Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Bunyi dari Sebuah Keheningan

2 0 0
                                        

Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti dentang lonceng kematian di ruang makan itu. Sunyi. Terlalu sunyi untuk sepasang suami istri yang baru ditinggal berdua setelah seharian beraktivitas.
Alya menatap suaminya, Roni, yang duduk di seberang meja. Lelaki itu mengunyah makanannya dengan khidmat, pandangannya lurus ke arah piring, seolah nasi dan lauk di hadapannya jauh lebih menarik daripada keberadaan istrinya sendiri. Di samping piringnya, sebuah ponsel pintar tergeletak dengan layar menghadap ke bawah-posisi yang sudah berbulan-bulan ini selalu memicu gemuruh di dada Alya.
"Kerjaan di kantor banyak, Mas?" Alya membuka suara, mencoba memecah kebekuan. Suaranya sengaja dibuat seringan mungkin, meski ada nada menyelidik yang gagal ia sembunyikan.
Roni tidak langsung menjawab. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, menyeka bibirnya dengan tisu, baru kemudian menatap Alya sekilas. "Seperti biasa."
Hanya dua kata. Tanpa kelanjutan, tanpa bertanya balik bagaimana hari yang dilalui Alya.
Alya meremas sendoknya di bawah meja. Seperti biasa. Jawaban aman yang selalu Roni gunakan untuk membentengi diri. Pikiran Alya langsung berkelana ke tempat-tempat gelap. Kenapa ponsel itu harus dibalik? Kenapa belakangan ini Roni sering pulang terlambat dengan alasan rapat, tapi pakaiannya selalu beraroma parfum yang asing? Atau mungkin aroma yang sengaja disemprotkan untuk menutupi sesuatu?
"Kemarin malam ada telepon jam sebelas. Kamu angkatnya di teras belakang," pancing Alya lagi, matanya menyipit, memperhatikan setiap perubahan mikro di wajah suaminya. "Dari siapa?"
Roni menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil gelas. Ia menghela napas pendek, hampir tak terdengar. "Rekan kerja."
"Rekan kerja atau... ada yang lain, Mas?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alya. Ia sudah tidak tahan lagi. Dada Alya naik-turun menahan luapan emosi yang selama ini ia pendam sendiri dalam kecurigaan.
Roni meletakkan kembali gelasnya tanpa meminumnya sama sekali. Wajahnya tetap datar, ekspresinya sedingin es di kutub. Ia menatap Alya dengan mata yang tampak sangat, sangat lelah. Namun, alih-alih mendebat atau membela diri, Roni hanya berdiri dari kursinya.
"Aku sudah selesai. Terima kasih makan malamnya," ucap Roni lirih, lalu berbalik berjalan menuju ruang kerja tanpa menoleh lagi. Alya ditinggalkan sendirian di meja makan, ditemani rasa aman yang makin terkikis dan amarah yang siap meledak.
Alya tidak bisa lagi menahan gemuruh di dadanya. Langkah kaki wanita itu terasa berat namun mantap saat menyusul Roni ke dalam kamar. Di sana, Roni sedang duduk di tepi ranjang, baru saja mengganti pakaiannya dengan kaus rumah yang longgar. Ponselnya tergeletak begitu saja di atas nakas, lagi-lagi dengan layar menghadap ke bawah.
Melihat benda itu, benteng kesabaran Alya runtuh sepenuhnya.
"Mas, kita harus bicara. Tolong jangan menghindar lagi!" suara Alya bergetar, meninggi di tengah sunyinya malam.
Roni tidak langsung menatapnya. Ia perlahan mendongak, menatap Alya dengan mata yang sayu dan kosong. Kebisuan Roni justru menjadi bahan bakar yang membakar emosi Alya lebih berkobar.
"Sampai kapan kamu mau begini, Mas? Sampai kapan kamu mau memperlakukan aku seperti orang asing di rumah ini?" air mata Alya mulai merebak, menggenang di pelupuk mata. "Kamu selalu diam. Pulang telat, ponsel selalu disembunyikan, ditanya hanya jawab seadanya. Kamu punya perempuan lain di luar sana, iya? Kamu sudah bosan denganku?!"
Cecaran pertanyaan itu menggema di dalam kamar. Alya terengah-engah, air matanya kini luruh membasahi pipi. Ia bersiap untuk menerima amukan balik, bantahan keras, atau setidaknya pembelaan diri dari suaminya. Ia ingin Roni marah, karena kemarahan setidaknya membuktikan bahwa Roni masih memiliki rasa di dalam hubungan ini.
