Na-update namin ang aming Mga Alituntunin sa Nilalaman.
Suriin ang pinakabagong mga alituntunin para patuloy na makapagbahagi ng mga kuwento nang ligtas.

Prolog.

22 3 0
                                        

◦•●◉✿Selamat membaca✿◉●•◦

Oops! Ang larawang ito ay hindi sumusunod sa aming mga alituntunin sa nilalaman. Upang magpatuloy sa pag-publish, subukan itong alisin o mag-upload ng bago.

◦•●◉✿Selamat membaca✿◉●•◦

Aroma parfum black opium bercampur dengan bau alkohol mahal menguar di sudut VIP lounge malam itu. Dentuman bas musik malam memekakkan telinga bagi sebagian orang, namun bagi Lee Heeseung, itu adalah melodi latar belakang dari kebebasannya.

​Di sofa beludru merah, Heeseung duduk tegap dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya sengaja dibuka. Di lengan kirinya, ada Kim Sunoo yang sedang tertawa manja sembari menyuapinya sepotong stroberi segar.

Sementara di sisi kanannya, Jake bersandar nyaman di bahu Heeseung, jemari lentiknya sesekali memainkan kerah kemeja sang dominan dengan tatapan penuh damba.

​"Heeseung-ah, besok malam kamu luang, kan? Ada film baru yang ingin kutonton," bisik Jake, suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, mengabaikan eksistensi Sunoo di seberang mereka.

​Sunoo memutar bola matanya malas, beralih memeluk leher Heeseung dari samping. "Kak Heeseung sudah janji mau menemaniku belanja besok, Jake. Jangan merebut jadwal orang lain."

​Heeseung hanya terkekeh pelan. Baginya, perebutan atensi seperti ini adalah vitamin bagi ego maskulinnya. "Tenang, manis. Kalian berdua akan dapat waktu masing-masing. Jangan bertengkar di depanku, oke?" ujarnya sembari mengecup pelipis Jake, lalu beralih mencubit dagu Sunoo gemas.

​Di sudut meja yang agak gelap, Jay menyesap minumannya lalu menyenggol lengan Ni-ki yang sibuk memandangi tabletnya.

​"Lihat si bajingan itu. Dia benar-benar bermain dengan api," gumam Jay, melirik ke arah Heeseung.

​Ni-ki menghela napas panjang, menatap Heeseung dengan pandangan kasihan sekaligus ngeri. "Kak Heeseung lupa kalau pawangnya punya mata di mana-mana. Aku sudah menghapus tiga riwayat reservasi hotel atas namanya minggu ini agar tidak terdeteksi oleh Kak Sunghoon. Tapi kalau dia seberani ini di tempat umum, aku lepas tangan."

​Tepat saat kata-kata Ni-ki selesai diucapkan, atmosfer di dalam ruangan VIP itu mendadak berubah drastis. Kehadiran seseorang seolah membekukan udara hangat yang tadinya dipenuhi tawa manja.

​Langkah kaki yang konstan dan beritme anggun terdengar mendekat. Sosok berpostur ramping, mengenakan trench coat putih gading dengan celana kulit hitam ketat, berdiri di ambang pintu kaca buram.

Wajahnya secantik pahatan pualam, kulitnya pucat seputih salju, dan matanya sepasang manik mata elang yang dingin langsung mengunci tepat pada figur Lee Heeseung.
​Park Sunghoon.

​Jake yang merasakan hawa dingin itu langsung menegakkan tubuhnya, mendadak merasa terintimidasi hanya oleh tatapan Sunghoon. Sunoo yang biasanya berani, pelan-pelan melepaskan pelukannya dari leher Heeseung, merasa ngeri melihat senyum tipis yang tersungging di bibir ceri Sunghoon.

​"Wah, ramai sekali ya malam ini," suara Sunghoon mengalun lembut, terlalu lembut hingga terdengar mengerikan.
​Heeseung berdeham, buru-buru menegakkan posisi duduknya. Ada kilat keterkejutan di matanya, namun sebagai playboy ulung, dia segera memasang topeng tenangnya.

"Sunghoon? Sayang, kenapa menyusul ke sini? Katanya kamu sedang sibuk merapikan berkas kuliahmu?"
​Sunghoon berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangannya dari Heeseung.

Setiap langkahnya membuat Jake dan Sunoo otomatis bergeser menjauh, memberikan ruang seolah-olah sang ratu sedang berjalan menuju singgasananya.

Sunghoon berdiri tepat di depan Heeseung, lalu membungkuk sedikit, mengusap pipi Heeseung dengan ibu jarinya yang dingin.

