Suara tawa saling bersahutan di sebuah rumah makan. Lee jieun menjadi salah satu bintang di antara para kru drama Perfect Crown malam ini. Ia melontarkan lelucon tentang betapa lucunya Noh Sanghyun saat melakukan take ulang. Sanghyun tak ingin kalah, ia menjabarkan betapa Jieun terlihat salah tingkah saat harus melakukan adegan lari bersama. Mereka saling melontarkan candaan yang dibalas dengan godaan dari para kru.
Wooseok yang duduk di pojok hanya diam memperhatikan. Ia tak ikut melontarkan kalimat candaan. Ia tak berselera. Tatapannya jelas terhunus pada dua manusia yang saling melempar tawa, begitu tajam hingga kru yang duduk di sampingnya menyadari. Wooseok bahkan tak peduli dengan tatapan kru itu yang menunjukkan raut heran dan penasaran. Matanya tetap fokus memperlihatkan rasa tak sukanya. Ia heran, bukankah ia adalah pemeran utama? Alih-alih dirinya yang duduk di samping Jieun, ia malah mendapati Sanghyun sudah menempati tempat duduknya. Bukan, ia bukan ingin menjadi pusat perhatian, bukan juga ingin duduk di samping Jieun. Ia hanya merasa kurang tepat seorang pemeran utama duduk di pojok dalam acara closure dramanya sendiri.
Ia mungkin datang 'sedikit' terlambat karena jadwalnya yang begitu padat, namun menyisakan kursi untuknya di pojok alih-alih di tengah bersama Jieun itu benar-benar tindakan kru yang paling menyebalkan. Bukankah dia pemeran utamanya? Bukankah acara malam ini adalah closure untuk syuting drama Perfect Crown? Bintangnya jelas Jieun dengan Wooseok, bukan dengan Sanghyun atau laki-laki manapun. Tidak, ia jelas tidak merasa cemburu atau apapun. Ia hanya ingin duduk di tempat yang seharusnya.
"Oppa, kamu ingat? bahkan mukamu terlihat menyedihkan saat director-nim meminta kita untuk retake adegan lari" Jieun tidak bisa berhenti tertawa karena menurutnya raut Sanghyun kala itu begitu memprihatinkan. Betapa tidak, mereka harus retake adegan nyaris sepuluh kali.
Mendengar ejekan itu Sanghyun jelas tak terima, "Padahal jelas kamu yang terlihat sangat kelelahan, Bahkan kamu menggenggam tanganku erat karena sudah tidak bisa menopang berat badanmu sendiri, Jieun" Pengakuan Sanghyun langsung mendapat sorakan riuh dari para kru yang menyimak lontaran mereka.
"Cie-cie, pegangan tangannya karena lelah berlari atau karena tangan Sanghyun emang nyaman dipegang nih" salah satu kru menyeletuk diikuti tawa kru lainnya. Jieun dan Sanghyun bertatapan sejenak, rasa canggung itu tiba-tiba mendominasi, tidak menyangka perkataan yang mereka anggap lelucon berubah menjadi topik yang berbau romansa. Wooseok di pojok sana masih setia menatap ke arah mereka, begitu datar, tak menikmati euforia lelucon yang mereka lontarkan. Apa yang bisa dinikmati dari perkataan mereka yang tidak lucu sama sekali. Wooseok merasa reaksi para kru sangatlah berlebihan. Apa katanya? Tangan Sanghyun nyaman dipegang? Hell nah, dilihat dari manapun jelas tangannya yang lebih pas untuk menggenggam erat tangan mungil Jieun. Bukan, bukan Wooseok tak terima jika ada tangan lelaki lain yang menyelimuti tangan Jieun. Ia hanya memberikan kenyataan bahwa tangannya lebih pas untuk Jieun genggam. Sekali lagi, ia bukan tidak terima, ia hanya, hanya apa?
Ketika makanan datang, Jieun segera mencoba makanan yang ia pesan. Ia mengunyah secara perlahan, matanya sedikit melebar dengan binar di sana. Mulutnya masih aktif mengunyah, juga tangan Jieun yang sibuk menunjuk makanannya dengan sumpit "Mm, ini enak banget!!"
Sanghyun dan Wooseok spontan menatap reaksi Jieun sejenak "Seenak itu?" Suara Sanghyun terdengar dengan nada ingin tahu.
Wooseok masih diam mengamati Jieun, tepatnya bibir Jieun yang mengerucut, sedang mencoba mengurung setiap butir makanan agar tidak keluar dari mulut mungilnya. Tak sengaja senyum kecilnya muncul. Tidak, dia tidak gemas dengan tindak-tanduk Jieun. Ia hanya masih tak menyangka ada manusia dewasa makan dengan cara seperti itu. Benar, ia tidak gemas sama sekali. Ia hanya heran. Itu saja.
"Beneran enak banget oppa. Coba saja" Jieun menyodorkan mangkok makanannya ke arah Sanghyun agar mudah lelaki itu jangkau. Tanpa ragu Sanghyun mencicipi makanan milik Jieun menggunakan sumpitnya. "Mm, beneran enak ternyata" Tindakan sederhana itu sekali lagi mendapat respon godaan dari para kru.
YOU ARE READING
Trap
RomanceKarakter itu menancap kuat dalam diri Wooseok. Hampir sembilan bulan ia memerankannya, namun semuanya menjadi kabur. Ia tidak bisa lagi membedakan antara cerita drama dan realita.
