"Winie... bangun."
"..."
"Woy winniee kebo!"
Masih tidak ada jawaban.
Panji menghela napas panjang sambil berdiri di samping kasur kembarannya. Selimut tebal masih menutupi hampir seluruh tubuh lelaki itu, bahkan kepalanya ikut disembunyikan.
"Kalau lima menit lagi lo nggak bangun, gue siram."
Dari balik selimut terdengar suara lirih.
"Ganggu banget..."
Panji mendecak. Ia menarik sedikit selimut itu.
"Lo sendiri yang semalam bilang mau ketemu Peter."
Tetap diam.
"Oke."
Panji mengangkat botol air mineral di nakas.
"Satu..."
"......"
"Dua..."
Tepat saat Panji hendak membuka tutup botol, terdengar suara laki-laki dari ruang tamu.
"Panji? Winie masih tidur?"
Mata Winora langsung terbuka.
"...Peter?"
Seketika ia bangkit dari kasur secepat kilat sampai rambutnya berantakan ke mana-mana.
"Hah? Peter udah dateng?!"
Panji sampai bengong beberapa detik sebelum refleks menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga..."
Barusan dibangunin setengah jam kayak orang mati.
Sekarang cuma gara-gara denger nama Peter langsung hidup lagi.
"Lo emang nggak ada obat."
Winie sudah sibuk lari ke kamar mandi.
"Lima menit!"
"Lima menit apanya?" teriak Panji.
"Lima menit gue jadi cantik!"
Panji hanya menggeleng pelan.
"Gue heran gimana caranya dia masih hidup."
⸻
Peter tersenyum kecil ketika melihat Winie keluar dari kamar.
"Hai."
Winie berhenti beberapa detik.
Jantungnya berdegup cepat.
Sudah hampir empat bulan mereka tidak bertemu.
Dulu mereka teman dekat saat SMA. Sekarang semuanya berubah sejak Peter diterima menjadi trainee idol. Jadwal latihan yang padat membuat mereka hampir tidak pernah punya waktu bertemu.
"Lo..."
Winie menunjuk Peter.
"Tambah ganteng."
Peter terkekeh.
"Serius?"
"Iya."
Panji yang sedang minum langsung menyela.
"Najis."
"Kagak nanya."
Peter tertawa makin keras.
Hari itu, karena sedang mendapat waktu senggang, Peter mengajak Winie jalan-jalan ke mall.
Awalnya semuanya berjalan biasa.
YOU ARE READING
Denial
FanfictionWinie anak sulung keluarga kodok yang dibuat bingung milih jodohnya
