Episode 1: Perkara Es Kopi dan Ego Setinggi Langit

23 5 2
                                        


Jadwal *shooting* konten grup baru saja selesai pukul sebelas malam. Semua member Seventeen langsung berhamburan masuk ke mobil jemputan masing-masing dengan sisa tenaga yang kritis. Di dalam mobil menuju *dorm*, Kim Mingyu sudah menekuk wajahnya dalam-dalam. Bibirnya mengerucut sekitar lima senti, matanya menatap lurus ke luar jendela mobil, sengaja mengabaikan Lee Dokyeom yang duduk tepat di sebelahnya.

Dokyeom, yang aslinya juga sudah lelah lahir batin, melirik pacarnya itu dari sudut mata. Dia menghela napas pelan. *Mulai lagi,* pikirnya.

Begitu mereka sampai di *dorm* dan member lain langsung melesat ke kamar masing-masing untuk mandi atau tidur, Mingyu berjalan dengan hentakan kaki yang sengaja diredam tapi tetap terdengar berat. Dia langsung melempar jaketnya ke sofa ruang tengah, mendudukkan badannya yang bongsor dengan kasar, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar visualisasi nyata dari anak TK yang tidak dibelikan mainan baru.

Dokyeom menutup pintu *dorm* pelan, menaruh tasnya, lalu berjalan mendekati sofa. Sifat sabarnya malam ini sedang tersisa sekitar empat puluh persen.

"Gyu," panggil Dokyeom lembut, mencoba menurunkan egonya duluan. "Kenapa lagi? Hm? Dari tempat *shooting* tadi muka kamu udah kayak cucian belum diperas."

Mingyu tidak menyahut. Dia malah memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, memunggungi Dokyeom.

"Kim Mingyu," panggil Dokyeom lagi, kali ini nadanya sedikit lebih tegas tapi masih terkontrol. "Jangan kayak anak kecil deh. Kalau ada apa-apa tuh ngomong, jangan diem-diem ngambek gini. Aku capek, mau mandi terus tidur."

"Ya tidur aja sana! Nggak usah peduliin aku!" akhirnya si raksasa bersuara, tapi nadanya ketus sekali.

Dokyeom memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Gimana mau tidur kalau kamunya begini? Masalahnya apa, Gyu? Tadi pas *games* aku ada salah ngomong? Atau pas di ruang *makeup*?"

Mingyu berbalik dengan cepat, matanya menatap Dokyeom dengan tatapan menuduh yang berapi-api. "Kamu tadi ngasih es kopi sisa kamu ke hyeong line! Ke Shua-hyeong!"

Dokyeom mengerjapkan matanya, bingung setengah mati. "Hah? Perkara es kopi?"

"Itu es kopi yang aku beliin buat kamu sebelum kita berangkat tadi siang, Lee Dokyeom! Aku antre mesenin itu karena tahu kamu suka yang manis," suara Mingyu meninggi, tapi nadanya lebih ke arah merengek frustrasi daripada marah yang menyeramkan. "Terus dengan gampangnya kamu tawarin ke orang lain? Berbagi sedotan? Kamu bahkan nggak nawarin ke aku lagi!"

Nah, di sinilah batas kesabaran Dokyeom yang tinggal sedikit itu langsung terkikis habis. Emosinya yang gampang tersulut kalau lagi capek akhirnya naik ke permukaan.

"Astaga, Kim Mingyu! Cuma karena itu?!" Dokyeom berdiri, berkacak pinggang sambil menatap Mingyu dengan mata melotot. "Shua-hyeong tadi kehausan banget karena kopi dia ketinggalan di mobil staf! Dan kopi aku masih sisa setengah, daripada mubazir ya aku tawarin! Kita ini satu grup, udah sepuluh tahun bareng-bareng, perkara berbagi sedotan sama hyeong sendiri aja kamu permasalahin? Kekanak-kanakan banget tahu nggak?!"

Mingyu tersentak mendengar bentakan Dokyeom. Sifat sensitifnya langsung bereaksi. Bukannya sadar, dia malah makin terluka dan makin menjadi-jadi ngambeknya. Matanya mulai berkaca-kaca-efek beneran sedih sekaligus kesal.

"Oh, jadi sekarang aku kekanak-kanakan? Aku cuma mau apa yang aku kasih ke kamu itu dihargai, Kyeom! Aku beliin itu pakai perhatian aku buat kamu. Tapi kamu malah lebih mentingin orang lain," ucap Mingyu dengan suara yang bergetar menahan tangis. Dia langsung berdiri dari sofa, tubuhnya yang jauh lebih besar dari Dokyeom membuat bayangannya menutupi pacarnya itu. "Terserah! Malam ini aku tidur di kamar sebelah. Jangan cari aku!"

Love, Tantrum, and Everything in BetweenStories to obsess over. Discover now