Di salah satu sudut pangkalan kelas menengah yang sepi, di bawah bayang-bayang pohon besar yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin sore, Yorzu duduk bersila di atas rumput. Rambut putihnya yang liar dan berduri seperti Super Saiyan menyembul ke segala arah, sementara telinga kucingnya yang halus bergerak-gerak mengikuti setiap suara kecil di sekitar. Matanya yang biru cerah menyipit penuh kenikmatan saat ia menggigit ikan bakar besar yang masih mengepul.
"Mmm... yang ini enak banget," gumamnya dengan mulut penuh, ekornya yang panjang dan halus bergoyang-goyang bahagia. "Misi? Apa itu? Lebih baik makan Ikan gini cuma muncul sekali sebulan, masa aku lewatin?"
Yorzu baru saja hendak menggigit suapan besar berikutnya ketika sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya matahari.
"Yorzu."
Suara itu datar, tapi tegas. Yorzu langsung tersedak. Ia menoleh perlahan, dan di sana berdiri Keizra-kakak angkatnya yang murni Saiyan. Tubuhnya tegap dengan armor kelas menengah yang sudah agak usang tapi tetap terawat. Rambut hitamnya yang pendek dan mata tajamnya menatap Yorzu tanpa berkedip.
"Eh... Kak Keizra!" Yorzu tersenyum lebar, tapi telinganya merapat ke kepala. "K-kamu... lagi apa di sini? Aku kira kakak lagi latihan di lapangan selatan!"
Keizra melipat tangan di dada. "Aku yang seharusnya bertanya. Pod-mu sudah siap dari tiga puluh menit lalu. Komandan sudah dua kali bertanya kenapa anggota timnya belum muncul. Dan kamu... malah makan ikan. Lagi."
Yorzu meletakkan ikannya dengan cepat, tangannya yang berkuku tajam terangkat seolah menyerah. "Ini bukan sembarang ikan, Kak! Ini ikan laut biru impor dari planet selatan. Rasanya... seperti surga! Aku cuma butuh lima menit lagi. Janji! Habis ini aku langsung-"
"Sudah seratus kali kamu bilang 'lima menit lagi'," potong Keizra datar. Ia melangkah mendekat dan menarik kerah baju Yorzu dengan satu tangan. "Bangun. Kita berangkat sekarang."
"Eeeh! Tunggu dulu!" Yorzu memberontak, kakinya menggaruk-garuk tanah. "Kak, dengar dulu alasan aku kali ini! Aku... aku lagi sakit perut! Iya, sakit perut karena terlalu bersemangat latihan kemarin. Kalau aku naik pod sekarang, bisa-bisa aku muntah di dalam dan merusak sistemnya! Kasihan kan teknisi yang harus bersihin-"
Keizra hanya mendengus. "Alasan nomor tujuh belas. Sudah hafal."
Yorzu panik. Ia mencoba memeluk kaki kakaknya. "Atau... atau aku lagi musim kawin! Iya, sebagai setengah kucing, aku harus-"
"Cukup." Keizra menarik Yorzu berdiri dengan mudah. Meski Yorzu juga kuat, perbedaan pengalaman dan disiplin membuatnya tak berdaya. "Kalau kamu masih bandel, aku akan lapor langsung ke Kaizra."
Seketika itu juga, Yorzu membeku. Bulu kuduknya berdiri. Telinganya menempel rata ke kepala.
"K-Kaizra...?" suaranya mengecil jadi bisikan ketakutan. Kakak perempuan mereka yang paling tua itu adalah prajurit elite dengan reputasi disiplin besi. Satu tatapan Kaizra saja biasanya sudah membuat Yorzu ingin mengubur diri.
Keizra mengangguk pelan. "Dia bilang minggu lalu kalau kamu kabur lagi dari misi, dia sendiri yang akan 'mendidik' kamu selama satu bulan penuh. Tanpa hari libur. Tanpa ikan."
Yorzu langsung ciut. "Hiks... oke... aku ikut..."
Dengan wajah cemberut yang sangat kentara, Yorzu diseret Keizra menuju area peluncuran. Ia terus melirik ikan yang tertinggal di rumput dengan tatapan sedih.
Sesampainya di dalam pod masing-masing, Yorzu duduk di kursi pilot dengan tangan terlipat dan bibir manyun. Ekornya menyapu lantai pod dengan gerakan kesal.
"Dingin... sempit... dan ikanku belum habis," gerutunya pelan.
Scouter di telinganya berbunyi. Layar kecil menyala, menampilkan wajah Keizra yang sudah duduk di pod sebelahnya.
"Hei, adik kecil," kata Keizra dengan nada yang sedikit lebih lembut. "Misi ini sebenarnya tidak sulit. Hanya membersihkan sarang bajak laut di asteroid dekat sini. Cepat selesai, cepat pulang."
Yorzu mendengus. "Mudah buat Kakak bilang. Kakak nggak ninggalin ikan enak di rumput."
Keizra tersenyum tipis-jarang sekali ia tersenyum. "Begini. Kalau misi kita lancar dan target selesai dalam waktu standar, aku akan belikan kamu satu ember penuh ikan laut biru. Segar. Langsung dari pasar malam."
Mata Yorzu langsung melebar. Telinganya berdiri tegak. Ekornya berhenti bergerak dan kemudian bergoyang cepat penuh semangat.
"Satu ember?!" ulangnya, suaranya naik satu oktaf. "Beneran, Kak? Yang besar? Yang ada ikan-ikan gemuknya itu?"
"Ya. Satu ember besar. Tapi hanya kalau kamu tidak kabur di tengah jalan dan menyelesaikan tugasmu dengan benar."
Yorzu langsung mengepalkan tangan, senyum lebar penuh taring kecilnya muncul. "Deal! Aku akan hancurkan bajak laut itu dalam sepuluh menit! Bahkan sebelum Kakak sempat bilang 'Serang'! Siap-siap lihat aku beraksi, Kak Keizra!"
Keizra menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Itu baru adikku. Pod akan diluncurkan dalam tiga... dua... satu..."
Dua pod melesat ke angkasa bersamaan, meninggalkan jejak cahaya biru di langit sore. Di dalam podnya, Yorzu tidak lagi cemberut. Ia malah bersenandung kecil, membayangkan tumpukan ikan segar yang menanti di akhir misi.
"Ember ikan... aku datang~" gumamnya riang, sambil mengepalkan tangan siap bertarung.
**TAMAT**
YOU ARE READING
Yorzu setengah saiyan dan setengah kucing
Fantasymau makan ikan tapi dipergoki sama kakak