​"Berkasku sudah selesai. Tapi sepertinya... jadwalku malam ini terlewat sesuatu," ucap Sunghoon lembut. Matanya melirik tajam ke arah Jake, lalu ke arah Sunoo, sebelum akhirnya kembali menatap Heeseung.

"Aku tidak tahu kalau suamiku malam ini sibuk mengasuh banyak orang."

​"Sunghoon, mereka hanya teman berkumpul-"

Plak.

​Bukan tamparan keras yang menyakitkan secara fisik, melainkan ketukan jari Sunghoon yang mendarat di pipi Heeseung, menepuknya dengan ritme yang merendahkan namun penuh kuasa kepemilikan.

​"Teman berkumpul tidak memeluk lehermu sampai berbekas bedak, Heeseung-ah," potong Sunghoon. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat dingin. Sunghoon kemudian menoleh ke arah Jake dan Sunoo.

"Kalian berdua. Keluar dalam hitungan tiga. Atau aku pastikan beasiswa dan fasilitas apartemen yang kalian banggakan itu lenyap besok pagi."
​Jake memucat, dia tahu siapa keluarga Park Sunghoon. Tanpa babibu, dia langsung mengambil tasnya dan melangkah cepat keluar ruangan.

Sunoo sempat mendengus kesal, namun tatapan tajam dari Jay membuat Sunoo sadar bahwa melawan Sunghoon di saat seperti ini sama saja dengan bunuh diri sosial. Sunoo pun menyusul Jake keluar.

​Kini, di ruangan itu tersisa Heeseung, Sunghoon, serta Jay, Jungwon (yang baru saja kembali dari toilet dan langsung berdiri di samping Sunghoon), serta Ni-ki.

​Jungwon melipat tangannya di dada, menatap Heeseung dengan sinis. "Sudah kubilang, Kak Jay. Temanmu ini tidak akan pernah kapok sebelum kakinya dipatahkan oleh Kak Sunghoon."

​Jay hanya meringis, menarik Jungwon pelan ke pelukannya. "Sayang, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain, yuk kita keluar juga." Jay memberikan kode kepada Ni-ki, dan dalam sekejap, menyisakan dua orang utama di ruangan tersebut.

​Pintu tertutup rapat. Sunghoon langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Heeseung, mengalungkan kedua lengannya di leher Heeseung, menjebak pria itu sepenuhnya. Aroma parfum Heeseung yang tadi tercampur aroma uke lain kini dipaksa tertutup oleh wangi murni tubuh Sunghoon.

​"Kau bermain lagi di belakangku, Lee Heeseung," bisik Sunghoon di telinga Heeseung, giginya dengan sengaja menggigit kecil cuping telinga sang kekasih hingga Heeseung melenguh pelan.

​"Sunghoon... mereka yang mendekatiku, kau tahu aku hanya mencintaimu," alibi Heeseung, tangannya refleks mencengkeram pinggang ramping Sunghoon.

​Sunghoon menarik kepalanya mundur, menatap Heeseung dengan mata yang berkilat obsesif. "Aku tidak peduli seberapa banyak jalang kecil yang mengitari tubuhmu, Heeseung. Karena pada akhirnya, kau hanya milikku. Jiwamu, tubuhmu, bahkan helai rambutmu adalah hak milik Park Sunghoon."

​Sunghoon meraba saku kemeja Heeseung, mengambil ponsel milik pria itu, lalu menjatuhkannya tepat ke dalam gelas berisi alkohol hingga layarnya padam.

​"Malam ini, ponselmu mati. Dan kau... akan pulang bersamaku untuk bermain." Sunghoon tersenyum manis, kelewat manis hingga membuat bulu kuduk Heeseung meremang. Heeseung tahu, malam ini dia tidak akan dilepaskan sepeser pun dari jerat posesif seorang Park Sunghoon.

​Dan konflik besar baru saja dimulai. Di luar sana, Jake, Sunoo, dan beberapa uke simpanan Heeseung lainnya-termasuk rahasia masa lalunya, Beomgyu tidak akan tinggal diam begitu saja melihat dominasi Sunghoon.

 Di luar sana, Jake, Sunoo, dan beberapa uke simpanan Heeseung lainnya-termasuk rahasia masa lalunya, Beomgyu tidak akan tinggal diam begitu saja melihat dominasi Sunghoon

Oops! Ang larawang ito ay hindi sumusunod sa aming mga alituntunin sa nilalaman. Upang magpatuloy sa pag-publish, subukan itong alisin o mag-upload ng bago.

Sesuai req @stellali1.
Gimana, jadinya mau lanjut atau
Tidak.Jangan lupa vote dan komen. Jika tidak aku tidak berkenan untuk melanjutkan cerita ini.

Uke Posesif|HeehoonMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon