Teriakan serempak dari beberapa murid lelaki yang sedang bermain sepak bola itu memecah suasana pagi. Pemuda berambut blonde yang terakhir kali memasukkan bola ke gawang itu tersenyum puas sembari menyisir surainya ke belakang.
Jenandra Abinaya, cowok itu duduk di pinggir lapangan dan teguk air mineralnya sampai habis tak bersisa. Ini masih pagi, tapi keempat belas anak itu sudah membuat rambut mereka basah.
"JENAANNN! LO GANTENG BANGET, SIIIH."
Jeritan-jeritan histeris para cewek yang menonton pertandingan antarsiswa kelas sebelas tadi terdengar saling menyahut, sedangkan si empu nama hanya terkekeh seolah sudah terbiasa. Beberapa siswi masih sibuk mengangkat ponsel meski pertandingannya sudah usai. Rupanya mereka masih merekam Jenan yang sedang mengibas-ibaskan jerseynya untuk mengusir rasa gerah.
Jenan mengembuskan napas dan mengusap peluh. Pandangannya berkeliling ke arah deretan penonton yang masih memperhatikannya, bahkan sesekali mengambil foto dirinya.
Pundak Jenan ditepuk dari samping, buatnya menoleh dan dapati pria berpipi tembam yang cukup mungil berdiri disana. Dengan senyum lebar tampilkan deretan gigi yang rapi, ia berucap, "Congrats, bro. Lo berhasil bikin anak-anak itu meleyot lagi pagi ini."
"Apaan, sih, lo. Lebay, deh, Dji."
Pemilik nama lengkap Hanadji Aditama itu tertawa renyah. Netranya tak sengaja tangkap seorang perempuan yang duduk di barisan penonton tetapi tangannya sibuk memegang ponsel-bukan perhatikan ke empat belas lelaki yang baru selesai mandi keringat.
"Jen, di kelas sebelah ada murid akselerasi baru tau," Hanadji membuka topik. Jenan yang tadi sedang meminum air mineral kontan menghentikan gerakan. Ikuti arah pandang Hanadji, sudut bibir kiri ia naikkan sedikit.
"Gue penasaran sama anaknya, deh, Dji."
Hanadji mengarahkan ekor matanya kepada insan di samping, terkekeh pelan kemudian, "Jenan, lima belas tahun lo idup, ini pertama kalinya gue liat lo jatuh cinta."
"Gue gak jatoh cinta, ya. Gue penasaran doang, Hanadji!" kesal Jenan, senggol lutut Hanadji dengan sikunya sampai lelaki mungil itu hampir terjatuh. Jenan kemudian menengadah, tatap langit yang mulai berwarna biru cerah dan bergumam, "Lagian, gue udah pernah ngerasain sebelumnya."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Tumben lo kesini?" Jenan mengerutkan kening saat lihat Hanadji datangi bangku yang sedang ia duduki. Di hadapannya, sebuah sketchbook terbuka dengan beberapa goresan pensil yang belum selesai.
Temannya, Hanadji, biasa menghabiskan waktu di ruang kesehatan. Letaknya di depan perpustakaan. Ia bisa mendapatkan sinyal WiFi yang cukup kuat dari sana.
"Lagi ada yang istirahat di UKS," jawab Hanadji dengan kedua sudut bibir ditarik ke samping. Pemuda di hadapan tertawa pelan, "Lo gak bosen?"
"Ya enggak, Dji. Ini earphone gue nyala, gue juga kadang tidur disini kalo capek," jawab Jenan, tersenyum tipis sembari menggulir layar, "Gue juga, kan, gak melulu gambar. Kadang sama kayak lo, make WiFi buat relax-in pikiran."