih bisa membuat dadaku terasa hangat setiap kali mengingat nya.

Malamnya, sebelum pulang, kami duduk di halte sambil melihat kendaraan berlalu lalang.

Dia tiba-tiba bertanya. "Kalo kamu sibuk, kamu masih mau jalan sama aku?"

Tanpa banyak pikir aku mengangguk. "Iya"

"Janji?"

"Janji"

Kami mengaitkan jari kelingking seperti anak kecil. Sederhana.

Dan saat itu aku benar-benar percaya bahwa janji bisa mengalahkan waktu. Nyatanya.. waktu selalu lebih kuat.

Beberapa bulan setelahnya, semua perlahan berubah.

Chat yang dulunya dibalas dalam hitungan detik, kini mulai berubah menjadi berjam-jam. Telepon malam yang bisanya tidak pernah absen berubah menjadi. "Maaf ya, aku lagi capek"

Pertemuan yang tadinya seminggu sekali, kini menjadi sebulan sekali. Itupun jarang.

Sudah. Tidak ada lagi, tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada orang ketiga, dan tidak ada kata-kata kasar.

Kami hanya kalah oleh keadaan yang tidak pernah berpihak. Kadang hubungan memang tidak hancur karena seseorang berhenti mencintai. Kadang hubungan selesai karena dua orang yang saling mencintai sudah terlalu lelah untuk terus bertahan.

Hari terakhir kita bertemu dia hanya tersenyum.

"Aku seneng bisa kenal kamu"

Aku memaksakan untuk tersenyum. "Jangan ngomong kaya orang mau pergi"

Dia terdiam cukup lama, lalu menjawab pelan. "Kalo suatu hari kita asing.. aku harap kamu lebih bahagia ya.."

Aku tidak menjawab, karena disaat itu aku yakin minggu depan kita masih bisa bertemu.

Tapi ternyata.. itu adalah pertemuan terakhir kami.

Sejak saat itu hidup terus berjalan. Orang-orang berdatangan, beberapa menawarkan cerita baru.

Tapi setiap kali mereka bertanya. "minggu depan mau jalan bareng?"

Entah kenapa bayangannya muncul lebih dulu.

Aku sadar, ternyata seseorang benar-benar bisa menjadi standar yang tidak pernah sengaja kita buat.

Bukan karena dia sempurna, tapi karena bersamanya semua hal sederhana terasa cukup.

Hari ini..

Tiga tahun kemudian aku kembali ke tempat ini memesan minuman yang sama, duduk di kursi yang sama, melihat kursi kosong didepan ku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menangis. Aku hanya tersenyum, lalu berbisik pelan seolah dia masih duduk di sana. "Makasih ya.. udah jadi first date aku"

Aku menarik napas panjang. "Dan mungkin.. last love yang ga pernah akan tergantikan"

Diluar hujan perlahan mulai reda, langit berubah jadi jingga, dan orang-orang kembali mengejar tujuan nya masing-masing.

Aku pun berdiri, meninggalkan foto kecil itu didalam buku yang kubawa. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menyimpan semuanya di tempat yang semestinya. Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki.

Ada yang datang sebentar, lalu pergi meninggalkan kenangan yang akan hidup jauh lebih lama daripada kebersamaan itu sendiri.

Dan mungkin.. memang benar.

Dia adalah first love paling sederhana, sekaligus last love tidak pernah benar-benar selesai.

750+ kata

Janlup vote n folow

ONE SHOT Stories to obsess over. Discover now