We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

- PROLOG -

11 1 0
                                        

Bagi Ericko dan Raya, rumah bukan sekadar bangunan yang berseberangan pekarangan. Bagi mereka rumah adalah suara derit pagar yang beradu dan lubang kecil di kayu pembatas yang menjadi saksi bisu keberadaan satu sama lain sejak mereka masih bayi.

Rumah bagi mereka adalah aroma tanah basah setelah hujan yang mereka hirup bersama dari teras rumah masing-masing atau suara gesekan pintu pagar yang selalu berbunyi sama setiap kali salah satu dari mereka keluar.

Seumur hidup, mereka telah tumbuh dengan pemandangan yang sama, punggung satu sama lain saat bermain di halaman, dan suara teriakan ibu masing-masing yang saling memanggil untuk makan siang.

​Selama sembilan tahun pertama kedekatan itu terasa... biasa saja. Mereka ada, namun seperti dua planet yang terbiasa mengorbit di jalur yang sama tanpa pernah benar-benar bertabrakan.

​Semua berubah di musim panas ketika mereka berusia sembilan tahun. Saat itu, Ericko masih berjuang dengan lidahnya yang cadel. Setiap kali ia berusaha memanggil nama gadis di sebelah rumahnya "Raya", huruf 'R' selalu terpelintir di lidahnya, sehingga mengubahnya menjadi "Aya".

​Suatu sore, setelah mereka nekat memanjat pohon mangga di belakang rumah dan berakhir dengan lutut lecet yang sama-sama berdarah, Ericko menatap Raya yang menangis sesenggukan. Ia menyeka air mata Raya dengan kaosnya yang kotor, lalu dengan suara terbata-bata ia berjanji,"Jangan nangis, Aya. Kan ada Eik di sini".

​Sejak hari itu, "Aya" bukan lagi sekadar sisa-sisa cadel yang menggemaskan. Panggilan itu menjadi deklarasi. Mereka bukan lagi sekadar dua bayi yang tumbuh di pekarangan yang sama. Mereka adalah dua jiwa yang telah menemukan rumah di dalam diri satu sama lain.

​Delapan tahun berlalu sejak momen di bawah pohon mangga itu.

​Rumah mereka tetap bersebelahan, bangunan pagarnya masih sama, namun lubang di pembatas itu telah menjadi jalan pintas bagi mereka untuk saling berbagi dunia.

Kini, mereka bukan lagi bocah dengan lutut lecet, melainkan dua remaja yang saling mengorbit dunia satu sama lain.

​Bagi orang luar, mereka hanyalah tetangga yang kebetulan dekat. Namun bagi Ericko dan Raya, mereka adalah dua bagian dari satu kesatuan yang telah ditempa oleh waktu. Mereka sudah menjadi rumah bagi satu sama lain sejak sebelum mereka tahu cara mengeja kata persahabatan.



The Space We ClosedStories to obsess over. Discover now