Di sebuah mansion mewah, dua orang pria tengah menikmati hidangan pagi mereka. Suasana yang seharusnya hangat justru dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.
"Sayang, hari ini aku ada dinas ke luar kota. Mungkin sekitar sebulan."
Lelaki manis yang sedari tadi fokus pada sarapannya menghentikan gerakan sendoknya. Ia mengangkat kepala perlahan, menatap pria di seberangnya dengan sorot mata datar.
"Bukannya baru kemarin kamu pergi dinas?" tanyanya. "Sekarang mau pergi lagi?"
Ada jeda singkat.
"Sesibuk itu perusahaan sekarang?"
Mingyu tersenyum tipis.
"Begitulah. Sejak aku mengambil alih perusahaan, semuanya jadi lebih padat. Banyak kerja sama yang harus aku tangani sendiri. Apalagi sekarang aku sedang menjalankan proyek besar dengan salah satu perusahaan ternama."
Jeongguk hanya mengangguk kecil.
Alasan yang sama.
Lagi.
Dan lagi.
Seolah tidak ada kalimat lain yang bisa keluar dari mulut suaminya.
"Terserah."
Jawaban singkat itu membuat rahang Mingyu mengeras.
"Ngomong-ngomong, seminggu ke depan aku juga tidak akan berada di rumah."
"Kemana?" tanya Mingyu cepat.
Jeongguk menyeka sudut bibirnya menggunakan serbet.
"Aku juga punya kesibukan sendiri. Bukan cuma kamu yang sibuk."
Untuk sesaat, suasana meja makan menjadi jauh lebih dingin.
Mingyu menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai merambat naik.
"Sayang, bukan begitu maksudku. Aku bekerja keras juga untuk menafkahi-"
Srak
Ucapan itu terputus oleh suara kursi yang bergeser kasar.
Jeongguk berdiri.
"Aku sudah selesai makan."
Nada suaranya dingin. Dingin sekali.
"Sebaiknya kau berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat."
Tanpa menunggu balasan, ia melangkah meninggalkan ruang makan. Namun bukannya menuju lantai atas, Jeongguk justru berjalan ke arah pintu utama mansion.
Seorang ajudan yang berdiri di dekat sana refleks menyerahkan kunci mobil saat pria itu mengulurkan tangan.
"Aku akan menyetir sendiri hari ini."
Tidak ada ruang untuk bantahan.
Pintu utama terbuka, lalu tertutup kembali dengan suara keras.
Meninggalkan Mingyu yang masih duduk di tempatnya.
Pria itu mengepalkan tangan di bawah meja. Tatapannya gelap. Penuh amarah kebencian.
"Dasar Jeon sialan..." Rahangnya mengeras. "Berani sekali kau membangkang."
-
Pintu mansion menutup dengan dentuman keras yang menggema hingga ke sudut ruangan.
Jeongguk mengembuskan napas panjang begitu berhasil menghirup udara luar. Rasanya sesak.
Selalu sesak. Entah sejak kapan meja makan yang dahulu menjadi tempat mereka berbagi cerita berubah menjadi medan perang yang dipenuhi kebohongan.
YOU ARE READING
If I Only Choose You -Taekook
FanfictionJeongguk kembali ke usia delapan belas tahun dengan seluruh ingatan dari kehidupan yang telah hancur. Kini, di hadapan kesempatan kedua yang mustahil, ia hanya memiliki satu tujuan. Mengubah akhir dari cerita yang pernah menghancurkan hidupnya. Mesk...
