Renjun POV
Hallo,perkenalkan namaku Renjun,anak dari ayah Yuta dan ibu Win. Hari ini adalah hari pertama aku bekerja,omaygod im so exited. Semoga keberuntungan menyertaiku ya. Amin.
"Ayah,ibu ,Renjun pamit bekerja dulu ya," kataku sambil salim keorang tuaku.
"Renjun,kau yakin tidak mau di antar oleh ayah, nak?" Ayah yuta ini memang sedikit posesif kepadaku,padahal aku sudah besar,huh!
"Tidak ayah,Renjun ini mandiri!" Tekadku.
"Tapi nak.."
"Ayah,sudahlah. Kau tidak lihat itu binar dimata anak manis kita hm? Percaya saja ya." Ibu Win adalah yang terbaik.
"Renjun janji,Renjun bakalan jadi anak baik ayah,"
Sang ayah menghela nafas dan kemudian mengiyakan permintaan anak bungsunya itu.
AUTHOR POV
Setelah itu Renjun berangkat dengan senyum yang masih tercetak diwajahnya,walaupun tidak dipungkiri bahwa ia sedikit gugup.
Setelah sampai di tempatnya bekerja,ia menunggu sebentar di lobi kantor sebelum akhirnya disuruh untuk mengikuti orang yang akan menunjukan dimana ruangan yang nantinya untuk bekerja.
"Nah Renjun,ini adalah tempatmu,jika kau bingung ,kau boleh bertanya kepadaku,tempatku di ujung sebelah kiri itu ya." Setelah mengatakan hal tersebut,seseorang yang Renjun ketahui sebagai kepala bagiannya itu pergi meninggalkan Renjun setelah memberikan sedikit penjelasan untuk pekerjaannya.
"Psttt,kau anak baru," Renjun menoleh kearah kanan,mendapati seseorang berwajah manis dan ceria sedang tersenyum lebar padanya.
"Ya?"
"Perkenalkan,namaku Ten. Namamu siapa?" Katanya sambil mengulurkan tangannya,
"Ah,namaku Renjun kak,salam kenal ya." Renjun menjabat tangan yang tah kalah lembut darinya itu.
"Kau baru pertama kali bekerja ya?" Renjun menganggukan kepalanya
"Iya kak,mohon bantuannya ya."
"Tidak masalah,kau juga boleh bertanya kepadaku jika bingung." Renjun menganggukkan kepalannya dengan antusias,sungguh hari yang menyenangkan,ia dapat teman akhirnya.
Setelahnya mereka kembali bekerja dengan tenang,dan sampai akhirnya waktu istirahatpun tiba.
"Yuk ke kantin," ajak Ten ke Renjun
"Eh,Renjun boleh ikut kak?" dengan sedikit ragu,Renjun bertanya.
"Tentu saja,kan aku mengajakmu. Ayo,kau juga akan kukenalkan dengan teman-temanku."
Ten langsung menggandeng tangan Renjun dan berjalan menuju kantin yang terletak di lantai 1 itu.
Setelah memesan beberapa makanan,mereka berdua bergegas menuju tempat duduk yang sudah diisi oleh 4 orang itu.
"Waow Ten,kau bawa siapa itu?"
"Ah iya,kenalkan ini namanya Renjun,dia anak baru di divisiku dan Renjun perkenalkan,ini teman-temanku,yang duduk didepanmu itu namanya Jeonghan,kemudian yang ini namanya yang ini seungkwan,wonwoo dan Joshua."
"Hai Renjun,kau manis sekaliiii," Jeonghan yang memang selalu gemas dengan orang-orang berwajah imut itu sedikit mencubit pipi Renjun,
"Kakak juga cantik sekali," balas Renjun
"Renjun,jangan kau puji dia,nanti dia akan semakin terbang." Sela yang Renjun baru ketahui namanya Seungkwan yang langsung dapat cebikan bibir dari Jeonghan.
"Sudah,ayo makan,keburu habis waktunya meladeni ocehan kalian berdua." Wonwoo menengahi,dia sudah muak btw,karena jika dilanjut,mereka berdua pasti tidak akan ada habisnya.
Setelah makan siang dikantin itu,mereka balik keruangan masing-masing untuk kembali bekerja karena waktu istirahat sudah habis,
"Renjun,bisa tolong antarkan berkas ini keruangan direktur,aku sedang tidak bisa karena sedang mengurus beberapa hal yang perlu diselesaikan hari ini juga,tolong ya Renjun" kata kepala bagiannya,Renjun melihat teman-temannya juga sedang sibuk semua,hanya ia yang punya sedikit luang,baiklah tidak apa-apa.
"Ruangannya dimana ya,Pak?'
