Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 1 (Siapa yang berbohong?)

201 17 5
                                        

Begini, Elio itu nakal. Dia itu mahasiswa tahun terakhir, tapi bukannya memikirkan bagaimana cara dia lulus dan dimana dia akan bekerja setelah itu. Elio hanya akan mengatakan kalimat bodoh, "Jika aku tidak menerima Ayden, semua asrama perempuanku bisa kabur"

Bahkan, teman dekatnya Aji hanya bisa mengumpat diam. Ini semua gara – gara Elio bergaul dengan Ziyu, teman barunya di Club. Tidak, lebih tepatnya Elio telah berguru pada Ziyu yang notabene adalah manusia kerusuhan para laki – laki dewasa menyodorkan tongkat mereka untuk masuk sedotan es teler.

Elio menyendok kue matcha dengan senyuman hangat dibibirnya, tatapannya tertuju pada gadis yang duduk didepannya. "Ester bagaimana dengan kuisnya, apa semuanya berjalan lancar? Apakah ada sesuatu yang kamu butuhkan? Semisal buku materi, pensil atau pulpen? Atau.." Elio tersenyum miring mencoba menggoda pada wanita yang sudah diincarnya selama satu bulan. Dia Ester, mahasiswa semester 4.

Ester tersenyum malu,"Sepertinya aku hanya butuh sepatu dan tas. Kupikir mereka perlu diganti secepatnya karena milikku sudah kadaluarsa."

Elio mengangguk semangat,"Dan apakah itu berarti jika aku membelikannya kita adalah sepasang kekasih?"

Dengan Gerakan pelan, Ester menyentuh tangan Elio."Kenapa Gege mempertanyakan hal itu? Tentu saja sekarang kita adalah sepasang kekasih.."

Elio tersipu, lalu matanya berbinar cerah."Nah, kalau begitu sekarang kita-"

Perkataannya terhenti, tatkala dering ponselnya terus berbunyi.

Dia menemukan panggilan tak terjawab dari Ayden selama 30x, dan panggilan Dari Aji sebanyak 3x. Lalu.. notifikasi social medianya begitu terus terusan berdenting tanpa henti.

Sebenarnya, Elio memiliki dua ponsel. Satu khusus untuk Ayden, dan satu lagi khusus teman dan ekhem.. Perempuan mungielnya. Ayden mengetahuinya? Tentu saja tidak akan pernah. Elio bisa mati kalau Ayden tahu.

"Kenapa?" Ester bertanya ketika Elio diam menunduk menatap ponselnya.

Elio menggeleng, dia kemudian berdiri. "Kau pesan lagi saja, aku akan menelpon seseorang sebentar."

Langkah kakinya menuju tempat duduk diluar Café. Hal pertama yang Elio lakukan adalah mengecek media sosialnya, dan seketika itu matanya tak pernah berkedip lagi. Disana.. Ayden mencarinya dengan memposting foto dirinya yang sedang memakan sebuah roti. Elio bahkan melihat Aji ikut campur dan membuat repost coment tentang postingan Ayden, padahal sebelumnya Aji telah sepakat menutup mulut.

Tanpa pikir panjang, Elio menghubungi nomor Aji setelah sebelumnya mengirimi pesan peringatan.

Kamu pikir bokong dan tongkatmu dijual terpisah? Ayden mencarimu bodoh, dia baru saja pergi dari tempatku.

Elio bahkan sudah menyiapkan kata – kata mutira, tapi Aji lebih dulu berteriak memberikan kalimatnya.

"Lalu apa yang kau katakan? Aku sudah bilang kan.."

Ck. Aku bilang kau baru saja pergi karena dosen pembimbing memintamu untuk revisi bab satu.

"Kau serius mengatakan revisi bab satu? Kenapa tidak mengarangnya jadi bab Penutup?!"

Harusnya kau masih bersyukur besok bokongmu tidak robek. Lagi pula, dia percaya lalu pergi begitu saja.

Elio bernafas lega mendengarnya, dia menggaruk tengkuk.

Cepat temui lelaki dewasamu, dia sepertinya tidak dalam keadaan mood yang baik. Dan Elio..

Suara Aji agak serak dan terdengar ketakutan.

Kupikir, Ayden tidak melihatmu sebagai baby sugarnya seperti apa yang menjadi tujuan dan pikiranmu. Dia..rrh- terlihat sangat ingin membunuhku saat aku bilang akan menjagamu. Sebaiknya persiapkan dirimu dan terjebak dalam naskah konyolmu itu.

MY FOREVER CRUSHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang