We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Senandung Peluru. #SunNote

207 15 2
                                        

SELAMAT MEMBACA! ☀️🎵








Hujan deras mengguyur kota malam itu, membuat jalanan berlumpur dan berkilau di bawah cahaya lampu jalan yang remang. Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, udara terasa berat, bercampur bau minyak tanah, besi berkarat, dan sesuatu yang samar-samar berbau bahaya. Di sudut ruangan, di atas meja kerja yang penuh dengan komponen logam dan sketsa rumit, duduklah Arjuna Arkana.

Pria berusia 28 tahun itu menunduk, matanya tajam meneliti susunan peluru yang sedang ia rakit. Jari-jarinya yang panjang dan kasar bergerak lincah, presisi, seolah besi dan baja itu menuruti setiap perintahnya. Tingginya yang 180 sentimeter membuat sosoknya tampak menjulang dan mengintimidasi, dibalut jaket kulit hitam yang sudah kusam dan celana panjang yang terlihat biasa saja, namun setiap jahitannya menyembunyikan pisau dan alat penyangrai. Arjuna dikenal dingin, jarang bicara, dan jika berbicara, suaranya rendah dan tajam, seperti peringatan bahwa ia bukan orang yang bisa didekati sembarangan. Ia adalah agen rahasia, seorang pembunuh bayaran negara sekaligus jenius dalam merancang senjata yang bahkan belum pernah ada di pasaran gelap. Orang-orang menyebutnya berbahaya, dan itu bukan sekedar gosip. Ia emosian, mudah meledak marah jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, dan memiliki sifat tsundere yang aneh, ia akan bersikap kasar dan menjauh, namun diam-diam memastikan orang yang ia anggap penting tetap aman. Yang paling jelas, ia membenci sentuhan fisik. Jangan pernah menyentuhnya, atau tangan yang biasa merakit senjata itu akan langsung melesat ke lehermu dalam sepersekian detik.

Arjuna baru saja menyelesaikan perakitan senapan laras panjang khusus, ketika suara berisik dari pintu utama yang terbuka paksa memecah keheningan.

"Ahh-! Maaf, maaf banget! Aku enggak sengaja nyasar!"

Suara itu renyah, lembut, dan terdengar sangat panik. Arjuna mendongak perlahan, matanya yang tajam menyipit menatap sosok yang berdiri di ambang pintu, basah kuyup oleh air hujan.

Di sana berdiri Yudistira Yogendra. Usianya baru menginjak 20 tahun, tinggi badannya 170 sentimeter, membuatnya terlihat kecil di hadapan Arjuna. Namun, hal pertama yang menarik perhatian bukanlah ukuran tubuhnya, melainkan wajahnya. Yudistira memiliki wajah yang begitu halus, cantik, dan lembut, sehingga banyak orang salah mengira ia perempuan jika melihatnya dari jauh. Rambut hitamnya yang sedikit panjang menutupi dahi, matanya besar dan berbinar polos, sementara bibirnya yang merah muda sedikit bergetar karena kedinginan atau ketakutan. Ia memakai jaket jeans yang kebesaran dan membawa tas punggung berisi gitar akustik yang ia peluk erat di dada. Yudistira adalah penyanyi berbakat, bisa menyanyikan segala jenis lagu dan menguasai semua jenis gitar yang ada. Sifatnya sangat kontras dengan tempat ia berdiri sekarang, polos, sangat baik hati, sedikit pemalu, dan punya kebiasaan aneh yang sering membuat orang lain geleng-geleng kepala, orang-orang menyebutnya asbun, atau asal bunyi. Ia sering bicara sendiri, menyimpulkan hal-hal yang tidak masuk akal, dan paling parah... ia sangat suka Skinship. Bagi Yudistira, memeluk, memegang lengan, atau menempel pada orang lain adalah cara ia menunjukkan rasa nyaman.

Dan sekarang, ia berdiri di hadapan pria paling berbahaya di kota ini, dengan ekspresi bingung dan tak bersalah.

Arjuna meletakkan tangannya di meja, jari-jarinya mengetuk pelan besi dingin. "Siapa kamu? Dan bagaimana kamu bisa sampai ke sini?" suaranya rendah, penuh ancaman.

Yudistira tersentak kaget, lalu tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm... aku Tira! Aku lagi cari tempat berteduh soalnya hujannya deras banget, terus aku lihat pintunya agak terbuka... ehh, tapi tempat ini keren banget loh! Banyak besi-besi aneh, apa ini bengkel?" Ia berjalan masuk tanpa rasa takut, matanya berbinar melihat peralatan di meja. "Wah, kamu tukang las ya? Atau mekanik? Aku suka banget benda-benda logam, tapi aku lebih jago main gitar sih. Kamu suka musik enggak? Kalau suka, nanti aku nyanyi deh buat kamu! Suaraku enak loh, kata orang-orang sih kayak malaikat-"

SHORT STORY | NOTE Stories to obsess over. Discover now