Bab 1: Titik Beku dan Secangkir Matcha

8 2 1
                                        

Malam di ibu kota tidak pernah benar-benar tidur, tetapi bagi Altha Valerius Serpent, malam hanyalah perpanjangan dari jam kerja yang tanpa akhir.

Dari balik kaca jendela antipeluru mobil Rolls-Royce Phantom miliknya, lampu-lampu kota berkelebat seperti garis-garis cahaya yang buram. Altha menyandarkan punggungnya pada jok kulit premium yang didesain khusus untuk kenyamanan tulang belakangnya. Di pangkuannya, sebuah iPad Pro menampilkan grafik saham kuartal terakhir dari Serpent Holdings Co. Angka-angka berwarna hijau melesat naik, sebuah bukti nyata dari tangan dinginnya yang tak pernah gagal mengeksploitasi celah pasar.

Bagi dunia bisnis, Altha adalah definisi nyata dari kata 'Alpha'. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia telah memegang kendali penuh atas imperium bisnis yang dibangun oleh kakeknya. Ia dikenal berdarah dingin, tak tersentuh, dan selalu menuntut kesempurnaan. Dalam kamus hidup Altha, tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada waktu untuk ragu, dan yang paling penting: tidak ada tempat untuk emosi sepele seperti romansa. Hidup adalah tentang kalkulasi, dominasi, dan kemenangan.

"Nona Muda Altha," suara berat sang sopir pribadi, Januar, memecah keheningan kabin mobil yang kedap suara. "Indikator suhu mesin mendadak naik drastis. Ada peringatan sistem pada transmisi."

Altha tidak langsung mendongak. Jemarinya yang panjang dan dihiasi cincin meterai keluarga Serpent masih menggulir layar. "Bisa bertahan sampai kita tiba di penthouse?"

"Sangat berisiko, Nona. Asap mulai keluar dari kap depan. Saya harus menepi sekarang juga demi keselamatan Anda."

Altha menghela napas pendek, sebuah tanda kejengkelan yang sangat halus namun cukup untuk membuat atmosfer di dalam mobil mendadak mencekam. Ia mematikan iPad-nya, lalu melirik ke luar jendela. Mereka berada di pinggiran distrik komersial, sebuah kawasan tua yang jarang dilalui oleh kalangan kelas atas seperti dirinya. Jalanan di sini sempit, diapit oleh bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang mulai kusam.

"Menepilah," perintah Altha dingin.

Januar dengan cekatan mengarahkan mobil seberat lebih dari dua ton itu ke bahu jalan yang agak lengang. Tepat saat mobil berhenti sempurna, kepulan asap putih yang tipis mulai membubung dari sela-sela kap mesin. Januar segera turun dengan payung di tangan-karena rintik gerimis mulai membasahi bumi-dan membukakan pintu untuk Altha.

Altha melangkah keluar. Sepatu Oxford kulit buatannya menginjak aspal yang basah. Udara malam yang dingin segera menusuk setelan jas tiga potong yang dikenakannya, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar es. Ia melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya. Pukul sebelas malam lewat lima belas menit.

"Berapa lama mekanik akan sampai di sini?" tanya Altha, suaranya bariton dan berwibawa, tipe suara yang biasa membuat para direktur di ruang rapat berkeringat dingin.

Januar yang sedang memeriksa ponselnya tampak tegang. "Pihak layanan darurat Serpent Holdings sedang mengirimkan mobil pengganti dan truk derek, Nona. Namun, karena ada kecelakaan beruntun di jalan tol utama, mereka memperkirakan waktu tempuh sekitar empat puluh lima menit."

Empat puluh lima menit. Bagi Altha, waktu sepanjang itu bisa menghasilkan jutaan dolar. Menunggunya di pinggir jalan yang sepi dan basah seperti ini adalah penghinaan terhadap efisiensi waktunya.

"Saya akan menunggu di dalam," kata Altha, matanya menyapu sekeliling mencari tempat yang layak.

Sebagian besar toko di jalan ini sudah tutup dan gelap. Namun, tepat di seberang tempat mobil mereka mogok, sebuah cahaya kuning hangat berpendar dari sebuah kedai kecil. Di atas pintunya, terdapat papan kayu gantung bertuliskan nama dengan guratan kuas yang rapi: Café Carousel.

Altha mengerutkan kening. Itu jelas bukan tempat yang biasa ia kunjungi. Ia terbiasa dengan restoran bintang lima dengan reservasi khusus atau bar privat yang hanya bisa diakses oleh segelintir elite. Kafe ini tampak terlalu bersahaja, bahkan cenderung ringkih. Namun, rintik gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan deras tidak memberinya banyak pilihan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 04 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Alpha's Soft SpotStories to obsess over. Discover now