Ruangan itu akhirnya kembali sunyi,namun bukan sunyi yang tenang. Melainkan sunyi yang dipenuhi sisa tangis, napas yang belum sepenuhnya teratur, dan perasaan yang masih berantakan.
Peien masih berlutut di lantai, tubuhnya masih gemetar. Tangannya masih mencengkeram ujung baju Jiang Heng, seolah jika ia melepaskan, semuanya akan benar-benar hilang. Air matanya belum berhenti bahkan setelah semua kata itu keluar. Semua penyesalan, semua permintaan maaf. Namun tetap terasa tidak cukup, tidak akan pernah cukup.
"Aku... minta maaf..." suaranya nyaris tidak terdengar,
"...aku minta maaf..."
Berulang.
Lagi.
Dan lagi.
Seperti satu-satunya hal yang ia punya.
Jiang Heng berdiri di depannya.
Diam.
Namun kali ini bukan karena menahan amarah, melainkan karena ia sendiri tidak tahu harus merespons bagaimana.
Matanya masih merah, napasnya belum stabil dan dadanya terasa sesak. Namun saat ia melihat Peien seperti itu, sesuatu di dalam dirinya perlahan runtuh lagi.
Ia menghela napas panjang.
Lalu tangannya bergerak menyentuh bahu Peien pelan.
"Cukup..."
Suaranya rendah.
Tidak keras.
Namun tegas.
Peien menggeleng cepat.
"Tidak cukup..." jawabnya lirih,
"tidak akan pernah cukup..."
Tangisnya kembali pecah.
Ia bahkan tidak berani menatap wajah Jiang Heng.
Karena rasa bersalah itu terlalu besar.
Jiang Heng menutup mata sejenak, rahangnya mengeras. Namun tangannya tidak menarik diri.
Sebaliknya, ia menarik napas dalam, lalu perlahan memaksa Peien berdiri.
Tubuh itu goyah.
Lemah.
Dan terlalu ringan untuk seseorang yang dulu selalu terasa kuat.
Jiang Heng langsung refleks menahannya, seolah tubuhnya belum pernah lupa.
"Duduk dulu"
Kali ini lebih lembut, ia menuntun Peien ke sofa, bahkan, hampir setengah mengangkatnya.
Peien tidak melawan, tidak juga benar-benar sadar.
Kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai kabur. Namun ia tetap berusaha menahan.
Seolah takut jika ia kehilangan kesadaran, ia akan kehilangan kesempatan ini juga.
"Aku... belum selesai..." bisiknya lemah dan masih terisak.
Jiang Heng menatapnya lama, lalu menggeleng pelan.
"Sudah cukup untuk hari ini.. "
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi penuh tekanan.
Melainkan lelah.
Sangat lelah.
Peien menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis nya karena air matanya masih jatuh tanpa henti.
Namun kali ini ia diam, tidak memaksa.
Tidak mengejar.
