Bab 1: When Dating Apps Didn't Work

21 3 2
                                        

Kancing baju lepas dua, keringat mengalir tak terarah, air mata berkaca-kaca takut pecah. Pemuda yang duduk di halte bus membuka ponselnya dengan raut wajah murung bercampur gelisah. Suaranya merengek manja, mengisi bising kendaraan yang berlalu-lalang.

"Nox, please jemput gue! Huhuhu," bujuk Tian, mahasiswa semester dua yang bersikap kurang dari dewasa. "Gue hampir digrebek, Nox! Ternyata cewek kemarin itu istri orang!" ucapnya, kembali membayangkan wajah galak suami yang mengetuk pintu, dilihatnya dari lubang intip.

"Gue langsung disuruh kabur lewat jendela," lanjutnya, lalu menarik ingus di sela-sela percakapan.

Terdengar helaan napas dari kontak bernama Nox Twinski. Meskipun tampaknya ogah-ogahan, temannya itu datang dengan motornya. Wajahnya tak menunjukkan keterkejutan oleh kondisi berantakan teman sebayanya.

"Cepetan naik!" pinta Nox. Tian langsung melompat duduk, cemberut sejenak.

"Gue bilang juga apa! Jangan asal main dating app, kita gak tahu background asli mereka gimana, Tian!" Nox merotasikan matanya. Rasanya urat kesabarannya selalu akan putus jika bicara dengan Tian.

"Gue cuma pengen pacar, emang salah kalau gue pengen dicintai?" Tian bahkan tak bisa tenang duduk di jok belakang.

"Ya, patokannya gausah punya pacar!" balas Nox, suaranya melawan angin di jalan.

"Tapi lo punya pacar, anjir!" timpal Tian, dan Nox tidak bisa membalas lagi, justru ia menyesal sudah memulai argumen. Tian sekarang merengek seperti pecandu narkoba kehabisan sabu.

Sekitar satu setengah jam tanpa saling berbicara, keduanya sampai di parkiran asrama. Nox berkacak pinggang mendapati Tian yang masih melihatnya seperti kekacauan hari ini adalah kesalahannya.

"Gini aja, Yan. Lo mending sewa pacar aja beberapa hari, terus lo rasain sendiri gimana rasanya punya pacar. Habis itu putus secara profesional." Nox menawarkan hal baru, yang mungkin sedikit asing di telinga Tian.

Tian, seperti anak anjing yang penasaran, mendekat tertarik. "Pacar sewa?" ucapnya memastikan. Lalu Tian melirik sekitar mereka, asrama sudah masuk jam tidur, tak ada orang selain mereka di parkiran. "Emang legal ya, Nox?" bisiknya.

Nox mengangkat bahunya malas. Lalu berjalan menuju tangga asrama, bersiap mengisi lorong malam dengan ciutan Tian yang bersiap menyerbunya dengan seribu pertanyaan.

"Legal, kok. Tapi," Nox membuka kunci kamarnya, yang kebetulan di samping kamar Tian.

"Tapi?" ulang Tian, sambil mengekori Nox dari belakang.

"Tapi gak boleh terang-terangan disebarin," sambung Nox.

"Sounds even ilegal!" Tian menatap kesal.

"Udah nanti selebihnya gue jelasin di chat." Nox bersiap menutup pintu kamar. Tian mengernyit. Menuntut penjelasan penuh sekarang.

"Gue mau lanjut video call sama My Baby Orias," timpal Nox, menjulurkan lidahnya sedikit sebelum membanting pintu.

Suara pintu ditutup kencang membuat Tian ingin melepas sepatunya dan melemparkan itu ke Nox. Namun, ia menahan diri dan masuk ke kamarnya sendiri.

Suara notifikasi ponselnya bunyi. Link dari Nox. Anak itu begitu sangat fast respon sebelum akhirnya chatnya jadi ceklis satu. Tian menyambar kasurnya dengan perasaan kesal. "Pasti sengaja DND demi pacaran tanpa diganggu gue!" sahutnya.

Perlahan ketika membuka isi link yang menghubungkannya ke website FindRent. Ia melihat gulir foto-foto dan cuitan seperti menfess Twotter di layarnya.

Tian mengingat chat Nox yang memintanya mengetik kriteria yang diinginkan sebagai pacar pada search bar. Ia pun secara naluri menulis tipe pacar yang ia dambakan.

Boyfriend Rent | TEETEEPORStories to obsess over. Discover now