Hujan deras turun tanpa henti malam itu. Suara titisan air hujan kedengaran di sepanjang jalan aspal yang basah.
Malam itu terasa begitu kosong. Tiada kenderaan atau manusia yang berkeliaran di sepanjang jalan kota, hanya suara hujan yang deras kedengaran.
Namun semua itu tidak hentikan gerakan seorang pemuda yang berlari tanpa arah di sebuah lorong.
Pemuda itu hanya berbalutkan kemeja tipis yang basah. Napasnya terengah-engah mencari tempat yang selamat untuk sembunyi. Matanya sentiasa menoleh ke belakang, memastikan orang yang mengejarnya tidak menyusul.
Phuwin memutuskan untuk masuk ke dalam lorong kecil dan bersembunyi disana. Dia sudah tidak kuat berlari, jantungnya berdegup kencang. Dia perlu mengatur napasnya, sepertinya dia bisa mati jika meneruskan larian.
Untung di lorong itu ada sebuah atap kecil untuk berteduh. Phuwin menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Dengan tangan gemetar, Phuwin mencoba menelepon temannya.
"Please... angkat teleponnya," bisiknya dengan suara yang gemetar sambil menatap layar ponsel yang terus berdering.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi," suara operator terdengar dari balik telepon.
Tidak ada jawaban dari temannya. Tetapi Phuwin tetap mencoba lagi.
Berkali-kali ia menelepon, tetapi hasilnya tetap sama—tidak ada jawaban.
Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Phuwin!"
Suara itu kembali terdengar. Suara yang selama ini menghantui pikirannya. Bulu kuduknya meremang, napasnya tercekat, dan rasa takut perlahan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya lagi.
Phuwin mematikan ponselnya dan berdiri di balik tembok. Memastikan tidak ada cahaya yang dapat menunjukkan keberadaannya.
Dalam kegelapan yang pekat itu, keheningan terasa begitu menyiksa. Phuwin memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat.
Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu gila-gilaan, terpadu dengan suara gesekan pelan dari bilah pisau yang sengaja diseret di sepanjang dinding lorong.
Sreett... sreett.....
Suara bilah pisau yang beradu dengan semen itu terdengar makin dekat.
"Phuwin... Sayang... Kamu sembunyi di mana?"
Suara itu terdengar begitu lembut. Suara yang biasanya membisikkan kata-kata cinta di telinganya. Namun malam ini, suara pacarnya itu terdengar seperti bisikan malaikat maut.
Phuwin membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, air mata ketakutan mengalir di pipinya bercampur dengan air hujan yang tak lagi deras. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tidak menyangka orang yang paling ia cintai tega melakukan ini padanya.
Tap. Tap.
Langkah kaki itu mendadak berhenti tepat di ujung tembok tempat Phuwin bersandar.
"Ketemu," bisik suara itu, dingin tanpa emosi.
Sebelum Phuwin sempat melarikan diri, sebuah tangan kokoh mencengkeram kerah bajunya, menyentak tubuhnya keluar dari balik tembok dan menghempasnya ke atas jalan aspal lorong yang dingin.
Phuwin meringis, mendongak menatap sang kekasih yang berdiri di atasnya. Di tangan kanannya, sebilah pisau yang tajam berkilat di bawah cahaya bulan.
"K-kenapa...." bisik Phuwin terbata-bata dengan sisa keberaniannya, air mata menyamarkan pandangannya. "Kenapa kamu lakuin ini sama aku. Aku salah apa Nara?"
Mendengar pertanyaan itu. Senyuman sinis penuh kepedihan terukir di wajah Naravit. Tatapannya menatap Phuwin dengan kilat amarah yang meluap-luap.
"Kamu memang gak salah, Phuwin. Tapi orang tua bajingan kamu yang salah," Suara Nara meninggi, bergetar hebat. "Kecelakaan malam itu.. mereka yang nabrak orang tua aku sampai mati! Mereka pembunuh!"