Namun, Roni tetap bergeming. Lelaki itu hanya memandang lantai, meremas kedua telapak tangannya sendiri. Tidak ada urat tegang di lehernya, tidak ada kilat amarah di matanya. Hanya ada sepasang bahu yang turun, tampak sangat rapuh.
"Kenapa diam, Mas? Jawab! Bentak aku kalau aku salah! Katakan sesuatu!" tangis Alya pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Roni menarik napas panjang. Sebuah helaan napas yang teramat berat, seolah ia sedang mengangkat beban berton-ton yang selama ini menyumbat dadanya. Ia berdiri, melangkah perlahan mendekati Alya, namun berhenti dalam jarak dua langkah. Ia tidak meraih jemari istrinya.
"Alya..." suara Roni terdengar serak, begitu lirih hingga hampir tenggelam dalam suara tangis Alya. "Aku tidak punya siapa-siapa. Tidak pernah ada perempuan lain."
"Lalu kenapa kamu sedingin ini, Mas?!" potong Alya di sela tangisnya, menuntut penjelasan.
Roni menatap langsung ke manik mata Alya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya melihat ada luka yang teramat dalam di balik tatapan mata suaminya yang biasanya beku.
"Karena aku lelah selalu menjadi pihak yang salah di matamu, Alya," ucap Roni, suaranya teratur namun sarat akan kepedihan.
Alya tertegun. Tangisnya mendadak tertahan di tenggorokan.
Roni memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela yang menampilkan pekatnya malam, sebelum kembali menatap istrinya. "Kamu ingat enam bulan lalu? Saat aku pulang dengan wajah kusut dan mencoba bercerita tentang proyekku yang gagal? Kamu langsung memotongnya dan bilang aku kurang gigih, bahwa aku hanya bisa mengeluh."
Roni jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam. "Lalu, ingat saat kita berdiskusi tentang renovasi rumah ini? Aku memberikan pendapatku, tapi kamu menuduhku mendikte dan tidak menghargai seleramu. Setiap kali aku membuka mulut untuk berbagi cerita, keluh kesah, atau pendapat... ujung-ujungnya selalu menjadi pertengkaran di mana aku yang bersalah."
Air mata Alya berhenti mengalir, namun dadanya mendadak terasa dihantam batu besar. Ingatan-ingatan yang disebutkan Roni berputar kembali di kepalanya bagai film lama.
"Aku membalik ponselku bukan karena menyembunyikan pesan dari wanita lain, Alya. Aku membaliknya karena setiap kali ada notifikasi masuk-bahkan dari grup kantor sekalipun-kamu akan menatapku seolah aku sedang melakukan kejahatan besar," lanjut Roni, suaranya melembut, namun justru itu yang membuat dada Alya makin sesak. "Aku pulang terlambat karena aku sering duduk termenung di parkiran kantor, mengumpulkan energi. Aku takut pulang. Aku takut setiap kata yang kuucapkan di rumah ini akan memicu salah paham baru."
Roni melangkah mundur, kembali duduk di tepi ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangan. "Aku tidak berselingkuh. Aku hanya lelah. Aku memilih diam karena bagiku, keheningan adalah satu-satunya cara agar kita tidak bertengkar setiap hari. Tapi ternyata, diamku pun tetap salah di matamu."
Kamar itu kembali hening. Namun, kali ini keheningan itu tidak lagi terasa dingin bagi Alya, melainkan terasa begitu menyengat dan penuh sesal.
Tembok kecurigaan yang selama berbulan-bulan ini dibangun Alya runtuh seketika, menyisakan puing-puing penyesalan. Ia baru menyadari bahwa sikap dingin suaminya bukanlah tanda hilangnya kesetiaan, melainkan sebuah bentuk keputusasaan dari seorang pria yang merasa suaranya tak lagi memiliki tempat yang aman di hati istrinya sendiri.
Alya melangkah mendekat, lututnya terasa lemas saat ia berlutut di hadapan Roni. Dengan tangan bergetar, ia menyentuh perlahan punggung tangan suaminya yang terasa dingin.
"Mas... maafkan aku..." bisik Alya lirih, suaranya tercekat oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
Roni tidak menjauhkan tangannya. Ia membuka telapak tangan, membiarkan jemari Alya bertautan di sana. Mereka tidak saling berpelukan, tidak juga saling melempar janji manis. Namun malam itu, di tengah keheningan yang baru, mereka tahu bahwa jalan untuk menyembuhkan luka dan meruntuhkan tembok bisu di antara mereka baru saja dimulai.

RETAK DALAM DIAMHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora