*What's up Potterhead!!!😝🪄*
Gimana jadinya kalau kementerian dunia sihir melegalkan gadget iPad dan segala macem nya ke Hogwarts?, perseteruan asrama mungkin cuma gara gara kalah push rank mobile legends,house cup,sama Quidditch, selebihnya ak...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aula Besar Hogwarts jam tujuh malam sudah mirip kafe kekinian di Jakarta Selatan. Bedanya, lilin-lilin masih melayang di langit-langit, berbaur dengan kepulan asap dari jampi-jampi anak kelas tujuh yang lagi gabut. Di meja Gryffindor, Harry Potter-si Kapten Quidditch yang visualnya belakangan ini makin meresahkan karena badannya makin tegap dan rahangnya makin tegas-lagi fokus menatap layar iPad-nya. Jersey Quidditch-nya sengaja dilipat sampai sikut, memamerkan lengan berotot hasil latihan fisik ekstra.
"Woy, Har! Jangan nge-lag dong, ulti itu ulti!" Ron Weasley berteriak heboh di sebelahnya, jempolnya bergerak brutal di atas layar HP.
"Sabar, Ron. Ini koneksi Wifi Hogwarts lagi ampas gara-gara anak Hufflepuff pada marathon Netflix di asrama," sahut Harry. Suaranya berat, tipe-tipe suara cowok maskulin yang kalau ngomong pelan bikin anak satu ruangan menoleh. Di seberang aula, tepatnya di meja Slytherin, atmosfernya jauh lebih estetis. Blaise Zabini lagi sibuk bikin konten TikTok, Pansy Parkinson sibuk maskeran elektrik, sementara Theodore Nott lagi asyik dengerin podcast pakai AirPods Max-nya.
Di tengah-tengah mereka, duduklah Draco Malfoy. Pangeran Slytherin itu tipe-tipe pretty boy berambut platina yang kalau jalan kayak punya aura soft filter. Badannya ramping, jemarinya lentik saat menggeser halaman buku ramuan digital di tabletnya. Biarpun gayanya kalem, otaknya encer bukan main-satu-satunya orang yang bisa menyaingi nilai Hermione Granger di kelas Transfigurasi.
"Gila, si Potter malam ini aura maskulinnya agak overpowering gak sih?" Pansy berbisik, matanya melirik ke meja Gryffindor. Draco mendengus pelan, matanya tetap di layar tablet. "Biasa aja. Modal otot doang, otaknya paling isinya cuma taktik Quidditch sama kuota internet."
"Halah, bilang aja lu naksir," celetuk Blaise tanpa dosa. "Zabini, mau gue kutuk jadi panci presto?" Draco melotot, pipinya agak merona tipis yang langsung dia sembunyikan dengan meminum jus labunya.
Padahal dalam hati, Draco emang lagi ketar-ketir. Jujur, dia tuh perhatian banget sama Harry.
Kemarin pas Harry hampir jatuh dari sapu gara-gara bludger nyasar, Draco yang paling pertama berdiri di tribun penonton sambil nahan napas, meskipun semenit kemudian dia langsung pasang muka songong lagi pas Harry melihat ke arahnya.
Draco itu tipe yang kalau sayang bakal setia setengah mati, tapi gengsinya setinggi Menara Astronomi.
Besoknya, tensi Hogwarts agak naik karena ada simulasi House Cup gabungan. Anak-anak Gryffindor dan Slytherin disatukan dalam satu aula buat kuis sihir interaktif.
Harry duduk di barisan depan, kaos hitamnya agak ketat, bikin aura alpha-nya makin keluar. Draco duduk tepat di sebelahnya, wangi parfum wood sage dan sea salt mahal langsung tercium oleh Harry. Harry menelan ludah. Gila, saingan akademiknya Hermione ini kenapa makin hari makin cantik? Eh, ganteng. Maksudnya, manis. Ah, tau ah.
"Jangan liat-liat, Potter. Nanti naksir," sindir Draco ketus, tapi tangannya agak gemetar pas merapikan jubahnya.
"Siapa juga yang liat? Pede amat lu, Malfoy," balas Harry ketus. Suaranya sengaja dibuat dingin, padahal jantungnya sudah kayak habis tanding Quidditch tiga ronde. Harry mikir Draco benci banget sama dia gara-gara mereka selalu saingan di lapangan. Harry merasa dirinya terlalu kasar dan gak se-elegan cowok-cowok yang biasa ngobrol sama Draco.