[SCENE START]
[EXT. JALANAN RAYA JAKARTA - MALAM]
Layar dibuka dengan slow-motion. Cahaya lampu jalan yang jarang menerbangkan serbuk debu di udara Jakarta yang lembap. Mobil sedan putih BMW F30 320i melintas dengan suara mesin yang halus namun jelas, menunjukkan performa yang telah dimodifikasi. Body mobil mengkilap, mencerminkan cahaya langit yang berawan, tanpa satu pun noda.
Kamera low-angle, mengikuti mobil dari belakang. Musik instrumental piano yang dramatis dan sedikit melancholis mulai berputar, menyiapkan suasana.
[CUT TO: EXT. RUMAH MEGAH - MALAM]
Mobil memasuki gerbang sebuah rumah bertipe modern minimalis, dengan pagar tinggi dan tanaman hijau yang rapi. Jalan setapak batu menghantar mobil ke area parkir yang luas. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang besar, berbahan kayu solid dengan aksesoris besi antik.
Suara mesin mobil redup, lalu mati. Sejenak, hanya ada bunyi daun yang bergoyang angin lembut dan musik yang masih berlanjut.
[CLOSE UP: PINTU MOBIL TERBUKA]
Sebuah kaki berwarna sawo matang, mengenakan sepatu loafer kulit hitam berkualitas, turun pertama kali. Kaki itu menginjakkan beratnya pada permukaan batu yang dingin. Cekungan ringkas di betisnya terlihat, menunjukkan fisik yang terawat.
Kamera mengikuti langkah kaki itu, yang berjalan dengan langkah yang tenang namun penuh dengan kesopanan. Setiap langkahnya menantang diametrum rumah yang sunyi ini.
[WIDE SHOT: DEPAN PINTU RUMAH]
Kamera akhirnya menampilkan dua sosok yang telah lama menunggu di bawah lampu hiasan. Pria berusia sekitar 50 tahun, dengan postur tegap dan rambut hitam yang mulai bercabang di sisi telinga (JUAN FERNANDEZ). Di sampingnya, wanita berusia 45 tahun, cantik dengan senyum lembut dan rambut pirang bergelombang (VALERIAN FERNANDEZ).
Kedatangan Fathan membuat kedua orang itu tertatih sejenak, sebelum akhirnya senyum lebar menghiasi wajah mereka.
JUAN
(Suara rendah, penuh dengan emosi, napas terengah-engah karena menahan air mata.)
Fathan... Putra kesayangan papa... akhirnya pulang juga.
Juan melangkah cepat, membuka lebar kedua tangannya. Fathan, yang selama ini hanya menatap dengan ekspresi datar, akhirnya mengangguk dengan lembut dan menerima pelukan ayahnya.
FATHAN
(Suara lembek, tersembunyi di pundak Juan.)
Terima kasih, Pa. Maaf aku... gak bisa hadir dipernikahan papa.
Juan mengangguk erat, pelukan semakin ketat. Dia tahu alasan Fathan pergi. Dia tahu luka yang tersembunyi di balik mata anaknya itu.
JUAN
(Suara bergetar.)
Papa mengerti, Fathan. Papa selalu mengerti.
Setelah beberapa saat, Fathan perlahan melepaskan pelukan. Dia menengok ke Valerian, yang selama ini hanya berdiri diam, menatap mereka dengan senyum bahagia. Fathan mengambil langkah kecil mendekatinya.
FATHAN
(Dengan nada yang sedikit bercanda, mencoba menghilangkan keakraban yang tadinya hilang.)
Oh iya, Tante... maaf.
Fathan mengangkat tangan kanannya, ingin memberikan salim. Valerian langsung tersenyum lebar, membuka kedua tangannya.
VALERIAN
(Suara lembut, penuh kasih.)
Sudahlah, Fathan. Jangan panggil tante. Panggil saja... Mama Val.
Fathan sedikit kaget, tapi kemudian dia tersenyum. Dia menerima pelukan Valerian, yang berbau parfum wangi bunga mawar. Pelukan ini hangat, seperti pelukan ibu yang selama ini dia cari.
FATHAN
(Dengan suara rendah.)
Senang akhirnya bisa melihat Papa dan Mama Val menikah.
VALERIAN
(Mengusap punggung Fathan.)
Ayo masuk, nak... Rumah ini sudah rindu dengan kamu.
