Dibalik kaca kantor

15 2 0
                                        

Udara di lantai 42 kantor Sastradinata Group selalu terasa lebih tipis, dingin, dan menekan. Pagi ini Valerian Sastradinata atau sering disebut Pak Valerian. Merasakan oksigen di ruangan itu menghilang sepenuhnya saat pintu ruang kerjanya terbuka.

Klekk

Kaluna Hapsari melangkah masuk.
Wanita itu mengenakan blus berbahan sutra berwarna champagne yang jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuh, dipadukan dengan rok pensil hitam mempertegas langkahnya yang anggun.

Bahan sutra halus hampir transparan jika terkena bias cahaya dari jendela besar di belakang meja Valerian. Setiap kali Kaluna bergerak, kain itu seolah memeluk tubuhnya dengan cara yang membuat fokus Valerian pecah berantakan.

Valerian tidak mendongak dari dokumen di hadapannya. Mencengkeram erat pulpen perak di tangannya.

"Tahan dirimu! Dia hanya seorang assiten" gumam Valerian dalam benaknya sendiri.

"Laporan kuartal ketiga, Pak," suara Kaluna tenang, profesional, dan sialnya terdengar begitu manis di telinga Valerian.

Kaluna mendekat meletakkan dokumen itu di atas meja kayu ek yang lebar. Aroma parfum sandalwood bercampur melati menguar, masuk ke celah-celah pertahanan Valerian.

Valerian akhirnya tak kuasa untuk tidak mendongak. Sorot matanya sedingin es, namun mata itu tak bisa berbohong sedang mencuri pandang pada kerah blus Kaluna yang sedikit terbuka, memperlihatkan garis leher yang jenjang.

"Apa ini?" Valerian bertanya, suaranya berat, rendah, dan penuh intimidasi yang sengaja di buat-buat.

Kaluna mengerutkan kening.

"Laporan proyek Sastradinata, Pak. Seperti yang anda minta kemarin sore."

Valerian menutup dokumen itu dengan kasar, lalu menatap langsung ke mata Kaluna. Memajukan tubuh memperpendek jarak di antara mereka hingga Kaluna bisa merasakan deru napas sang CEO.

"Bukan itu yang saya tanyakan, Kaluna," gumam Valerian.

Kaluna terdiam. Jantungnya berdegup kencang, sebuah irama yang sangat dibencinya tahu si bos bisa mendengarnya.

"Maaf, Pak? Saya tidak mengerti."

Valerian bangkit dari kursinya. Postur tubuh tinggi membuat ruangan itu terasa semakin sempit bagi Kaluna. Pria itu berjalan memutari meja, berhenti tepat di samping si wanita cantik. Hingga tercium aroma kulit Kaluna yang hangat.

"Pakaianmu?" Bisik Valerian, suaranya nyaris seperti geraman tertahan.

"Sejak kapan aturan berpakaian di perusahaan ini berubah menjadi sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian?"

Kaluna tersentak pipinya pun memanas.

"Saya berpakaian secara profesional, Pak. Ini standar Sastradinata."

Valerian memiringkan kepala, menatap Kaluna dengan tatapan liar yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng perfeksionisnya. Reflek mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh bahu Kaluna, namun ia mengurungkannya di udara mengepalkan tangannya kembali.

"Profesional? Haha" Valerian tertawa kecil dengan tawa yang tidak mencapai matanya.

"Jika tujuannya adalah membuat pria di ruangan ini lupa bagaimana cara bekerja, maka kamu berhasil melakukannya"

"Saya hanya bekerja, Pak," jawab Kaluna, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meski kakinya terasa lemas.

"Ohh! Benarkah?" Valerian mendekatkan wajah ke telinga Kaluna.

"Kalau begitu, bekerjalah dengan baik. Jika kamu menatapku seperti itu lagi, aku tidak yakin akan bisa menjaga etika profesional yang selalu kubanggakan di depanmu."

Dibawah cengkraman CEO dingin Stories to obsess over. Discover now