Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Selayang Pandang

37 3 0
                                        

Better with "Bawalah Pergi Cintaku" by Afgan.

-------

Hujan memercik tanpa ragu hari itu, membasahi pandangan Jungsoo yang kini tengah berdiri dibawah kanopi gedung pernikahannya. Ia ditemani dengan segelas kopi hitam hangat tanpa sejumput pun pemanis diantara sesapnya. Angin merangsek ke sela jas nya, ikut memenuhi hatinya yang terasa lebih berat dari hari-hari manapun.

"Kopi mu masih kopi hitam tanpa gula, ya?" Suara itu meremukkan sunyi di sekitar keduanya. Kim Heechul berdiri dengan tenang, jas navy nya basah diantara bahu, pipi nya mungkin sama beberapa saat yang lalu.

Ia mengambil langkah mendekat, pelan seolah jika ia terlalu cepat datang Jungsoo akan pergi lebih jauh lagi. Keduanya kini hanya berjarak satu langkah dari satu sama lain, cukup dekat untuk saling memandang, cukup jauh untuk berharap kembali. Gelas kertas ditangan Jungsoo bergetar pelan saat tangannya mencengkram lebih erat, mencoba menyalurkan karut marut dalam kepalanya. Jungsoo menunduk dalam, belum sanggup atau tak akan pernah sanggup menatap Heechul, seseorang yang dulu ada dalam mimpi yang akan ia laksanakan hari ini.

Jungsoo sudah lebih dari sering membayangkan akan seperti apa rupa Heechul saat pernikahannya nanti. Hari ini, dengan jelas Heechul berdiri didepannya, dengan setelan jas yang rapih, rambut sebahu dan cantik yang tak pernah lekang dari wajahnya. Hari-hari berjalan dengan rapuh, dan bayangan tersebut memudar, berganti dengan wajah baru.

"Kamu gak bosen emang minum itu terus?" Heechul bertanya dengan pelan, mengambil tempat disamping Jungsoo. Kini keduanya memandang hujan yang semakin deras, seolah mengejek sesuatu dalam diri mereka masing-masing.

Jungsoo mengangkat gelas nya, mencoba menyesap kembali kopi nya meski dengan tangan yang gemetar dan pandangan yang kosong, "dari dulu aku udah terbiasa sama rasa pahitnya," satu sesap menghantar hela lainnya, "jadi aku gak akan ninggalin sesuatu yang udah nemenin aku dari lama."

Heechul menunduk dalam, meremas tangannya sendiri kuat-kuat saat dia berusaha membalas kalimat Jungsoo. Buku-buku jarinya memutih saat tawa lepas dari bibirnya, bukan karena percakapan mereka lucu, namun karena ia sudah terlalu payah menahan sesak didadanya selama ini.

"Kamu emang selalu lucu dari dulu," Jungsoo akhirnya mulai menoleh, "kamu bilang gak akan ninggalin sesuatu yang udah nemenin kamu dari lama.." kini netra keduanya saling bertemu, membawa duka yang kian lapuk tersimbah hujan.

"Padahal yang pertama kamu tinggalin itu aku."

Kalimat itu terucap begitu pelan, hampir habis diterbangkan angin. Jungsoo mematung, tak berani mengucapkan sepatah kata lainnya. Hanya suara hujan yang memantul pada kanopi jua suara kendaraan yang sesekali melintas. Anehnya, ditengah segala bising itu, yang paling jelas terdengar justru kenangan-kenangan yang selama ini terlupakan, atau memang sengaja mereka lupakan.

Tetesan hujan dari atas kanopi menghantam aspal dengan irama yang sama. Irama yang pernah mengiringi dua mahasiswa yang tengah menyusuri jalanan ditemani satu payung kecil.

"Pelan-pelan dong, Jungsoo, aku takut jatuh." Heechul mencoba mengambil tempat dibawah payung kecil berwarna biru gelap yang jelas tak cukup untuk keduanya.

Jungsoo kemudian memindahkan payung tersebut ke tangan kirinya. Dengan cepat, tangan kanan miliknya menyambut milik Heechul, menggenggam sahabatnya itu erat, memberi rasa aman juga hangat diantara debar hujan yang semakin deras.

