Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Suasana kelas 11.1 yang tadinya ramai perlahan mulai sepi. Beberapa murid langsung pulang, sebagian lagi masih sibuk mengobrol sambil membereskan buku.
Yara menghela napas panjang lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Anjir, capek banget."
Sera yang sedang merapikan buku langsung melirik sahabatnya itu sambil tertawa kecil.
"Baru juga senin, yar"
"Makanya. Baru senin udah pengen libur"
Sera menutup tasnya lalu berdiri.
"Ke cafe yuk."
Yara langsung mengangkat kepala.
"Malam?"
"Iya."
"Males."
"Gw traktir deh."
Yara yang tadinya malas langsung duduk tegak.
"Kenapa gak bilang dari tadi?, kalo gitu mah gw mau"
Sera tertawa.
"Dasar."
"Cafe yang kemarin direkomendasiin sepupu gw katanya bagus."
Yara mengangguk pelan.
"Yaudah. Jam delapan gw jemput."
"okee, yaudah gw duluan udah di jemput"
"Ya hati-hati lu"
"Lu juga"
Malam pun tiba.
Sera yang sudah siap berdiri di depan rumah sambil memainkan ponselnya mulai melirik jam untuk ketiga kalinya.
"Ni anak jangan bilang telat lagi."
BRUMM.
Sebuah mobil aston martin berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Kaca mobil terbuka perlahan.
"Masuk."
Sera langsung melongo.
"Anjir, kacamata hitam lo buat apaan? udah malam."
Yara terkekeh.
"Style."
"Najis."
"Makasih."
Begitu masuk, Sera langsung menghirup aroma mobil itu.
"Wangi banget."
"Jelas, mobil gw."
"Lo kalo gak narsis sehari bisa mati ya?"
"Bisa sih."
"Tapi dunia kurang indah."
Sera langsung tertawa. Sepanjang perjalanan mereka dipenuhi obrolan tidak penting. Mulai dari guru matematika yang galak, tugas sejarah yang belum dikerjakan, sampai gosip anak satu sekolah.
"Eh si Cesa jadi sama si Reja?"
"Gatau."
"Kemarin pegangan tangan."
"Loh bukannya gaada hubungan."
"Ya kali aja. Kan justfriend."
Tawa mereka memenuhi mobil.
Sampai tiba-tiba.....
BRUMM!!
Sebuah mobil hitam melaju sangat cepat dari samping mereka.
"HAMPIR AJA!"
Yara refleks menginjak rem.
"ANJIR!"
Sera yang hampir membentur dashboard langsung memegang dadanya.
"Tu orang gila apa gimana sih?!"
Yara langsung memukul setir pelan.
"Kalau tadi nyenggol gimana?!"
"Gw kaget, anjir!"
"Tu mobil ngebut amat"
Sera masih mengatur napas.
"Kayanya gw sempet liat platnya."
"Buat apa?"
"Refleks."
Yara kembali menginjak gas.
"Sialan."
Tak lama kemudian mereka sampai di cafe yang direkomendasikan sepupu sera. Bangunannya megah dengan lampu-lampu hangat yang membuat suasana malam terasa nyaman.
"Buset."
Yara memandang bangunan di depannya.
"Bagus juga."
"Gw bilang juga apa"
Begitu melangkah masuk, mereka langsung menuju meja hostess untuk menanyakan letak ruangan mereka. Setelah memeriksa daftar pesanan atas nama Sera, hostess tersebut tersenyum ramah lalu mengantarkan mereka menuju area VIP yang telah dipesan.
tak lama setelah mereka duduk, makanan dan minuman mulai berdatangan satu persatu. Dan seperti biasa, dua sahabat itu tidak pernah kehabisan topik. Mereka tertawa, bercerita.
Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Anjir."
Yara melihat jam di ponselnya.
"Udah jam satu pagi."
"Mana besok sekolah lagi."
Mereka pun turun menuju parkiran. Namun langkah yara tiba-tiba terhenti. Matanya memperhatikan sebuah mobil hitam yang terpakir beberapa meter dari mereka.
Alisnya langsung berkerut.
"Ser."
"Hm?"
"Itu..."
Sera mengikuti arah pandang yara. Dan seketika matanya membesar.
"Anjir."
"Iya kan?"
"Platnya sama."
"Itu mobil tadi."
Di samping mobil itu berdiri dua cowo. Salah satunya sedang memainkan ponsel sambil bersandar santai. Sedangkan yang satunya lagi baru saja membuka pintu mobil.
Yara menyipitkan mata.
"Samperin yuk."
Sera langsung menoleh cepat.
"Hah?"
"Samperin."
"Gak."
"Gw kesel."
"Ngapain cari masalah?"
Yara sudah melangkah lebih dulu.
Sera memejamkan mata pasrah.
"Ya Tuhan....."
YOU ARE READING
Dangerous Attraction
RomanceTidak semua pertemuan dimulai dengan indah. Yara Cordelia Valerius hanya ingin menikmati malam bersama sahabatnya, Sera Valencia. Namun sebuah mobil yang hampir menabrak mereka justru menjadi awal dari kekacauan yang tak pernah mereka bayangkan. Kel...