"Kau naik saja lantai 20,lurus saja dari arah pintu lift. Terima kasih ya Renjun." Kepala bagiannya itu langsung kembali ke mejanya,Renjun pun bergegas untuk mengantarkan berkas tersebut.
"Keluar lift lurus terus,"gumam Renjun sambil berjalan dengan ragu.
Ia berhasil menemukan pintu besar bertulisan 'Ruang Direktur'
"Tapi kenapa tidak ada sekertarisnya? Apa aku ketuk saja pintunya ya?" Bimbang Renjun.
"Kau siapa?"
Suara berat dari arah belakang mengejutkannya,Renjun segera membalikkan tubuhnya dan melihat seseorang dengan postur tubuh tinggi,wajah dingin dan juga...tampan.
Renjun segera menyadarkan dirinya dan bergegas memperkenalkan diri,"Selamat siang,saya Renjun,anak baru dari bagian finance. Saya disuruh untuk memberikan berkas ini untuk Direktur." Renjun berkata dengan sedikit gugup,karena sungguh tatapan lelaki dedepannya ini seolah-olah ingin menelannya.
Lelaki itu kemudian berjalan melewati Renjun dan masuk keruangannya,",masuklah,kau mau diam saja disitu?"
Renjun pun bergegas masuk dan mengikuti lelaki tersebut,oh ternyata lelaki tersebut adalah Jung Jaehyun,direkturnya.
"Kemarikan berkasnya." Renjun segera menyerahkan berkasnya.
"Saya permisi dulu,Pak."
Saat Renjun hendak berbalik untuk pergi,
"Tunggu." Tiba-tiba Jaehyun bersuara dan menghentikan langkah Renjun,"kemari sebentar."
"Ya?" Renjun bingung,sungguh. Apa ia membuat kesalahan?
"Kemari Renjun." Melihat Renjun yang hanya berdiam dan mematung dengan wajah ketakutan itu,membuat Jaehyun sedikit melembutkan nada suaranya.
Renjun pun mendekat kearah Jaehyun yang sudah berdiri didepan mejanya. Dengan tiba-tiba,Jaehyun membersihkan sisa noda yang ada disamping bibir Renjun dengan sapu tangannya,"lain kali makan dengan rapi ya,"
Wajah Renjun langsung memerah,sungguh ia sangat malu sekali,ini bahkan hari pertamanya bekerja,dan ia sudah membuat malu dirinya sendiri.
'Te-terima kasih pak,saya bisa membersihkan diri sendiri."
"Tidak,biar saya saja." Jaehyun pun lanjut membersihkan wajah Renjun dengan lembut.
"Sudah,kau boleh keluar."
"Sekali lagi terima kasih pak,saya permisi." Setelah membungkuk memberi hormat,Renjun bergegas keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke ruangan kerjanya dengan wajah yang memerah. Dan membuat kepala bagiannya serta Ten,temannya menatapnya khawatir,
"Renjun,kenapa wajahmu? Kau dimarahi oleh direktur?"
Renjun langsung menggelengkan kepalanya begitu kepala bagiannya bertanya dengan nada khwatir,
"Tidak pak,Renjun hanya kepanasan saja. Sungguh." Mencoba meyakinkan kepala bagiannya dan temannya itu.
Setelah berhasil menyakinkan bahwa ia baik-baik saja,semua orang yang menatapnya khwatir itu pun kembali bekerja.
Waktu pulang sudah tiba,Renjun bersiap-siap untuk pulang dan berpamitan pada teman-temannya. Saat sudah diluar,Renjun berjalan menuju halte bus didepan kantornya. Sebenarnya ia bisa saja meminta ayah atau kakaknya untuk menjemputnya,tapi sekali lagi,Renjun ingin mandiri.
Bertepatan dengan Renjun sampai di halte,bus arah jurusan rumahnya daatang dan berhenti didepannya,mengetap kartu pembayaran kemudian ini bergegas masuk dan mencari tempat duduk dan buspun melaju.
Setelah sampai dirumahnya,Renjun masuk kerumah dan "Ibuuuu,Renjun pulaaanggg." Nada ceria itu selalu ia tampilkan ketika ia sedang senang.
Sang ibu yang kebetulan selesai memasakpun menyambutnya dengan senyum lembutnya dan memeluk anak bungsunya itu ketika sang anak merentangkan tangannya minta peluk. Selalu seperti ini,kata Renjun itu adalah satu upaya dirinya untuk mencharger agar energinya pulih kembali setelah beraktifitas seharian.
"Bagaimana hari ini hm? Berjalan lancar?" Renjun menganggukkan kepalanya dalam pelukan sang ibu ketika ditanya.
"Syukurlah. Mandi dulu kemudian kita makan malam bersama hm." Kata Ibu Win sambil mengelus kepala si bungsu,Renjun bergegas kekamarnya di lantai dua dan kemudian bebersih.
