"If loving me means saying 'Babe, i think this is the end' Well, i guess. i wish, i wish, i wish you loved me less."
Sebagian orang percaya bahwa cinta pertama adalah kenangan yang perlahan akan memudar seiring bertambahnya usia.
Mereka bilang, waktu akan menghapus nama yang dulu paling sering disebut, mengaburkan wajah yang dahulu begitu sulit dilupakan, lalu menggantinya dengan seseorang yang datang pada waktu yang lebih tepat.
Abigail Rachel tidak pernah mempercayai kalimat itu. Baginya, cinta pertama bukan sesuatu yang harus bertahan selamanya, tetapi sesuatu yang akan selalu hidup sebagai tempat seseorang pulang setiap kali kenangan memanggil.
Ia tidak perlu dimiliki untuk tetap dikenang. Di SMA Global Prestasi, hampir tidak ada siswa yang tidak mengenal Abigail Rachel dan Oline Manuel.
Bukan karena mereka sering menunjukkan kemesraan di koridor sekolah atau sengaja menjadi pusat perhatian. Justru sebaliknya, hubungan mereka tumbuh begitu alami hingga semua orang menganggap keberadaan keduanya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya demikian.
Jika ada Oline di lapangan basket seusai jam pelajaran, beberapa menit kemudian Aralie pasti datang membawa dua botol minuman dingin. Jika Aralie baru keluar dari ruang pembinaan olimpiade dengan wajah lelah setelah berjam-jam mengerjakan soal, Oline sudah lebih dulu menunggu di depan pintu sambil bersandar pada tembok, memegang sekotak susu cokelat yang selalu menjadi favorit gadis itu.
Tidak ada kata-kata romantis yang sengaja dipamerkan. Tidak ada unggahan media sosial yang dipenuhi kalimat manis. Namun seluruh sekolah tahu, cinta mereka setara.
Guru-guru bahkan sering bercanda setiap kali keduanya berjalan berdampingan melewati ruang guru. "Kalau nanti nikah, jangan lupa undang sekolah."
Aralie hanya akan tertawa kecil sambil menundukkan kepala karena malu, sementara Oline mengusap tengkuknya dengan senyum yang tidak pernah gagal membuat teman-temannya bersorak menggoda.
Reaksi mereka selalu sama. Tidak pernah menyangkal. Tidak pernah mengiyakan. Seolah masa depan memang terlalu indah untuk dibicarakan dengan tergesa-gesa.
Hubungan mereka tidak pernah terlihat rumit.
Oline adalah tipe laki-laki yang selalu mengingat hal-hal kecil. Ia tahu bahwa Aralie tidak mengonsumsi gula seperti manusia pada umumnya bahkan gula alami dari buah pun Aralie enggan memakannya. Bagaimana gadis itu akan diam ketika sedang benar-benar lelah, dan bagaimana ia selalu menggigit ujung pulpen setiap kali berpikir.
Sebaliknya, Aralie tahu bahwa Oline selalu lupa sarapan ketika jadwal rapat OSIS terlalu padat dan akan memaksanya makan meski hanya beberapa suap roti sebelum latihan basket dimulai.
"Bi." Begitulah Oline memanggil Aralie sejak tahun pertama mereka berkenalan. Sementara Aralie selalu memanggil Oline dengan satu nama yang terdengar aneh di telinga siapa pun selain mereka. "Coyin."
Setiap kali nama itu terdengar dari kejauhan, Oline akan spontan menoleh tanpa perlu mencari tahu siapa yang memanggilnya. Seakan-akan di tengah ramainya lingkungan sekolah, hanya ada satu suara yang selalu berhasil ia kenali.
Barangkali karena itulah banyak orang menyebut mereka sebagai couple goals. Mereka terlihat saling melengkapi tanpa harus berusaha keras menunjukkan bahwa mereka sedang jatuh cinta.
Namun tidak ada seorang pun yang tahu bahwa hubungan tidak pernah benar-benar diuji ketika semuanya berjalan baik.
Hubungan diuji ketika kehidupan mulai meminta terlalu banyak. Tahun ajaran baru menjadi awal dari semuanya.
SMA Global Prestasi menerima jumlah siswa baru yang jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai Ketua OSIS, Oline hampir tidak pernah melihat meja organisasinya dalam keadaan kosong.
Proposal kegiatan menumpuk di atas meja. Telepon dari guru pembina datang silih berganti. Rapat demi rapat berlangsung hingga sore menjelang malam.
Belum lagi statusnya sebagai ketua ekstrakurikuler basket yang membuatnya harus membagi waktu antara mempersiapkan kompetisi antarsekolah dan membimbing puluhan anggota baru yang masih belum memahami dasar permainan.
Setiap hari terasa seperti perlombaan melawan waktu. Ketika satu pekerjaan selesai, tiga pekerjaan lain sudah menunggu.
Sementara itu, kehidupan Aralie juga berubah menjadi rangkaian target yang tidak kalah melelahkan. Sebagai siswi terbaik sekolah sekaligus langganan juara olimpiade, ia menghabiskan lebih banyak waktu di laboratorium dan ruang pembinaan daripada di kelasnya sendiri.
Seleksi tingkat provinsi, pelatihan nasional, presentasi penelitian, hingga simulasi kompetisi internasional membuat jadwalnya dipenuhi catatan berwarna di setiap halaman agenda.
Semua orang berharap Aralie mampu membawa nama SMA Global Prestasi ke tingkat dunia, dan tanpa sadar harapan itu berubah menjadi beban yang ia pikul setiap hari.
Di tengah kesibukan yang sama-sama mereka pilih, tidak ada pertengkaran besar yang terjadi.
Bukan karena orang ketiga. Hanya dua orang yang sama-sama sedang mengejar mimpi, lalu perlahan menyadari bahwa dua puluh empat jam dalam sehari ternyata tidak cukup untuk menampung semuanya.
Balasan pesan yang dahulu datang hanya beberapa detik setelah dikirim kini berubah menjadi beberapa jam.
Panggilan telepon yang biasanya menemani malam-malam mereka perlahan menghilang karena salah satunya sudah terlelap di atas meja belajar sebelum sempat menekan tombol panggil.
Kencan sederhana sepulang sekolah berubah menjadi janji yang terus-menerus ditunda. Aralie berkali-kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Dan Oline berkali-kali meminta maaf.
Mereka sama-sama percaya bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa setelah olimpiade dan orientasi murid baru selesai, mereka akan punya waktu lagi.
Sayangnya, kehidupan tidak selalu memberi kesempatan kepada seseorang untuk kembali ke tempat yang sama.
Ada kalanya seseorang terlambat menyadari bahwa yang perlahan menghilang bukanlah waktu, melainkan kebiasaan untuk saling hadir.
Dan ketika salah satu mulai merasa kesepian, sementara yang lain sibuk memendam rasa bersalah, cinta yang begitu besar pun perlahan berubah menjadi pertanyaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Dua orang yang saling mencintai begitu dalam, hingga salah satunya percaya bahwa cara terbaik untuk membuktikan cintanya adalah... pergi.
Karena terkadang, yang membuat sebuah hubungan berakhir bukanlah berkurangnya cinta. Melainkan bertambahnya rasa takut bahwa orang yang paling kita sayangi akan terus terluka jika kita tetap tinggal.
YOU ARE READING
Less
FanfictionSometimes, loving someone means choosing to become the reason they cry today, so they don't keep crying tomorrow. Mereka tidak berpisah karena berhenti saling mencintai. Mereka berpisah karena salah satunya percaya bahwa cinta seharusnya tidak menya...
