We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1: Theresa

18 4 0
                                        

Orang-orang bilang bahwa bayi akan menangis saat dilahirkan. Theresa tidak. Setidaknya, itulah yang selalu dibicarakan para pelayan ketika mereka bergosip di sudut-sudut lorong istana. Mereka selalu berbicara dengan suara pelan, seolah sedang menceritakan dongeng sebelum tidur.

"Yang pertama menangis," kata salah seorang pelayan.

"Yang kedua hanya membuka matanya," timpal pelayan lainnya.

"Merinding rasanya," ujar pelayan ketiga sambil tertawa gugup.

Theresa tidak pernah merasa terganggu mendengarnya. Untuk apa? Ia tetap tumbuh, hari demi hari, tahun demi tahun.

"Theresa."

Suara itu tiba-tiba terdengar dari balik pintu.

Ia menutup buku yang sedang dipegangnya.

"Ya?"

"Yang Mulia ingin bertemu denganmu."

Theresa tidak membantah ataupun bertanya. Jika seseorang memanggilnya, tidak ada gunanya membuang waktu.

Ia berjalan menyusuri lorong kediaman selir. Tempat itu sama seperti biasanya, sunyi.

Theresa melirik orang-orang yang melewatinya. Seorang pelayan wanita berjalan tergesa-gesa, napasnya pendek sementara tangannya mencengkeram celemek terlalu erat. Ia sedang ketakutan. Pelayan lain membungkuk lebih dalam dari yang diperlukan saat berpapasan dengannya. Kepala pelayan tersenyum terlalu lebar, hingga bibirnya nyaris tak terlihat di balik bedak tebal.

Ia sedang menyembunyikan sesuatu. Theresa mengetahuinya. Namun itu tidak mengusiknya. Perasaan orang lain tidak berarti apa-apa baginya. Hanya informasi, tidak lebih dan tidak kurang.

Senevier sudah menunggu di ceruk jendela. Wanita itu menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat.

"Apakah Yang Mulia memanggilku?" tanya Theresa.

Senevier mengangguk kecil. "Kemarilah."

Theresa menurut, lalu berhenti beberapa langkah dari sang ibu. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

"Masih ingat pertemuan kecil sore ini?" tanya ibunya.

"Hm."

"Kau akan ikut denganku."

"Baik."

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Bagi kebanyakan orang, suasana itu pasti terasa canggung.

Bagi Theresa, itu hanyalah keheningan.

Beberapa saat kemudian, Senevier kembali berbicara.

"Apakah kau tahu kenapa aku memanggilmu?"

"Tidak."

"Kau tidak akan bertanya?"

"Jika Yang Mulia ingin memberitahuku, Yang Mulia pasti akan mengatakannya."

Senevier menatap Theresa cukup lama sebelum senyum tipis muncul di bibirnya.

"Kau benar-benar anak yang aneh."

Theresa tidak menjawab. Tidak ada gunanya memperdebatkan sesuatu yang tidak penting baginya.

Sore itu mereka berjalan melewati lorong-lorong istana. Theresa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya. Ada yang memandang dengan jijik tetapi berusaha di tutupi, ada yang mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki, dan ada pula yang hanya menatap penuh rasa ingin tahu.

Tidak sulit menebak isi pikiran mereka. Yang jauh lebih sulit dipahami adalah alasan mereka begitu tertarik pada dirinya. Bukankah memikirkan kehidupan orang lain itu membosankan?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 15 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Princess Who Felt NothingStories to obsess over. Discover now