(damn bro kalau gak kena peringatan next time gambar yang kayak gitu kali ya 🤭🤭🤭🫣🫣🫣😈😈😈😈🤭🤭🤭😳😳😳)
(Asli cantik bet shiroko teror ya ah nyahu nyahu nyahu)
(seperti biasa ini cerita gabut ,jadi tergantung mood admin ingin di lanjutkan atau tidak😈😈😈🦅🦅🦅🇺🇸🇺🇸🇺🇸)
Udara Kivotos berbau seperti campuran mesiu, aspal panas, dan aroma manis kue krim dari toko roti di sudut jalan. Alex menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang dingin di sebuah gang sempit. Ia menatap telapak tangannya. Kulitnya tampak lebih kencang, otot-ototnya terasa padat, dan ada sesuatu yang berdenyut di pusat dadanya-sebuah inti energi yang terasa seperti tungku api yang tak kunjung padam.
Ingatan terakhirnya adalah cahaya lampu neon kantor yang berkedip-kedip, tumpukan dokumen yang setinggi gunung, dan rasa sakit tajam di dada sebelum semuanya menjadi gelap. Kematian karena terlalu banyak bekerja. Ironis.
"Jadi, ini benar-benar terjadi," gumam Alex. Suaranya terdengar lebih berat, lebih berwibawa.
Sebuah layar semi-transparan berwarna emas berkedip di depan matanya.
[Sistem Template Teraktivasi]
[Template Saat Ini: Cheon Ma (Myst, Might, Mayhem)]
[Sinkronisasi: 15%]
[Status: Menunggu Integrasi Fisik dan Mental]
Alex mendengus. "Cheon Ma. Iblis Langit. Dari sekian banyak karakter, aku mendapatkan monster yang bisa meratakan gunung dengan satu pukulan."
Ia memejamkan mata, merasakan aliran Qi yang mulai merayap di pembuluh darahnya. Itu bukan sekadar kekuatan; itu adalah kehendak. Dominasi. Sebuah rasa lapar akan kekuasaan yang mulai mengikis sisa-sisa kepatuhan karyawan kantor dalam dirinya.
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari ujung gang. Suara teriakan remaja perempuan dan dentuman senjata api yang tidak asing lagi.
"Kembalikan tas itu, kalian bajingan!"
Alex mengintip. Tiga siswi dengan seragam sekolah yang dimodifikasi, lengkap dengan halo bercahaya di atas kepala mereka, sedang mengepung seorang gadis yang terpojok di tembok. Gadis yang terpojok itu memeluk tas sekolahnya dengan erat, wajahnya pucat pasi. Para penyerang memegang senapan serbu dengan ekspresi bosan, seolah-olah memalak teman sekolah adalah rutinitas harian yang menjemukan.
"Ayo lah, jangan pelit," ucap salah satu penyerang, seorang gadis dengan rambut merah pendek dan tindikan di telinganya. "Anggap saja ini pajak perlindungan untuk area ini."
"Aku tidak pernah meminta perlindungan kalian!" teriak gadis yang terpojok.
"Oh, tapi kau berada di wilayah kami. Aturannya sederhana: bayar atau kami buat lubang di kakimu."
Alex menghela napas. Ia sebenarnya ingin tetap tidak terlihat, namun sisi moralnya-yang masih tersisa sedikit dari kehidupan sebelumnya-menolak untuk diam saja. Selain itu, ia butuh menguji sejauh mana sinkronisasi 15% ini bekerja.
Ia melangkah keluar dari bayang-bayang.
"Kalian tahu, berkerumun untuk memojokkan satu orang itu terlihat sangat menyedihkan," ucap Alex datar.
Ketiga siswi itu tersentak. Mereka memutar senjata mereka dengan cepat, mengarahkan moncong laras tepat ke wajah Alex. Mereka tertegun sejenak.
"Laki-laki?" gadis berambut merah itu mengerutkan kening. "Sejak kapan ada laki-laki dewasa berkeliaran di distrik ini tanpa pengawalan?"
"Sejak aku memutuskan untuk jalan-jalan sore," jawab Alex. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, bersikap acuh tak acuh.
"Heh, lihat si sok keren ini," ejek gadis kedua, yang memiliki kuncir kuda tinggi. "Hei, Paman. Pergi dari sini sebelum aku memutuskan untuk melihat apakah kepalamu bisa meledak seperti balon."
Alex melirik gadis itu. Matanya tidak sengaja turun ke arah dada gadis itu yang tertekan oleh rompi taktis yang ketat. Sebuah senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
Yah, setidaknya dunia baru ini punya pemandangan yang bagus,* pikirnya.
"Apa yang kau lihat, hah?!" teriak gadis kuncir kuda, menyadari tatapan Alex. Wajahnya memerah karena marah. "Mati saja kau!"
YOU ARE READING
blue archive :ya gitu lah
Fanfictionya gitu lagi apa lagi ,biasa cerita gabut aja ya kan kalau lagi mood akan admin lanjutkan