"Ih, kok dikasihin ke aku semua payung nya?!" Heechul mendongak melihat payung yang menutupi pucuk kepalanya, sedangkan Jungsoo sudah basah kuyup sedari tadi.

Jungsoo tidak menjawab, tidak pula memindahkan posisi payung tersebut. Langkahnya pelan sembari menuntun Heechul ke minimarket terdekat. Heechul buru-buru mengeluarkan sapu tangan dari kantung celana nya, mengusap wajah Jungsoo pelan namun penuh kekhawatiran.

Senyum Jungsoo mengembang pelan, merasakan lembut sentuhan Heechul yang mencoba mengeringkan kepalanya dengan selembar sapu tangan yang mereka beli bersama beberapa hari yang lalu. "Sapu tangan sekecil itu mana mempan sih, Chul."

"Ya makanya kamu, ada payung tapi gak dipake." Heechul melempar sapu tangan berwarna putih gading tersebut ke wajah Jungsoo dengan kesal. Sementara yang dimarahi sedari tadi senyum nya belum luntur juga.

"Payung nya kecil, Heechul ku, pas nya di kamu doang." Heechul yang mendengar panggilan tersebut mencebik, buru-buru masuk kedalam minimarket dibelakang mereka, mencoba mengabaikan degup jantungnya yang perlahan semakin cepat.

Tak lama kemudian Heechul keluar, kembali menghampiri Jungsoo yang sedang betah memandangi hujan yang entah kapan akan reda. Di tangan Heechul ada segelas teh hangat miliknya, dan juga kopi hitam pahit kesukaan Jungsoo. Kopi tersebut terulur pelan, disambut senyum oleh Jungsoo. Pahitnya tidak pernah berubah, bahkan saat senyum tersebut tak lagi hadir.

"Kalau aku minta kamu jangan nikah, kamu bakal pulang ke aku lagi kah?" Tanpa jawaban yang jelas dari Jungsoo pun, Heechul jelas tau dimana posisinya kini.

Di dalam gedung tersebut, doa-doa mengalir deras, harapan memenuhi langit-langit, dan seorang wanita bergaun cantik kini tengah menunggu Jungsoo dengan senyum yang hangat, berbeda jauh dengan dingin yang memeluk Heechul diluar sini.

"Coba lima tahun yang lalu kamu bilang hal yang sama.. Mungkin hari ini altar ku menuju nya ke kamu, Chul." Hujan menolak untuk berhenti, belum ingin menyadarkan keduanya pada masa kini yang jelas tak bisa dimiliki bersama.

"Dingin, Jungsoo." Kalimat tersebut pelan diterbangkan angin yang menubruk dirinya, jauh menusuk kedalam.

Jungsoo menutup jarak diantara keduanya, tangannya menyambut pinggang Heechul, menolak sendu ikut campur. Tak ada tangis kencang yang ikut mengiringi, hanya nafas yang bergetar dibahu satu sama lain. Jungsoo masih hapal betul bagaimana menyambut cintanya meski tahun-tahun berlalu layu.

"Harusnya aku gak pernah pergi dari sini, Jungsoo."

"Harusnya."

Penyesalan tersebut selayak daun kering gugur yang terinjak pula diterbangkan angin, sia-sia. Gelap di langit belum tandas, dekap tersebut juga belum tuntas sebelum suatu suara menginterupsi. "Pak Jungsoo, lima menit lagi mulai ya."

Detik berjalan dengan lambat, menghanyutkan peluk Jungsoo dalam air mata yang menggenang di pelupuk Heechul. Meski enggan, Heechul akhirnya berjalan mundur, merelakan Jungsoo sebagaimana ia harus. Tangannya bergerak pelan merapihkan dasi hitam yang dipakai Jungsoo, kemudian menyeka air matanya sendiri.

Jungsoo memandang bayang Heechul yang semakin kecil, menjauh bersama mimpi-mimpi yang dulu pernah ia bangun dalam kepalanya. Sekali lagi, sebelum ia benar-benar masuk dan mengucap janji, ia mengusap air matanya yang lolos dengan sapu tangan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. Jungsoo kemudian mengangkat tangannya, melepas benda tersebut, membiarkan sapu tangan itu terbang menjauh bersama Heechul sementara ia masuk kedalam gedung, melanjutkan hidup.

TAMAT.






Gita Buana (Teukchul)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang