⚠️ WARNING ⚠️
CERITA INI HANYALAH FIKSI DAN TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEHIDUPAN NYATA. MOHON BIJAK DALAM MEMBACA DAN BERKOMENTAR.
~♪ ⑅ Happy Reading ⑅ ♪ ~
Grand Metropolitan University, atau yang lebih dikenal dengan sebutan GMU. Tempat berkumpul nya dua golongan. Anak-anak yang pintarnya diluar nalar, atau anak-anak yang kekayaannya diluar nalar.
Pagi di GMU selalu dimulai dengan tenang dan elegan untuk sekelas perguruan tinggi. Para mahasiswa duduk dengan makanan kualitas A di cafe-cafe yang tersebar di berbagai penjuru universitas. Atau sekedar menyesap minuman kafein yang mereka sukai. Menikmati pagi dengan cara yang glamor sambil menatap gedung anggun masing-masing fakultas.
Namun sepertinya, pagi yang tenang itu tidak terjadi untuk cowok yang sedang duduk berhadapan dengan seorang cewek cantik di salah satu cafe elite di GMU.
"Maaf ya, Jace. tapi aku mau putus."
Cowok itu, Jace Aruna, sedang mencerna baik-baik perkataan dari pacarnya, Sasha. "Putus? Kenapa? Aku ada salah? Bukannya selama ini kita baik-baik aja?"
Banyak pertanyaan muncul di benak Jace. Pasalnya selama ini, dia dan Sasha jelas adalah pasangan yang selalu romantis. Jace bahkan tidak ragu untuk memanjakan Sasha dengan memberikan hadiah-hadiah tanpa diminta, memberikan dukungan emosional, waktu dan segala hal yang di milikinya. Itulah mengapa, saat kata putus diucapkan oleh Sasha, Jace sangat kebingungan.
Sasha di depannya, sedang meremas jari-jarinya sendiri. Menghindari tatapan Jace. Cewek itu menghela nafas sebelum akhirnya menatap Jace dan mengatakan alasannya.
"Kamu terlalu cantik Jace. Bahkan kalo aku upload foto kita berdua, komennya pada bilang kalau kamu cantik. Aku insecure."
Kalimat itu bagaikan palu thor yang tiba-tiba saja menghantam kepala Jace dan petirnya menyambar hatinya. Jelas alasan yang tidak pernah dibayangkan oleh Jace akan mengakhiri hubungan yang sudah satu tahun berjalan.
Jace membeku saking shock-nya dengan alasan itu. Bahkan ketika Sasha lagi-lagi mengucapkan kata maaf dan putus sebelum akhirnya meninggalkan Jace di sana sendirian. Cowok yang memiliki kulit se putih susu, wajah yang ramping, dan bibir ranum bak buah delima itu masih terdiam.
Memang benar, perawakannya terlihat... feminim. Berkat gen Mama dan Papanya yang dikenal sebagai pretty girl dan pretty boy saat masih muda. Tapi dia tetaplah laki-laki tulen. Tingginya bahkan melampaui tinggi rata-rata pria di negara ini. Suaranya pun berat seperti pria pada umumnya. Namun bagaimana bisa dia diputuskan hanya karena terlihat 'cantik'?
Akhirnya, sepanjang hari itu Jace menghadiri kelas dengan perasaan dongkol. Diputuskan hanya karena alasan kecil dan tidak masuk akal baginya, jelas membuat harga dirinya sebagai cowok tulen itu tercabik-cabik.
"Kamu terlalu cantik, aku insecure." Kata-kata itu terus terngiang di kepala Jace. Bahkan ketika dia sedang duduk sendirian di taman kampus yang agak sepi. Kuliahnya sudah selesai, tapi dia terlalu malas untuk pulang. Angin sore berembus, memainkan rambut hitamnya yang sudah agak panjang.
Jace menegak sisa soda kaleng di tangannya dengan perasaan dongkol, lalu meremas kaleng aluminium itu hingga penyok.
"Sialan," umpatnya lirih, menatap layar ponselnya yang menampilkan obrolan terakhirnya dengan Sasha sebelum foto profil cewek itu menghilang dari layar. Sasha benar-benar memblokir nomornya.