Phuwin tertegun, ia tidak pernah mengetahui fakta ini. Jantungnya mencelos mendengar fakta yang mengerikan itu.
"Aku mau mereka bayar nyawa dengan nyawa. Aku mau hancurin hidup mereka seperti mereka hancurin hidup aku!" Nara berlutut, mencengkeram rahang Phuwin dengan sangat kuat sehingga ia meringis.
"Tapi orang tua kamu pengecut! Mereka kabur ke luar negeri, sembunyi di tempat yang gak bisa aku jangkau!"
Cengkraman di rahang Phuwin perlahan mengendur, berubah menjadi belaian lembut yang terasa dingin di pipi Phuwin.
"Jadi... karena aku gak bisa sentuh mereka, mereka harus ngerasain apa rasanya kehilangan orang yang paling mereka sayangi. Mereka harus tahu rasanya ditinggal mati," bisik Nara dengan suara yang tiba-tiba melembut instan.
"Aku mau jujur sama kamu. Aku selama ini ngedeketin kamu dari awal cuma buat balas dendam... nggak lebih," Ucap Nara dingin tanpa ada rasa ragu atau bersalah. Ekspresi wajahnya berubah drastis.
Nara menatap Phuwin dengan wajah datar. "Maafin aku Phuwin, tapi kamu adalah satu-satunya cara agar orang tua kamu bisa bayar dosa mereka. "
Tanpa ada sedikit ragu, Nara menghunjamkan pisau itu tepat ke dada Phuwin.
Phuwin terkesiap, matanya membelalak lebar. Rasa sakit yang luar biasa panas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, merenggut semua pasokan udara di paru-parunya.
Tangannya yang gemetar sempat menyentuh lengan Naravit , sebelum akhirnya cengkeramannya terlepas.
Bilah besi itu ditarik keluar dengan kejam. Tubuh Phuwin terkulai lemas di atas genangan darahnya sendiri yang kian melebar. Pandangannya perlahan menjadi buram dan meredup.
Dalam kesedarannya yang tersisa, mata Phuwin tertuju pada pergelangan tangan kirinya.
Tepat di sana, jam tangan kuno pemberian kakeknya tiba-tiba berhenti.
Jarum detiknya tadi yang bergerak ritmis mendadak kaku tepat di angka dua belas. Tidak ada lagi denyut waktu. Keheningan yang absolut menyelimuti ruangan. Seolah semesta juga sedang menahan napas. Gerimis tipis yang jatuh dari langit pun tiba-tiba berhenti di ruangan udara.
Kemudian, hal mustahil itu terjadi.
Jarum yang tadinya diam membeku tiba-tiba bergetar hebat. Lalu dengan gerakan yang kasar dan patah-patah jarum itu kembali berputar dengan kecepatan yang tidak masuk akal—bukan ke kanan, melainkan berputar ke kiri.
Jarum itu melawan arus waktu. Semakin cepat.
Krek, krek, krek.
Seketika, cahaya biru pudar berpendar keluar dari balik kaca jam, menyilaukan mata Phuwin yang nyaris terpejam. Phuwin merasakan sensasi aneh yang mencengkeram jiwanya—seperti tubuhnya ditarik paksa oleh arus gravitasi yang kuat.
Suara-suara di sekitarnya mendadak memutar balik. Suara langkah kaki Nara yang menjauh tadi, kini terdengar mundur kembali ke arahnya. Rasa sakit yang tadi menghujam dadanya, perlahan-lahan surut, seolah-olah bilah pisau itu sedang ditarik kembali dari tubuhnya oleh tangan tak terlihat.
Dunia seakan terlipat. Kegelapan yang tadinya pekat, kini hancur lebur diterjang cahaya putih yang menyakitkan.
vote duluu!
YOU ARE READING
Time Reversed
FanfictionPhuwin pernah percaya kalau cinta mampu menyembuhkan segala luka. Namun dia salah. Karena kadang-kadang cinta tidak menyembuhkan malah menjadi luka itu sendiri. -pondphuwin ff! -bxb!
