kabar di pagi hari
Mohon perhatikan.
Cerita di bawah ini sama sekali bukan bagian dari series mereka oke? Aku hanya memakai nama karakter, mungkin nama tempat, beberapa identitas dan keterampilan mereka saja.
Matahari baru saja naik beberapa jengkal di langit Nanyang, namun ketenangan di dalam kantor tersembunyi milik Southern Archives sudah pecah berantakan.
Seorang pria muda dengan pakaian pengantin yang sudah kusut dan kotor oleh lumpur terduduk di kursi kayu. Napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi, dan air mata menetes tak terkendali saat ia menggenggam erat cangkir teh yang disodorkan Haiyan.
"Tolong saya, Tuan... Tolong cari istri saya," ratap pria itu dengan suara bergetar hebat. "Semalam... semalam adalah malam pertama kami setelah pesta pernikahan. Saya hanya meninggalkannya sebentar ke dapur untuk mengambilkan air minum. Tapi begitu saya kembali ke kamar... dia sudah hilang. Jendelanya terbuka, dan hanya ada bau wangi bunga yang aneh tertinggal di udara."
Haiyan mendengarkan dengan saksama, sesekali bertukar tatap dengan Haixia yang berdiri bersedekap di dekat jendela. Wajah Haixia tampak mengeras. Kasus seperti ini bukan yang pertama kali mereka dengar belakangan ini di wilayah pinggiran Nanyang. Fenomena hilangnya pengantin wanita secara misterius di malam pertama sudah mulai menyebarkan teror.
Setelah menenangkan sang klien dan berjanji akan menyelidiki kasus tersebut, Haiyan mengantarkan pria malang itu keluar dari kantor. Begitu pintu depan tertutup, Haiyan menghela napas panjang dan berbalik menatap Haixia.
"Satu lagi," gumam Haiyan, melangkah mendekati meja kerja mereka. "Ini sudah korban ketiga dalam bulan ini, Xiazia. Polanya selalu sama. Pengantin baru, malam pertama, dan lenyap tanpa jejak."
Haixia baru saja akan menyahut ketika sebuah suara feminin yang dingin namun berwibawa memotong dari arah ambang pintu ruangan dalam.
"Dan karena itulah, kalian berdua tidak bisa tinggal diam lagi."
Kedua pemuda itu serentak menoleh dan langsung menegakkan posisi berdiri mereka. Zhang Haiqi, guru sekaligus ibu angkat yang sangat mereka hormati, berjalan masuk dengan anggun. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan dokumen baru yang masih tersegel rahasia.
"Shifu," sapa Haixia pelan namun penuh hormat.
Zhang Haiqi meletakkan gulungan dokumen itu di atas meja dengan ketukan pelan. "Laporan dari informan kita di desa terpencil itu sudah lengkap. Makhluk atau pelaku di balik kutukan ini sangat cerdik. Mereka hanya mengincar pasangan yang benar-benar melakukan ritual pernikahan lokal di sana. Jika kita mengirim pasukan biasa, mereka akan bersembunyi."
Haiyan menaikkan sebelah alisnya, mulai mencium gelagat yang tidak biasa dari senyuman tipis sang ibu angkat. "Lalu?"
Zhang Haiqi menatap kedua putra angkatnya bergantian, sebelum akhirnya menjatuhkan pandangannya pada Haixia, lalu ke Haiyan.
"Cara terbaik untuk menangkap pemancing adalah dengan menjadi umpannya," ujar Zhang Haiqi tenang. "Kalian berdua akan berangkat ke desa itu besok pagi. Identitas kalian sudah disiapkan. Kalian akan datang ke sana sebagai sepasang pengantin baru yang berniat menetap di desa tersebut."
"Hah?!" Haiyan spontan membelalakkan matanya, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Pengantin baru? Maksud mu... kami berdua?!"
Sementara itu, Haixia yang biasanya selalu siap menerima perintah apa pun, mendadak kaku di tempatnya. Sepasang matanya berkedip beberapa kali, memandang dokumen di meja dan ibunya dengan tatapan tidak percaya, seolah ia baru saja salah mendengar bahasa manusia.
"Shifu, ini... apa tidak ada opsi lain?" Haixia akhirnya membuka suara. Nada suaranya yang biasanya tegas kini terdengar agak goyah, seolah menahan beban berat di pundaknya. "Menyamar sebagai rekan dagang atau saudara jauh rasanya akan lebih mudah untuk pergerakan kita."
