Drama Pagi Hari(Sudah di Revisi)

135 7 9
                                        

Matahari belum sepenuhnya tegak di atas langit Yogyakarta, namun kediaman keluarga besar Sasongko sudah sewangi bunga tujuh rupa.

Bukan karena ada upacara adat, melainkan karena keringat Sri Khandhini-gadis bertubuh mungil dengan senyum secerah fajar-mengeluarkan aroma melati dan sedap malam yang pekat. Ia terlahir sebagai gadis tulang wangi (darah manis).

"Aduh! Gusti Allah, Dhini!" jerit Biyung Ratmi(ibu Dhini )saat mendengar suara benda pecah dari arah dapur.

Dhini meringis, memegangi jempol kakinya yang tertimpa cobek batu. Di lantai, sambal bawang buatannya berserakan bersama pecahan batu.

Bukannya menangis, Dhini malah tertawa lebar hingga matanya menyipit, menampilkan deretan gigi kelinci yang lucu.

"Hehe, maaf, Biyung! Dhini tadi mau buru-buru beresin barang buat KKN (Kuliah Kerja Nyata) besok pagi sama mau ambil beberapa barang. Eh, cobeknya malah melompat sendiri..jadi bukan salah Dhini biyung cobeknya saja yang nakal hehe..!" seru Dhini dengan nada ceria tanpa beban.

"Salahin cobeknya biyung yang atraksi pagi pagi gini hehehe... Jangan salahin Dhini yaa" Sambungnya dengan ekspresi yang menggemaskan.

Biyung Ratmi mengelus dada, wajahnya yang sepuh memancarkan kecemasan yang mendalam.

Beliau mendekati Dhini, lalu mengusap sisa keringat di pelipis anak gadisnya. Seketika, aroma mistis melati menguar makin tajam.

"Dhini, nduk, kowe itu tulang wangi,Kudune awakmu kui ati ati ndukk"(Dhini, nak,kamu itu tulang wangi,harusnya kamu hati hati nak).
bisik Biyung Ratmi, suaranya mendadak berat dan bergetar, kental dengan aura mistis Jawa kuno.

"Nenek moyangmu mewariskan darah yang disukai para alus. Kecerobohanmu itu bisa jadi lubang buat mereka masuk. Apalagi besok kamu mau pergi ke Desa Penari Kelabu di lereng Gunung Kendheng. Tempat itu masih wingit(angker, kramat, atau memiliki aura mistis yang kuat).Nduk."

"Seng ngati ati nduk,biyung Ndak mau kecerobohan mu jadi tatune jiwamu nduk" (yang hati hati nak, Biyung (ibu) gak mau kecerobohan mu jadi lukanya jiwamu nak).

Romo Sasongko (bapak Dhini) yang sedang membersihkan keris pusaka di sudut ruangan ikut angkat bicara.

Suaranya ngebass, berwibawa, dan dingin. "Biyungmu bener, Dhini. Wong sing darah manis iku kudu waspada. Ojo sembrono. Malam ini, sebelum kamu berangkat, Romo mau kamu lek-lekan (tirakat malam) dan membasuh kakimu dengan air rendaman kembang dadap serep."
( Biyungmu bener,Dhini.. orang yang darah nya manis itu harus waspada,jangan sembarangan/ceroboh. Malam ini sebelum kamu berangkat,Romo mau kamu tirakat malam dan membasuh kakimu dengan rendaman air bunga dadap serep)

{Kembang dadap serep(Erythrina subumbrans), sebuah tanaman herbal yang sangat populer dalam tradisi pengobatan masyarakat Jawa dan Indonesia. Pohon ini dikenal memiliki sifat mendinginkan, di mana kata serep atau srep dalam bahasa Jawa berarti dingin atau menyejukkan.}

Dhini mengerucutkan bibirnya, namun matanya tetap berbinar jenaka.

"Siap, Romo! Siap, Biyung! Dhini kan anak kuat. Lagian, di sana nanti kan ada Mas Danu. Dia janji mau jagain Dhini selama KKN satu kelompok."

"Romo sama biyung tenang aja Dhini kan powerenjers jadi kuat heheh"seru dhini mengingat nama Danu senyum Dhini makin melebar.

Danu adalah kekasihnya sejak semester awal kuliah. Seorang mahasiswa berprestasi yang selalu terlihat pelindung. Demi merayakan keberangkatan besok, Dhini sudah berjanji akan bertemu Danu di taman kampus sore ini.

•🍂🍂🍂🍂•

Rencana nya Dhini akan membuatkan bolu pandan untuk Danu yang akan dimakan bersama sambil bersenda gurau, nah itu lah yang ada dibayangan Dhini hingga memunculkan semburat merah samar di pipinya.

" Pasti mas Danu suka nih sama bolu pandan spesial buatan ku soalnya buatnya dengan penuh cinta hehehe" ucapnya lirih dengan nada penuh keyakinan, dengan penuh semangat Dhini pun membuat kue bolu pandan dengan penuh cinta.

Ya walaupun sempat terjadi kekacauan lagi di dapur.

"Ya allahhh gustiii romooo.... Anakmuu Jan Ndak umummm tenan"(ya Allah Tuhanku romo...anakmu bener bener luar biasa).pekik Biyung sebab melihat kekacauan di dapur kesayangan nya.

" Ampunnnn biyungg nanti Dhini bersihin deh"jawab Dhini sambil menggaruk kepalanya dengan cengiran khas nya dan muka dan badannya yang cemong karna cipratan terigu.

Romo yang melihat drama kecil itu pun tersenyum melihat kelakuan anaknya yang diluar nalar.

"Baru tadi pagi dia ngancurin cobek biyungnya, sekarang malah buat dapur kesayangan biyung nya kaya kapal pecah" Romo sasongko hanya menggeleng kan kepalanya melihat ceroboh nya sang anak.

"Mugo cerobohmu Ra ngawe cilokone awakmu yo nduk"(semoga ceroboh mu gak bikin celakanya dirimu ya nak).lirihnya penuh harapan.

Sendari Kecil Sri Khandhini ini memang sangat ceroboh, Tidak hanya ceroboh Dhini pun tergolong anak yang sensitif pada hal gaib.

Karna dikhawatirkan membahayakan diri Dhini akhirnya mata batinnya pun ditutup dan disegel oleh Romo,agar menjauhkan dari hal hal negatif serta menidurkan khodam Dhini sementara. Hingga waktu yang ditentukan.

Namun yang jadi pikiran Romo sasongko beberapa tahun ini segel batin Dhini mulai retak semenjak beranjak dewasa, segel ghaib yang menutupi mata batin nya dan mengunci khodam nya juga mulai melemah, Maka dari itu Romo selalu berpesan pada Dhini supaya sabar 'keporo ngalah rebutan ngalah' agar segel batin nya tidak pecah.

•keporo ngalah rebutan ngalah•
{Perkara ngalah rebutan ngalah'}


Hai hai guyss makasih banget ya yang udah mampir buat baca cerita ruwet ku ya guyss.....yang udah vote juga terimakasih banyak ya khususnya buat Biduy(Tuyul) terimakasih support nya ya lopyu sekebonnn...

Oh iya guys buat kalian yang mau kasih kritik dan saran boleh tulis aja ya guysss.

Wewangi Darah, Sepahit Sumpah{On Going}Histórias para pegar e não largar. Descubra agora