I love you. Mungkin terlalu sedikit untuk ku katakan-kalau beneran ku katakan.
Aku tersenyum seorang diri, katamu seperti "orgil gila"
Dimana Aku tersenyum semakin lebar. "Maksudnya orang gila, gila?" Tanyaku. Mendapat kekeh dan setuju darimu.
Aku tidak membahas karakter yang kubuat dari kuburan imajinasi di pikiranku, Aku tidak membahas alur kehidupan mereka, Aku tidak membahas siapa yang mereka cintai seumur hidup mereka.
Karena ini Aku.
Aku memaksa diriku untuk membuat semua orang senang, atau paling tidak agar mereka menganggap keberadaan diriku.
Lelah.
Kuat? Iya, selama ini aku kuat. Bukan berarti aku tidak punya batas untuk semua ini.
Dan tanggapan mereka semua sama.
"Aku gak dianggap"
Watch your mouth. Hargai diriku, sekali saja.
Setidaknya Aku niat menemani diri kalian semua dengan tulus hati. Bukan hanya energiku yang kalian kuras, tapi waktu, uang, bahkan Aku rela merendahkan diriku serendah-rendahnya hanya agar kalian tidak merasa kalau kalian setidak tertolong itu.
Aku salah.
Bukan Aku yang kau mau dari awal. Kau pilih-pilih, dan Aku berperan seolah baju yang kau beli tapi tak pernah pakai.
Aku mau pergi.
Jauh dari sini, entah kemana, pokoknya jauh.
Jauh dari keributan di rumahku tiap hari
Jauh dari "teman" yang melihatku sebagai cadangan
Jauh dari ketidakadilan negara ini
Jauh.
Sebanyak pasir di pantai alasanku untuk pergi.
Tapi hanya satu alasan kenapa aku berpikir dua kali.
Rasanya tidak enak. Menyakitkan. Bahkan membuatku nangis berjam-jam tiap malam.
Dramatis, iya... Tapi dia segalanya bagiku.
Seorang yang dipandang sebelah mata
Seorang yang dilihat "rusak"
Seorang yang dijauhi
Seorang yang dimarahi
Sempurna, kataku.
Dia akan selalu sempurna bagiku.
Kukira hidupku akan berakhir di tahun kedua.
Aku tau bahwa angkatan baru telah datang, tapi aku tidak pernah berpikir untuk menjalin pertemanan dengan adik kelas.
Mungkin yang kulihat memang tidak sebenarnya begitu... Tapi, apa boleh buat?
Aku tidak akan rinci menjelaskan dirinya, demi menjaga nama baik.
Tapi, seandainya dia membaca ini... Aku berharap dia tau bahwa
Dia segalanya.
Aku paling menyukai cara jalannya saat masih baru masuk sekolah. Jangan berpikiran aneh, dia normal.
Maksudku, dia jalan dengan penuh percaya diri seolah dia tidak takut apa yang orang katakan.
Jauh denganku.
Aku takut dengan semua hal yang berurusan dengan "percaya diri". Aku benci diriku-posturku, bentuk badanku, rambutku, wajahku, dan terlalu banyak untuk kumasukkan disini.
Tapi dia... Tidak.
Dia tidak takut dengan pendapat orang. Dia punya sesuatu di pikirannya, ya dia katakan hal itu dengan berani.
Awalnya Aku iri. Lalu sadar bahwa Aku tidak seharusnya begitu. Dia telah menjadi seorang teman bagiku, Aku harus ikut bangga.
And that escalated into something i never expected.
Setiap obrolan dengannya, Aku merasa seluruh tubuhku tegang. Tenggorokanku seolah dicekek dan Aku hanya bisa diam dan menatapnya.
Aku tidak suka tertawa. Tawaku jelek-banget. Tapi setelah dekat dengannya, Aku tidak peduli.
Dirinya membuatku senang dan beneran senang. Aku tertawa bebas karena sesuatu di dalam diriku percaya walaupun aku diledek olehnya, dia tidak akan menghindar.
Sekali lagi, tidak rinci. Dia punya masalah tersendiri yang.. Susah dipahami.
Aku? Paham. Aku mengerti bagaimana dan mengapa dia melakukannya.
Aku di satu sisi merasa jijik.
Bukan, bukan karena dia atau perlakuan dia atau sikap dia.. Tapi diriku sendiri.
Like i said, Aku benci diriku.
Rasa "mengagumi" yang tadi berubah drastis menjadi sesuatu yang tidak pernah kusangka.
Aku menyukainya, lebih dari teman.
Pacarin? Aku tidak punya jawaban. Aku ingin menjadi miliknya. Serius. Tapi di satu sisi, Aku hanya ingin menjadi orang yang ada untuknya karena Aku tau bahwa sainganku adalah diriku sendiri dan dia.
Kompleks? Tentu. Tapi, ini hanyalah curahan hati diriku seorang diri. Tidak perlu ada yang tau, apalagi sampai mengerti.
Aku khawatir
Iba
Takut
Dan benar-benar hilang arah.
Tapi aku mengerti sekarang.
Tidak peduli jika aku menangis sampai tidur setiap malam.
Tidak peduli jika aku menulis surat dengan darahku sendiri.
Tidak peduli jika aku menghindari dunia ini.
Aku hanya ingin dia bahagia.
Malam itu mengubah sesuatu dalam diriku.
Aku berbaring di kasur miliknya, dengan dirinya sendiri di sebelahku.
Dia mengeluh, merasa ingin muntah.
Aku panik, jelas... Tapi aku tidak bisa mengatakan hal apapun selain bertanya apakah dia masuk angin atau salah makan atau apapun.
Sekitar jam 11 malam, dirinya bangun dari kasur dan beneran muntah. Dari tadi aku memang belum tidur, aku tidak membuka ponselku, hanya menatap dirinya yang tidur tidak nyenyak.
Kasian, kataku. Dia sakit, kemungkinan besar demam.
Aku tidak punya kebebasan di tempat itu. Jadi aku hanya mengambil minum untuknya dan berada di sisinya.
Dia bertanya apakah aku "jijik" olehnya.
Kujawab "aku juga pernah muntah"
Aku benar-benar panik malam itu. Setelah semuanya bersih kembali, dia kembali meringkuk di kasur.
Badannya berguling ke arahku.
Aku hanya bisa diam dan berharap sakitnya tidak parah.
Dirinya mengulurkan tangan ke aku. Meminta maaf karna dia sakit saat aku menginap.
...
Perfect.
Aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat dari dirinya. Rasanya seperti melihat anak kucing yang lemah. Aku hanya ingin memeluknya dan pergi dari dunia ini, tapi.. Aku takut dia tidak suka.
Lagi-lagi akan kukatakan, bagiku dia sempurna.
Tidak ada hal yang membuatku ingin menjauh darinya.
Karena diantara manusia yang membuatku merasa terancam, hanya dia yang tidak.
Namun. Aku tidak yakin jika aku menyatakan kasihku padanya.
It's ok. Akan ku maksimalkan waktu kita bersama selagi masih bisa.
Lagipula, aku kemungkinan besar tidak akan bersamanya lagi dalam setahun kedepan.
I love you.
YOU ARE READING
Archive(s)
Poetrya bleeding heart, a limping soul Berisi hal kontrovesial, lgbt+, dll.
