Suatu malam di sebuah hotel mewah kawasan Sudirman, Jakarta, kamar suite lantai tinggi menjadi saksi kegilaan dua manusia yang haus akan kenikmatan.
Lampu kamar hanya menyala redup. Tirai jendela sengaja dibuka lebar tidak tertutup tirai, memperlihatkan pemandangan kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Seorang wanita cantik sedang menungging di depan kaca jendela yang lebar, kedua telapak tangannya menempel kuat di permukaan dingin jendela itu. Gaun berwarna biru tua ketatnya sudah tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan bokong putih dan dibasahi oleh keringat nafsu. Di belakangnya, seorang pria bertubuh atletis memompa dengan cepat, kuat, dan rakus.
"Ahh! Sialan... memek lo jepit banget," geram pria itu sambil mencengkeram pinggul wanita tersebut dengan kedua tangan besarnya, menariknya keras ke belakang setiap kali ia mendorong maju.
"Kontol lo yang makin gede, anjing! Kencengin... Ver ahhh!"
Iya, seorang pria yang saat ini sedang menggagahi wanita didepannya itu bernama Alvero, atau bisa dipanggil Vero. Baginya kehidupan malam terutama seks adalah makanan harian untuknya. Wanita dari berbagai ras berhasil ia takluki untuk tidur bersamanya, anak-anak sepantarannya, junior di kampusnya, bahkan seorang wanita yang sudah memiliki pasangan juga berhasil ia gagahi. Baginya, wanita hadir untuk memuaskan nafsu. Ketika bosan dengan persetubuhan biasa, ia senang sekali mengeksplorasi lebih jauh kedalam hal gila yang biasa disebut "BDSM". Perlahan dirinya merambah menjadi orang yang gila seks, bahkan hampir bisa dikatakan bahwa ia menjadi seorang masokis.
Dan wanita yang sedang ia gagahi malam ini adalah Marsha. Seorang primadona kampus. Tidak seperti primadona yang anggun, ia lebih kepada mawar yang beracun. Sangat mudah dikagumi keindahannya, namun racunnya sangat berbahaya. Baginya, Vero tidak lebih sebagai partner yang seimbang untuk saling memuaskan nafsu.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
— plak plak plak —
Setiap hantaman menghasilkan suara basah yang mesum yang semakin lama semakin cepat. Vero mengumpulkan rambut Marsha dalam satu ikatan tangannya dan langsung menariknya dengan kasar, memaksa tubuh Marsha semakin melengkung lebih dalam, sementara tangan kirinya tak henti-henti meremas bongkahan bokong itu.
Mereka berdua seperti binatang yang saling menerkam. Tidak ada kata-kata lembut, tidak ada ciuman romantis. Hanya nafsu murni yang membara.
Vero terus memompa tanpa ampun, sesekali menepuk bokong wanita itu hingga memerah. Marsha yang terus dipompa terus-terusan dengan kencang, membuatnya semakin tenggelam dalam desahannya, ia mendorong bokongnya ke belakang untuk menyambut setiap hantaman.
"Ahhhh, kencengin laggiii! Fuck!"
Setelah beberapa menit menghantam dari belakang, Vero menarik diri, membalik tubuh Marsha tersebut dengan mudah, lalu mendudukkannya di atas meja rias. Dengan satu gerakan kasar, ia membuka lebar kedua paha wanita itu dan memasukkan kembali kejantanannya yang sudah menegang dalam ukuran jumbo.