Zhang Haiqi hanya menaikkan sebelah alisnya, tidak terganggu sama sekali oleh keberatan putra angkatnya. "Sudah kubilang, kan? Pelaku ini hanya keluar untuk pengantin baru yang menempati rumah adat di desa itu. Kalau kalian datang sebagai saudara, kalian tidak akan diberi izin oleh tetua desa untuk tinggal di rumah umpan tersebut. Aturan adat mereka sangat ketat terhadap orang asing lajang."
Haiyan, yang tadinya sempat syok, tiba-tiba malah melihat sisi menarik dari situasi ini. Sifat usilnya mulai bergejolak melihat wajah Haixia yang mendadak sekaku papan tulis.
"Lagipula, Haixia," Haiyan menyenggol lengan Haixia dengan sikunya, memasang senyum paling menyebalkan yang ia punya. "Kenapa kamu kelihatan panik begitu? Anggap saja kali ini aku yang jadi istrimu, dan kamu harus melindungiku dengan baik sebagai suami yang bertanggung jawab."
Mendengar godaan itu, Haixia langsung menoleh cepat. Sepasang matanya menatap Haiyan dengan tajam, namun kilatan panik di dalamnya tidak bisa disembunyikan. Ditambah lagi, semburat merah muda tipis mulai merayap dari leher hingga ke ujung telinganya.
"Haiyan, ini misi berbahaya. Jangan bercanda," desis Haixia, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar dingin.
"Siapa yang bercanda? Aku sangat serius, Suamiku," sahut Haiyan tanpa dosa, sengaja menekan kata terakhir dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
"Kalian berdua, cukup," potong Zhang Haiqi sambil menahan senyum geli di bibirnya. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dari balik bajunya dan membukanya di atas meja. Di dalamnya, berkilau dua buah cincin perak polos yang sederhana.
"Pakai ini. Mulai besok pagi saat kalian menginjakkan kaki di perbatasan desa, identitas kalian adalah Zhang Xia dan Zhang Yan, pasangan pengantin baru dari kota yang mencari ketenangan di desa Nanyang," perintah Zhang Haiqi mutlak. "Jangan sampai penyamaran kalian terbongkar hanya karena kalian canggung bersentuhan. Nyawa kalian-terutama nyawa Haiyan yang akan menjadi target umpan-adalah taruhannya."
Haixia menatap cincin perak itu dengan helaan napas pasrah. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia mengambil salah satu cincin dan memasukkannya ke jari manisnya sendiri. Rasanya dingin, namun entah kenapa membuat dadanya berdegup dua kali lebih cepat.
Sementara itu, Haiyan mengambil cincin satunya lagi, memutar-mutarnya di jarinya sambil mengerling jahil ke arah Haixia yang sengaja membuang muka, pura-pura sibuk mempelajari peta desa di atas meja.
_
Keesokan harinya, kabut tipis masih menyelimuti jalanan setapak yang basah dan berbatu menuju desa terpencil di pedalaman Nanyang tersebut.
Haixia berjalan dengan langkah tegap, tangan kanannya menjinjing sebuah koper kayu besar yang berisi pakaian dan perlengkapan investigasi mereka berdua. Pakaian era Republik yang ia kenakan hari ini terasa sedikit lebih pas di tubuh tegapnya, memberikan kesan seorang kepala keluarga muda yang protektif.
Namun, fokus Haixia buyar sepenuhnya ketika mereka mulai melihat gerbang kayu desa di kejauhan. Beberapa tetua desa dengan pakaian adat setempat sudah berdiri di sana, bersiap menyambut kedatangan mereka.
"Ingat, bersikaplah natural," bisik Haixia pelan, matanya tetap lurus ke depan.
"Tentu saja, Xia-ge," balas Haiyan berbisik balik.
Sebelum Haixia sempat memproses panggilan baru itu, Haiyan dengan gerakan luwes langsung menyusupkan tangannya ke sela lengan Haixia, menggelayut manja dan merapatkan jarak tubuh mereka sampai bahu mereka saling bergesekan.
Haixia refleks menghentikan langkahnya selama satu detik penuh. Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku seperti batu sandungan. Jantungnya berdentum keras di dalam dada, serasa mau melompat keluar ketika merasakan kehangatan tubuh Haiyan yang menempel begitu dekat di sisinya.
"Jalan terus, jangan berhenti, nanti mereka curiga," bisik Haiyan lagi dari balik senyum manisnya yang diarahkan kepada para tetua desa yang mulai berjalan mendekat.
Dengan sekuat tenaga, Haixia menelan ludah, berusaha memaksa kakinya untuk kembali melangkah seraya berdoa dalam hati agar para tetua desa itu tidak menyadari kalau telinganya saat ini sudah merah padam seperti kepiting rebus.
TBC
wkwk, namatin nonton belum sanggup malah buat ff nya🙂
