Sejak ayahnya kembali menikah, Jay Radchapon Phornpinit tidak pernah lagi merasa betah berada di rumah. Perempuan yang seharusnya bisa menjadi saudara justru hadir sebagai ibu tiri dengan rentang usia mereka yang hanya berjarak lima tahun. Oleh seba...
Aku hadir dengan fanfic NetJJ, tapi latar ceritanya di Indonesia dengan ragam bahasa keseharian di sini tentunya. Semoga kalian suka, ya. :)))
Khop khun maak...
***
SUARA TEMBAKAN DAN TERIAKAN menjadi senandung yang membangunkan Net dari tidur lelapnya. Di luar sana, hujan sedang turun sangat deras. Lelaki yang baru berusia awal dua puluhan itu bergegas mengambil pistol yang tersimpan di dalam laci rahasia di dalam nakas, membuka pintu kamarnya pelan-pelan, lalu berderap ringan menuju arah tangga. Ada genangan darah di bawah sana. Net takut menerka-nerka. Deru napasnya semakin memburu saat pijakan sudah berada pada tiga anak tangga terakhir.
"Jangan serakah kamu, Dom! Papa nggak pernah memberikan harta untuk dihambur-hamburkan demi kepuasan judi dan bermalam dengan banyak perempuan! Ingat keluarga kamu, Dom!"
Itu suara kakeknya, terdengar berang dan bergetar, Net menurunkan pistol yang sejak tadi berada di depan dada untuk berjaga. Namun, sekali lagi suara tembakan terdengar, membuat pistol tadi kembali dinaikkan dalam posisi siaga. Teriakan dari suara putus-putus karena tangis semakin jelas menusuk pendengaran Net. Dari pantulan lemari kaca, tubuh renta kakeknya tergeletak mengeluarkan darah dari kening. Sementara Dom, kembaran dari ayahnya, berdiri dengan pistol yang masih teracung ke bekas kakeknya berdiri. Berjarak tidak jauh dari sana, ada Tony, ayahnya yang terbaring dengan darah mengalir dari kaki, sedangkan yang menangis dengan suara putus-putus adalah ibunya, Trishania.
"Siapa lagi yang mau kamu bunuh, Mas?! Siapa?!" Trishania menjerit pilu. "Ambil semua harta yang kamu mau. Ambil! Kami nggak butuh itu semua!"
Net tidak mau mendengar lebih banyak. Dia menampakkan diri dengan pistol yang teracung pada Dom. Namun, rupanya ada tiga orang lelaki tidak dikenal yang menemani pamannya itu. Net tidak melihat mereka dari pantulan lemari kaca. Kini ada empat pistol terarah pada Net. Genangan darah yang dia lihat dari atas tadi rupanya berasal dari salah seorang penjaga yang biasa mengawal Tony.
"Net, kamu nggak perlu ikut campur. Om nggak mau menyakiti kamu." Dom mengedik agar Net menurunkan pistolnya. "Karena orang tua kamu nggak mau menunjukkan letak surat-surat, maka cepat kamu bawa Om ke sana."
Net melirik Trishania yang tertunduk memeluk Tony. Ayahnya itu masih sadar, namun tampak sekarat. Lelaki itu bergeleng padanya.
"Ayo, Net, Om janji ini nggak akan memakan waktu lama!"
Net seperti tuli. Telinganya tidak bisa mendengar apa pun. Hanya matanya yang terfokus pada Dom dan tiga lelaki berbadan besar di belakangnya. Dalam kepalanya, dia sudah berteriak agar segera menarik pelatuk. Namun, rasanya begitu keras dan dia tidak sanggup untuk bergerak. Seperti ada yang membekukannya. Perlahan, hanya ada suara deru napasnya yang semakin berat dengan pandangan semakin buram, dan tangan yang gemetar hendak menarik pelatuk.
"Net, cepat! Om nggak punya banyak waktu." Dom kembali mengedikkan kepala agar dituntun ke ruang penyimpanan surat berharga.
Salah seorang penjaga hendak maju, namun suara tembakan beruntun kembali terdengar. Net jatuh terduduk, genangan darah membanjiri sekitar. Rasanya seperti tidak ada oksigen, namun dia masih berusaha mengemis udara. Ketakutan, amarah, dan merah di mana-mana; membuat Net tidak bisa bernapas dengan benar.
"Tuan Net? Tuan dengar saya?"
Tepukan di pipi dan guncangan di bahu mengembalikan pendengaran yang sebelumnya berdenging keras. Net mendapati salah seorang kepercayaan kakeknya berjongkok panik melihat keadaannya. Dia kembali duduk, memperhatikan sekitar. Tiga orang bersama Dom sudah terkapar, namun pamannya itu entah ke mana. Sudah ada orang lain bersama mereka, mengangkat dua jenazah dan tubuh Tony yang semakin kritis. Sementara Trishania sudah berlari mengikuti mobil yang akan membawa ketiga tubuh tadi ke rumah sakit.
"Om Dom?" Akhirnya suara Net keluar meski tercekat.
"Kabur. Saya salah sasaran, yang terkena tembakan justru tangan beliau."
Net mengangguk. Masih diserang panik dan trauma. Ada pistol terjatuh di dekat kakinya—yang dia yakini punya Dom tadi, sebab pistol miliknya masih berada dalam genggaman.
***
JAY RADCHAPON PHORNIPIT TIDAK BISA memejamkan mata. Guntur kembali menggelegar di luar sana. Seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu, tetapi insomnia kembali menyerang. Padahal besok ada ulangan harian. Meski sedikit bandel, Jay tetap ingin mendapatkan nilai bagus. Setidaknya dia ingin membuat bangga ibunya yang telah berpulang dua tahun lalu. Turun dari ranjang, Jay berdiri di tepi jendela. Memandang jauh ke tengah kegelapan malam.
"Ck. Alam aja ngasih kode kalau mereka nggak jodoh." Jay bukan mengatai mendiang ibunya, melainkan pernikahan kedua ayahnya yang berlangsung tadi siang—yang pestanya terpaksa cepat selesai karena hujan mengguyur bumi.
Jay tidak menyukai Melissa, istri baru ayahnya yang hanya lebih tua lima tahun darinya. Dia tidak sudi harus memanggil perempuan dua puluh tiga tahun itu dengan sebutan mama—yang benar saja!
Lagipula Jay yakin dan percaya bahwa Melissa tidak mencintai ayahnya, melainkan harta yang dimiliki oleh keluarga mereka. Tanah perkebunan sekian ratus hektar, kontrakan dan indekos sekian pintu, tidak lupa peternakan yang dikelola oleh perangkat desa setempat. Tidak mungkin Melissa jatuh cinta secara cuma-cuma pada lelaki yang tiga tahun lagi berusia lima puluh tahun.
"Lihat aja. Bakal gue bikin nggak betah lo di rumah ini," tekad Jay berapi-api.
***
Cerita ini untuk 18 tahun ke atas, ya. :))
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
JAY RADCHAPON PHORNIPIT
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.