Hujan turun perlahan malam itu.
Membasahi jalanan yang mulai sepi dan menyisakan dingin yang menusuk hingga ke dalam dada.
di bawah lampu temaram halte, Laras Anindya Kirana berdiri mematung, memeluk diri sendiri. Entah karena kedinginan karena udara malam yang terlalu dingin, atau karena ucapan yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu.
Dan mungkin saja keduanya.
Di hadapannya, Damar arkana Bumantara berdiri tanpa mengatakan apapun.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, tidak ada senyum manis yang menghiasi wajah pria itu.
Tidak ada tatapan hangat yang membuat Laras tenang.
Yang ada diantara mereka hanyalah keheningan.
Hening yang mampu membuat hati laras sakit, lebih menyakitkan daripada pertengkaran apapun.
"Laras."
Suara damar terdengar pelan.
Laras menunduk, berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.
"Aku capek."
Dua kata sederhana.
Namun berhasil meruntuhkan semua yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Laras tertawa kecil, bukan tawa bahagia melainkan tawa tanda kekecewaan.
"Jadi ini akhirnya?"
Damar tidak langsung menjawab.
Dan diamnya dia adalah jawaban paling menyakitkan.
Laras mengangguk pelan.
Seakan mengerti bahwa malam itu memang tidak bisa di selamatkan lagi.
"Kalau memang itu yang kamu mau..."
Suaranya bergetar.
"...kita selesai."
Untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara hujan yang jatuh satu per satu di atas aspal.
Laras menunggu.
Menunggu Damar membantah.
Menunggu pria itu menarik tangannya dan mengatakan bahwa semua ini hanya emosi sesaat.
Seperti yang selalu terjadi setiap kali mereka bertengkar.
Namun tidak ada apa-apa.
Damar hanya berdiri di tempatnya.
Diam.
Dan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Air mata pertama akhirnya jatuh membasahi pipi Laras.
Ia tersenyum tipis, meski rasanya jauh lebih menyakitkan daripada menangis.
"Terima kasih."
Damar mengangkat kepalanya.
Laras menatap pria yang pernah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun.
Pria yang pernah ia pikir akan berdiri di sampingnya sampai akhir.
"Terima kasih udah jadi bagian terbaik dalam hidup aku."
Setelah mengatakan itu, Laras berbalik.
Melangkah menjauh.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Dan tak sekali pun ia menoleh ke belakang.
Karena ia tahu, jika Damar ingin bertahan, pria itu sudah menahannya sejak tadi.
Malam itu, Laras kehilangan seseorang yang paling ia cintai.
Dan malam itu pula, Damar membiarkan orang yang paling ia cintai pergi.
Tanpa mereka sadari, perpisahan itu bukanlah akhir dari cerita mereka.
Melainkan awal dari takdir yang akan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.
HELLO GUYS
SELAMAT DATANG DI CERITAKU
SORRY YA MASIH BERANTAKAN
INI CERITA PERTAMAKU
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YAA☺️
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Back to Us
RomantikDamar Arkana Bumantara dan Laras Anindya Kirana pernah menjadi pasangan yang dikira akan berakhir di pelaminan. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perpisahan membuat keduanya memilih berjalan di jalan masing-masing, meninggalkan kenangan dan luka y...
