We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

01. Maaf, Ayah

117 25 11
                                        

Matahari musim dingin menggantung rendah di balik pegunungan. Cahaya keemasannya tak lagi menghangatkan desa Drevina. Salju yang turun sejak pagi menumpuk di atap-atap rumah, sementara angin membawa aroma pinus dari Hutan Moroz.

"Musim dingin kali ini lebih berat daripada beberapa tahun terakhir," keluh Dobrivoj sambil menutup gudang kayu kecil di samping rumahnya. Pria bertubuh besar itu menimbang beberapa bongkah kayu di tangannya sebelum menghampiri sang istri yang menunggu di pintu belakang. "Nyalakan apinya."

"Jika begini terus, persediaan kita juga cepat habis," gumam Zorka. Wanita itu menatap kayu bakar di tangannya.

Dobrivoj tidak menjawab---atau lebih tepatnya tidak bisa---karena itu benar adanya. Ia mendongak. Langit kelabu mulai menggantung rendah. Butiran-butiran salju tipis kembali melayang turun, perlahan menyelimuti jalan desa yang bahkan belum sempat terbebas dari tumpukan salju bulan-bulan sebelumnya.

"Ah, kayu-kayuku ...."

Bahkan Zorka yang akan masuk ke dalam rumah menghentikan langkahnya, menoleh hampir bersamaan dengan Dobrivoj ke arah nenek yang tinggal di sebelah rumah mereka.

"Nenek Mira? Ada apa?" Zorka meletakkan kayu bakarnya di kursi sebelah sebelum menghampiri.

Nenek Mira tidak menjawab, tapi Zorka mengikuti arah pandangnya. Tumpukan kayu bakar itu kembali diselimuti lapisan salju tipis. Sebagian batang bahkan mulai membeku karena terlalu lama terkena udara dingin.

"Semalam aku lupa menutupnya."

Mendengar ucapan itu, kaki Dobrivoj refleks melangkah. "Tunggu di situ," katanya. "Aku ambilkan beberapa batang."

Namun, langkah Dobrivoj belum sempat beranjak jauh, ketika suara benturan terdengar dari arah jalan desa.

"Aduh---!"

Dobrivoj, Zorka, dan Nenek Mira terkesiap. Ketiganya serentak menoleh ke arah jalan desa, melihat beberapa batang kayu berguling di atas salju, sementara seorang gadis muda perlahan bangkit duduk sambil menepuk-nepuk salju yang menempel di mantelnya.

"Vesna!"

Dobrivoj sudah berlari menghampiri. Zorka menyusul dari belakang, sementara Nenek Mira ikut berjalan tergesa meski langkahnya tak lagi secepat dulu, apa lagi di kondisi jalanan licin karena salju yang membeku.

Vesna masih duduk di salju, memunguti kayu satu per satu sambil terkikik pelan.

"Masih sempat tertawa?" Dobrivoj menggeleng. "Kau jika bawa kayu sebanyak itu, lihat jalan! Saljunya licin."

Vesna nyengir saat menerima uluran tangan dari Zorka yang membantunya bangun. "Kupikir masih kuat," katanya.

"Kuat bukan berarti tidak bisa jatuh, Vesna."

Vesna mengangguk pelan seolah benar-benar merenungkan ucapan itu. Namun sedetik kemudian ia sudah kembali jongkok memunguti kayu satu per satu.

Sementara Dobrivoj mengembuskan napas panjang. Ceramah yang sudah tersusun rapi di kepalanya buyar begitu saja.

"Sudah jatuh juga, Paman. Jadi sekarang sudah bisa bangun lagi," gumam Vesna pada akhirnya.

Until Spring Finds UsStories to obsess over. Discover now