Ada orang yang pergi karena sudah tidak peduli. Ada juga yang memilih menjauh karena terlalu peduli.
Mahesa tidak pernah menyangka bahwa satu pesan singkat bisa membuat hidupnya berubah.
Pesan yang selama berbulan-bulan ia tunggu.
Pesan yang selama berbulan-bulan tidak pernah datang.
Dan ketika akhirnya muncul di layar ponselnya, hal pertama yang ia rasakan bukanlah lega.
Melainkan takut.
Pukul 01.17 dini hari.
Suara getaran ponsel memecah keheningan kamar. Mahesa yang belum juga bisa memejamkan mata langsung meraih ponselnya dari atas meja belajar.
Matanya membelalak sesaat.
Nama itu muncul lagi.
Aqilla.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Sudah hampir tiga bulan sejak terakhir kali mereka berbicara. Tiga bulan tanpa kabar. Tiga bulan tanpa penjelasan. Tiga bulan yang dipenuhi amarah, gengsi, dan pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Mahesa membuka pesan itu.
Bukan permintaan maaf.
Bukan juga ucapan rindu.
Hanya sebuah file berjudul, "Kalau Suatu Hari Kamu Tahu Semuanya."
Di bawahnya terdapat satu kalimat singkat.
"Maaf karena selama ini aku lebih memilih diam daripada membuatmu ikut merasakan sakit yang sama."
Entah kenapa, dada Mahesa terasa sesak.
Perasaannya mendadak tidak tenang.
Ia membuka file itu perlahan.
Isinya puluhan catatan dengan tanggal yang berbeda-beda.
Catatan pertama membuat napasnya tertahan.
"Hari ini aku batal datang lagi. Esa pasti marah. Padahal aku cuma nggak mau dia lihat aku selemah ini."
Mahesa mengernyit.
Ia menggulir ke bawah.
"Hari ini aku bohong lagi. Bilang lagi di rumah Nenek, padahal aku seharian di rumah sakit."
Tangannya mulai bergetar.
Ia membaca catatan demi catatan tanpa berhenti.
"Aku lihat Esa ketawa sama orang lain hari ini. Harusnya aku ikut senang. Berarti kalau suatu saat aku benar-benar nggak bisa nemenin dia, dia tetap bisa bahagia."
Mahesa menutup mulutnya sendiri.
Matanya mulai memanas.
Semua tuduhan yang pernah ia lontarkan kepada Aqilla tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Kamu berubah."
"Kamu sekarang susah dicari."
"Kalau emang udah nggak peduli, bilang aja."
Kalimat-kalimat yang dulu keluar begitu mudah dari mulutnya kini terdengar seperti pisau yang berbalik menusuk dirinya sendiri.
Ia terus membaca hingga sampai pada catatan terakhir.
"Aku nggak pernah menjauh karena berhenti sayang sama kamu. Aku cuma takut, kalau kamu terlalu dekat, kamu bakal ikut capek ngadepin semua ini."
Satu tetes air mata jatuh membasahi layar ponselnya.
Mahesa langsung berdiri. Tangannya buru-buru mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
Ia harus menemui Aqilla.
Malam itu juga.
Ia ingin meminta maaf.
Ia ingin mendengar semuanya langsung dari gadis itu.
Ia juga ingin mengatakan sesuatu yang selama ini selalu ia simpan sendiri.
Kalau saja waktu masih memberinya kesempatan.
Mahesa selalu berpikir bahwa besok akan selalu ada.
Bahwa meminta maaf bisa dilakukan kapan saja.
Bahwa mengungkapkan perasaan tidak perlu terburu-buru.
Sampai akhirnya ia sadar...
Tidak semua orang yang memilih diam sedang baik-baik saja.
Dan tidak semua orang yang menjauh berarti sudah berhenti menyayangi.
Begitulah kisah mereka dimulai.
Bukan dari pertemuan pertama.
Bukan dari kata cinta.
Melainkan dari sebuah penyesalan yang datang ketika Mahesa akhirnya mengetahui alasan di balik semua kepergian Aqilla.
Dan saat itu, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berharap...
"Semoga semuanya belum terlambat."
YOU ARE READING
Terlambat, Tapi Masih Ada
RomanceTerlambat, Tapi Masih Ada "Kalau suatu hari aku berubah, jangan langsung benci aku. Bisa jadi aku cuma lagi berusaha bertahan." Semua orang tahu kalau Aqilla Prameswari dan Mahesa Adikara adalah dua orang yang nggak bisa dipisahkan. Mereka selalu be...
