Oliver Bearman X Dew Jirawat
Jam menunjukkan pukul 17.30.
Lobi kantor mulai ramai. Karyawan satu per satu keluar sambil mengucapkan selamat tinggal.
Di antara kerumunan itu, Jira akhirnya muncul.
Kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku, celana bahan hitam, tas laptop menggantung di bahu. Rambut hitamnya sedikit panjang hingga menutupi dahi, wajahnya mulus dengan mata teduh yang bikin siapa pun menoleh dua kali.
"Mas Jira, besok meeting jam sembilan ya."
"Iya, siap."
Baru dua langkah keluar dari pintu kantor...
"KAK JIRAAA!"
Jira langsung memejamkan mata sebentar.
"Ya ampun..."
Dari seberang jalan, seorang cowok berjaket varsity hitam melambai heboh sambil senyum lebar.
Ollie.
Mahasiswa semester lima yang entah kenapa gak pernah bisa diam.
Begitu lampu penyeberangan berubah hijau, Ollie langsung berlari kecil menghampiri.
"Capek?"
Belum sempat Jira menjawab, tas laptopnya sudah diambil paksa.
"Ollie."
"Hm?"
"Balikin."
"Enggak."
"Itu berat."
"Makanya aku aja yang bawa."
Jira menghela napas pasrah.
"Dasar..."
Beberapa rekan kerja yang melihat langsung saling lirik.
"Itu adiknya Mas Jira ya?"
Ollie yang kebetulan dengar langsung menoleh.
"Bukan."
Dia berdiri di samping Jira sambil nyengir.
"Pacarnya."
Semua langsung melongo.
Jira refleks menepuk lengan Ollie.
"Kamu tuh..."
"Apa? Biar gak salah paham."
"Kamu gak harus ngumumin ke satu dunia."
"Kenapa enggak? Aku bangga punya pacar secantik ini."
Jira langsung menatap Ollie datar.
"Secantik ini?"
"Iya."
"Wajahmu lebih cantik dari bunga di depan kantor."
"Ollie."
"Iya?"
"Kamu cari masalah?"
"Nggak."
"Terus?"
"Aku lagi flirting."
Jira cuma geleng kepala sambil berjalan duluan.
Ollie buru-buru menyusul.
"Ngambek?"
"Enggak."
"Bohong."
"Enggak."
"Kalau enggak, pegangan tangan."
Jira berhenti.
"Di depan kantor?"