Mereka berbalik, masuk ke dalam rumah. Pintu kayu besar tertutup dengan lembut di belakang mereka.
[CUT TO: INT. RUMAH - LAMPU WARM]
Interior rumah modern dan mewah, dengan lantai marmer mengkilap dan perabotan kayu jati. Cahaya lampu gantung yang berwarna kuning hangat menerangi ruang tamu yang luas.
Mereka berjalan melalui koridor yang luas, melewati beberapa lukisan bergaya abstrak di dinding. Dialog mereka berlanjut, lebih santai namun tetap penuh dengan perasaan.
JUAN
(Sambil menunjuk ke berbagai bagian rumah.)
Lihat, Fathan. Ruang tamu ini kita rubah sedikit. Tambahkan sofa baru yang kamu sukai, model Eames.
FATHAN
(Mengangguk, melihat sekeliling.)
Kelihatan bagus, Pa.
VALERIAN
(Dengan senyum.)
Dan ini... lihat ke kamarmu.
Mereka berhenti di depan pintu kamarku Fathan. Pintu ini terbuka lebar, menunjukkan kamar yang luas dan rapi.
[CUT TO: INT. KAMAR FATHAN - LAMPU KECIL]
Kamar Fathan masih sama seperti sebelum dia pergi, tapi sudah dibersihkan dan dirapikan. Poster band Nirvana masih ada di dinding. Rak buku penuh dengan novel fiksi ilmiah dan biografi tokoh dunia. Tempat tidur king-size dengan seprai putih bersih.
VALERIAN
(Sambil berjalan ke kamar.)
Kami tidak berani mengubah banyak hal. Takut kamu tidak suka. Semua barangmu masih ada di tempatnya.
FATHAN
(Mengikuti Valerian, matanya mengamati setiap sudut kamar.)
Terima kasih, Mama Val. Ini... sempurna.
Juan masuk ke kamar, tersenyum melihat Fathan yang kenyang senyum.
JUAN
(Sambil menepuk pundak Fathan.)
Lalu, bagaimana perjalananmu di Amerika? Semuanya baik-baik saja?
Ekspresi Fathan sedikit berubah. Dia menundukkan pandangannya, sebelum akhirnya mengangkatnya lagi dengan ekspresi datar.
FATHAN
(Suara datar.)
Baik saja, Pa. Sekolahnya... berat, tapi aku bisa mengatasinya.
Juan melihat Fathan dengan seksama. Dia tahu anaknya ini tidak ingin membicarakan masa lalu. Dia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
JUAN
(Dengan lembut.)
Baiklah, jika kamu tidak ingin membicarakannya. Kita bisa bicara lain kali.
Fathan mengangguk, menunjukkan terima kasih. Dia tahu ayahnya selalu mengerti.
VALERIAN
(Sambil melihat ke jam di dinding.)
Oke, yuk kita lanjut ke ruang makan. Ada banyak makanan lezat yang Mama Val siapkan. Kamu pasti lapar, kan?
Mereka berbalik, keluar dari kamar Fathan. Pintu kamar tertutup dengan lembut di belakang mereka.
[CUT TO: INT. RUANG MAKAN - LAMPU WARM]
Ruang makan yang luas, dengan meja makan besar berbahan kayu jati. Di atas meja, ada vas bunga mawar segar yang berbau wangi. Cahaya lampu gantung yang berwarna kuning hangat menerangi meja ini.
VALERIAN
(Sambil menaruh hidangan.)
Ini adalah makanan favorit kamu, bukan?
FATHAN
(Mengangguk, tersenyum.)
Terima kasih, Mama Val.
Mereka mulai makan. Dialog mereka berlanjut, lebih santai dan hangat. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang kehidupan sehari-hari.
Fathan tersenyum, mengingat kenangan masa kecilnya. Dia melihat Juan dan Valerian, yang sedang saling melihat dengan senyum bahagia. Dia merasa bahagia, merasa seperti kembali ke rumah yang dia cintai.
FATHAN
(Dengan suara rendah.)
Terima kasih, Pa. Terima kasih, Mama Val.
Juan dan Valerian mengangguk, senyum lebar menghiasi wajah mereka. Mereka tahu, dengan kedatangan Fathan, rumah ini akan kembali penuh dengan kehangatan dan cinta.
