Malam itu, hujan turun perlahan di sebuah kota. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya keemasan di atas jalan yang basah, sementara Selvia berjalan sendirian dengan langkah pelan. Di tangannya ada sebuah buku catatan yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun.
Buku itu berisi banyak hal yang ingin ia lakukan. Menulis cerita. Belajar keterampilan baru. Mencoba hal-hal yang selama ini membuatnya penasaran. Namun hampir setiap halaman memiliki kalimat yang sama.
"Nanti saja."
Selvia selalu merasa belum cukup siap. Ia menunggu waktu yang tepat, kesempatan yang sempurna, dan keberanian yang menurutnya belum pernah datang. Hingga tanpa sadar, tahun demi tahun berlalu begitu saja.
Malam itu, setelah menutup buku catatannya, Selvia menghela napas panjang.
"Aku sudah membuang terlalu banyak waktu," gumamnya pelan.
Saat itulah ia melihat sebuah gang kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di ujung gang itu berdiri sebuah toko tua dengan papan kayu yang sedikit pudar. Tulisan di atasnya membuat Selvia berhenti.
"The Clockmaker of Lost Time."
Entah mengapa, ia merasa ingin masuk ke dalam gang tersebut.
Ketika membuka pintu, suara lonceng kecil terdengar nyaring. Di dalam toko itu terdapat ratusan jam dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada jam besar yang berdetak lambat, jam saku berwarna emas, jam dinding tua, bahkan jam yang jarumnya bergerak mundur.
Suasana toko terasa hangat sekaligus misterius.
Di balik meja kayu, duduk seorang pria tua dengan rambut putih dan senyum yang tenang.
"Selamat datang," katanya.
Selvia mengangguk pelan. Ia tidak tahu mengapa, tetapi rasanya seperti pria itu sudah mengetahui alasan kedatangannya.
"Aku..." Selvia ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan. "Aku ingin mendapatkan waktuku kembali."
Pria tua itu tersenyum kecil.
"Kamu bukan orang pertama yang datang dengan permintaan itu."
Ia berdiri lalu mengambil sebuah jam saku tua dari rak paling atas. Jam itu berwarna perak dan terlihat sangat sederhana.
Pria itu menyerahkannya kepada Selvia.
"Apa ini?" tanya Selvia.
"Itu adalah waktu yang masih kamu miliki," jawab pria itu.
Selvia memandang jam itu dengan bingung.
"Tapi aku meminta waktu yang hilang," kata Selvia.
Pria tua itu menggeleng pelan.
"Tidak ada siapa pun yang bisa mengembalikan waktunya yang telah pergi."
Jawaban itu membuat Selvia menunduk kecewa.
Namun pria tua itu melanjutkan,
"Orang-orang selalu datang ke sini karena menyesali masa lalu. Mereka menghitung semua kesempatan yang terlewat, semua kesalahan yang pernah dilakukan, dan semua mimpi yang belum sempat diwujudkan. Mereka terlalu sibuk melihat ke belakang sampai lupa bahwa waktu mereka masih terus berjalan."
Pria itu kemudian mengajak Selvia berkeliling toko.
Di setiap sudut terdapat jam-jam yang menyimpan kisah berbeda.
Ada jam milik seorang pelukis yang terus menunda menggambar karena takut hasilnya tidak bagus.
Ada jam milik seorang penulis yang menunggu inspirasi sempurna sampai bertahun-tahun tidak pernah menulis satu halaman pun.
Ada jam milik seseorang yang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain hingga ia lupa menikmati hidupnya sendiri.
Semua jam itu memiliki satu kesamaan.
Mereka tidak kehilangan waktu karena gagal.
Tetapi mereka kehilangan waktu karena terlalu lama menunggu.
Selvia terdiam. Ia merasa seolah sedang melihat dirinya sendiri di dalam setiap cerita itu.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa kegagalan adalah hal yang paling menakutkan. Karena itulah ia terus berkata "nanti" dan "suatu hari." Namun tanpa disadari, ketakutan itu justru membuatnya berhenti melangkah.
Sebelum Selvia pulang, pria tua itu memberikan satu pesan terakhir.
"Jangan habiskan hidupmu untuk menghitung waktu yang telah hilang, gunakan waktumu untuk membuat sisa waktumu itu berarti."
Selvia mengangguk. Kalimat itu terus terngiang di pikirannya.
Ketika keluar dari toko, hujan telah berhenti. Langit mulai berubah menjadi warna jingga karena matahari akan segera terbit.
Selvia menoleh ke belakang.
Namun toko tua itu sudah tidak ada.
Gang kecil itu kosong, seolah tempat tersebut tidak pernah berdiri di sana.
Yang tersisa hanyalah jam saku perak yang masih ia genggam erat.
Sejak hari itu, Selvia tidak lagi menunggu waktu yang sempurna. Ia mulai menulis cerita yang selama ini hanya ada di kepalanya. Ia mulai mencoba hal-hal baru yang dulu selalu ia tunda. Ia mulai melangkah, meskipun langkahnya kecil dan tidak selalu mudah.
Karena akhirnya ia mengerti satu hal.
Waktu yang paling berharga bukanlah waktu yang telah hilang.
Melainkan waktu yang masih dimiliki hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Clockmaker Of Lost Time
FantasySelvia selalu berkata "nanti saja. " Tentang mimpi, tentang keberanian, tentang hidup yang terus ia tunda. Sampai suatu malam hujan, ia menemukan sebuah gang kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Di ujungnya berdiri sebuah toko tua bernama Th...
