Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

01. Sihirnya Telah Hilang?

238 97 35
                                        

Pertempuran sengit pecah antara prajurit Istana Ajib dan para penyihir Desa Rawa. Seorang prajurit ambruk dari pelana, lumpuh oleh panah beracun yang menembus zirahnya. Tepat sebelum kesadarannya runtuh menjadi kegelapan, pandangannya menangkap sesosok perempuan berkuda. Perempuan itu menerobos kekacauan, lalu mencengkeram tubuhnya dan menyeretnya menjauh dari medan maut.

Entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Saat membuka mata, ia mendapati seorang perempuan sedang duduk di samping tempat tidurnya. Prajurit itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, menyadari bahwa ia tengah berbaring di dalam sebuah gubuk beratap jerami, dengan alas tidur berupa tumpukan jerami berlapis kain tipis.

"Akhirnya kau sadar, Pangeran," ucap seorang perempuan. Tatapan mereka bertemu, tepat saat sebuah senyuman misterius tersungging di bibir perempuan itu.

"Apa maksudmu? Aku bukan seorang pangeran. Aku hanya prajurit biasa," elak prajurit tersebut.

"Hanya pangeran dari Istana Ajib yang berhak mengenakan kalung bulan sabit ini. Bagaimana mungkin kau tidak tahu, Tuan Pembohong?"

"Aku sengaja memakai kalung itu hanya untuk mengelabui para penyihir seperti kalian!"

"Kau mungkin berhasil memperdaya para penyihir bodoh yang kusebut teman itu, Tuan. Tapi jangan harap kau bisa mengelabui mataku," tekan perempuan itu, satu-satunya penyihir dari pertempuran hari itu yang berhasil membaca siasatnya.

Perempuan itu menopang dagu dengan tangan kanannya. Tubuhnya merunduk perlahan, mengikis jarak dengan pangeran yang masih terbaring pasrah. "Aku tidak keberatan membantumu, bahkan bersandiwara seakan-akan aku tidak tahu kau adalah pangeran dari Istana Ajib," bisiknya penuh intrik. "Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi."

"Kau harus membantuku mencari bunga ...." Perempuan itu sengaja menggantung ucapannya, lalu menyunggingkan senyum penuh arti. "Ah, bukan mencari, melainkan mencuri bunga legendaris yang mampu melipatgandakan kekuatan sihirku. Bunga itu konon hanya mekar di Istana Ajib, jadi kau harus bersedia menuruti keinginan penyihir cantik ini."

Perempuan itu menatapnya dengan senyuman yang melengkung di bibir. Kerlingan matanya yang genit seketika membuat pangeran mendelik kaget.

"Lebih baik aku mati," desis pangeran dingin, "daripada membantu penyihir licik seperti dirimu."

Senyum di bibir penyihir itu seketika menghilang.

"Anggaplah aku licik, aku menyukainya. Julukan licik itu terdengar merdu di telingaku." Perkataan penyihir itu membuat pangeran benar-benar tidak habis pikir.

"Arunika!" Suara itu membuat keduanya menoleh ke arah pintu masuk.

"Para penyihir akan segera tiba untuk memastikan apakah prajurit itu masih bernapas. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tenanglah, wahai saudariku, Amasraya. Aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Jika mereka datang, biarkan saja mereka masuk dan melihat jasad dari Tuan tampan ini."

"Arunika?" gumam pangeran.

"Maafkan aku, Tuan," tutur Arunika. Ia langsung membekap mulut pangeran dengan kain yang telah dibubuhi racun, membuat pria itu mati suri selama dua jam.

Saat melihat tubuh yang tadinya meronta kini terbujur kaku, Arunika segera memosisikan kepala pangeran ke atas alas jerami seraya berbisik, "Ini demi kebaikan kita bersama."

***

Pangeran tersadar dan mendapati dirinya terbaring di atas punggung burung raksasa bersayap emas. Sentakan kagetnya yang tiba-tiba hampir membuatnya tergelincir jatuh, beruntung Arunika dengan cepat menarik lengan kirinya.

Akhir di Tengah (Tamat) Histórias para pegar e não largar. Descubra agora