"Terlalu cantik katanya? Emang salah gue kalo lahir kaya gini? Harusnya dia bersyukur punya pacar cakep, bukannya malah minder!" Jace menggerutu sendirian, meluapkan emosinya pada angin lalu.
Saking emosinya, wajah Jace merona kemerahan, dan matanya yang besar berkilat tajam—paduan yang ironisnya justru membuat dia terlihat sepuluh kali lipat lebih menawan saat sedang marah.
Jace menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Dia merasa menjadi cowok paling tidak berguna sedunia.
Gagal mendominasi hubungan, gagal terlihat maskulin di mata pacar, dan berakhir meratapi nasib di taman seperti orang hilang.
"Kalau Papa tau bisa diketawain tujuh hari tujuh malem nih gue," gumamnya sinis.
Jace mengusap kasar wajahnya sendiri. Sentuhan kulitnya yang halus justru memicu rasa frustrasi yang baru. Jace teringat setiap kali mereka jalan di mal, beberapa pasang mata—baik cowok maupun cewek—sering kali tertuju ke arahnya, bukan ke Sasha. Dulu dia pikir orang-orang hanya mengagumi gayanya, tapi ternyata tidak. Mereka melihatnya sebagai sosok yang 'indah'. Sesuatu yang feminin.
Di dalam kepalanya yang sedang amburadul, ego Jace berputar-putar menciptakan badai rasa bersalah yang tidak pada tempatnya. Apa pakaian gue kurang cowok? Apa karena gue terlalu sering pakai sweter longgar? Apa gue harus mulai numbuhin jenggot? Atau badan gue yang kurang kekar?
Jace melirik lengannya sendiri. Proporsi tubuhnya sebenarnya ramping dan atletis, khas cowok yang rajin olahraga kardio. Tapi jika disandingkan dengan standar cowok-cowok maskulin berotot besar yang disukai kebanyakan cewek, Jace tahu dia berada di spektrum yang berbeda. Dan fakta bahwa dia tidak bisa mengubah struktur tulang wajahnya yang sudah bawaan lahir membuat Jace merasa semakin tidak berdaya.
Dia merasa gagal menjadi seorang 'pria'. Kegagalan itu terasa begitu absolut karena alasannya adalah sesuatu yang tidak bisa dia perbaiki melalui permintaan maaf atau perubahan sikap.
"Gue harus gimana lagi coba?" gumam Jace pada keheningan taman.
Setetes air mata frustrasi hampir saja lolos dari sudut matanya, namun buru-buru dia seka dengan punggung tangan sebelum sempat jatuh. Jace menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya, meskipun gagal total.
Pikirannya benar-benar berantakan, terombang-ambing antara rasa rindu pada Sasha, rasa marah pada takdir, dan rasa benci pada cermin yang selalu memantulkan wajah 'cantik' miliknya.
Jace memejamkan matanya rapat-rapat, berharap angin sore bisa membawa pergi semua kekacauan ini dan mengembalikan harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping di lantai kafe tadi pagi. Dia hanya ingin ketenangan. Setidaknya, untuk beberapa menit saja sebelum dia harus pulang dan berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.
Namun, ketenangan adalah kemewahan yang tidak akan didapatkan Jace sore ini. Karena tepat saat dia mengembuskan napas beratnya yang kesekian kali, sepasang langkah kaki yang terdengar santai namun berbobot mulai mendekat ke arah bangku tempatnya merenung.
Langkah kaki dari seseorang yang akan menghancurkan sisa-sisa kewarasan Jace yang sedang sekarat.
To Be Continued
Mari kita tes ombak
BẠN ĐANG ĐỌC
Crazy Couple [Marhoon]
FanfictionDi sela-sela hidupnya yang sedang terjun payung karena hal yang tidak masuk akal, Jace Aruna tidak pernah membayangkan bahwa dia akan terjebak di dalam pusaran pesona Maverick Octavius, mahasiswa baru dari fakultas bisnis dengan segara dominasinya...
![Crazy Couple [Marhoon]](https://img.wattpad.com/cover/414017512-64-k591792.jpg)