Pukul dua pagi, dan seperti biasa, Aria Ramadhani—mahasiswi semester delapan yang katanya "tinggal skripsi doang"—masih terjaga di kosannya yang berantakan, ditemani cahaya layar HP yang menyilaukan dan semangkuk mie instan yang udah dingin dari setengah jam lalu.
"Bentar lagi, bentar lagi," gumamnya sambil scroll TikTok untuk yang kesekian kalinya, padahal besok—oh tunggu, hari ini—dia ada bimbingan jam sembilan pagi. Tapi siapa peduli soal jam bimbingan kalau ada video kucing lucu yang harus ditonton sampai habis?
Begitulah Aria. Kalau ada kontes "Mahasiswi Paling Mager se-Indonesia," dia mungkin gak menang juara satu—karena dia juga terlalu mager buat daftar lomba—tapi pasti masuk nominasi.
Hidupnya simpel, sebenarnya. Bangun siang (kalau gak ada kelas), makan seadanya, kerja paruh waktu sebagai admin online shop yang gajinya pas-pasan tapi at least halal, dan menghabiskan sisa waktu buat rebahan sambil mikirin "kapan ya jadi orang kaya tanpa kerja keras." Filosofi hidupnya cuma satu: santuy aja, toh besok masih ada hari esok.
Soal duit, jangan ditanya. Aria itu mata duitan tingkat akut. Bukan tipe yang serakah sampai nipu orang, tapi tipe yang kalau ada diskon dia rela jalan kaki dua kilo demi hemat ongkos. Tipe yang kalau temen ngajak makan di luar, pasti nanya dulu, "Ada promo gak? Pake GoPay aja ya, lagi cashback."
"Aria, lo tau gak sih, hidup lo tuh udah kayak sinetron receh," kata Kirana, sahabatnya sejak SMA, suatu hari di kantin kampus sambil ngeliatin Aria yang lagi ngitung struk belanjaan demi mastiin gak ada yang salah hitung.
"Receh emang gue, kan emang lagi nyari recehan buat bayar parkir," jawab Aria asal, gak nyadar pun maksud Kirana.
Kirana cuma geleng-geleng. "Bukan itu maksud gue, woi."
Selain Kirana, ada juga Bara, temen satu angkatan yang sering jadi korban kepolosan—atau lebih tepatnya kebodoan strategis—Aria. Bara ini tipe cowok baik hati yang selalu kena PHP soal traktiran.
"Ar, lo kan kemarin bilang mau traktir gue kalau tugas akhir lo kelar," protes Bara suatu siang, pas mereka nongkrong di warkop dekat kampus.
"Lah, tugas akhir gue kan belum kelar, Ba. Logikanya gimana sih," balas Aria santai sambil nyeruput es teh yang dia minta gratis tambahan karena "kemarin yang ini kurang manis."
"Tapi kan lo yang nyebut duluan—"
"Itu kan motivasi diri, Bara. Biar semangat. Bukan kontrak notaris." Aria nyengir lebar, dan Bara cuma bisa pasrah. Begitulah hari-hari mereka berlalu—penuh drama receh, obrolan gak penting, dan tawa yang gak ada habisnya.
Tapi di balik semua kemalasan dan sifat masa bodohnya, ada satu hal yang Aria sukai banget sejak kecil: dunia fantasi. Khususnya, Harry Potter.
Dia bukan cuma penggemar biasa. Aria itu, bisa dibilang, separuh nyawanya ada di dunia sihir itu. Novelnya udah dibaca berkali-kali sampai sampulnya lecek, filmnya udah ditonton entah berapa ratus kali, bahkan dia punya playlist khusus soundtrack Harry Potter yang diputer pas lagi mager di kos.
"Coba gue jadi penyihir," gumamnya suatu malam sambil mantengin ulang adegan pertarungan Harry vs Voldemort di laptop yang udah lemot. "Pasti hidup gue gak seburam ini."
Dia ngebayangin, kalau aja dia bisa masuk ke dunia itu, mungkin dia bisa jadi penyihir keren, atau minimal jadi murid Hogwarts yang anteng aja duduk di pojokan sambil makan permen Bertie Bott's tanpa perlu mikirin UKT atau tugas akhir.
Tapi ya, itu cuma fantasi. Toh, gak mungkin kan tiba-tiba ada portal yang muncul terus dia masuk ke dunia sihir beneran? Itu cuma ada di novel-novel fanfiction yang sering dia baca di sela-sela waktu kosong—iya, Aria juga gemar baca cerita-cerita transmigrasi receh semacam itu, sambil ngebatin, "Enak banget ya jadi tokoh utama, tiba-tiba pindah dunia, ketemu cowok-cowok ganteng."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Kos-kosan ke Hogwarts
FantasyJatuh dari Bintang Aria Ramadhani, mahasiswi semester akhir yang hidupnya berputar di sekitar rebahan, mie instan, dan penghindaran skripsi, tidak pernah menyangka bahwa malam biasa di kosannya akan berakhir dengan dia jatuh dari langit tepat di dep...
