(2 tahun lalu - Kampus Teknik, Jakarta]
"May, tolong dong gantiin gue presentasi. Gue ada rapat UKM."
Maya ngelirik Arif yang lagi ngiket rambut asal-asalan. Keringet masih nempel di dahi.
"Gue bukan anak teknik, Rif. Gue anak psikologi."
"Gapapa. Tinggal baca slide gue. Lo kan jago ngomong."
Itu pertama kali mereka ngobrol lama.
Dosennya emang suka nyampur anak lintas jurusan buat tugas besar. Maya sama Arif satu kelompok. Proyek pusat daur ulang.
Yang bikin Maya inget sampai sekarang bukan proyeknya.
Tapi pas jam 12 siang, Arif tiba-tiba pamit.
"Gue ke mushola dulu ya. 10 menit."
Maya cuma "Oh, oke."
Tapi dia ngeliatin Arif jalan keluar kelas. Nggak buru-buru. Nggak malu. Kayak itu hal paling wajar di dunia.
Waktu Arif balik, keringet di dahinya belum kering.
"Kenapa sih lo nggak sekalian aja abis kuliah?" tanya Maya iseng.
Arif senyum kecil. "Karena Tuhan nggak nunggu gue senggang, May. Gue yang harus nyempetin waktu buat Dia."
Jawaban itu nyangkut di kepala Maya seminggu.
---
[6 bulan kemudian]
Mereka udah deket. Nugas bareng, makan bareng, debat kecil soal film.
Arif nggak pernah nanya "lo mau mualaf nggak?".
Tapi Maya mulai bawa Al-Quran terjemahan ke kosan. Diam-diam.
Malam itu mereka begadang ngerjain laporan.
Maya kesel karena datanya berantakan. Dia ngomel, lempar pulpen, hampir nangis.
Arif diem. Terus dia berdiri, ambil wudhu di kamar mandi kosan Maya.
Balik lagi, dia sholat 2 rakaat di pojok kamar. Pelan. Tenang.
Selesai sholat, dia duduk lagi.
"Udah?" tanya Maya ketus.
"Udah. Sekarang kita benerin datanya bareng."
Maya diem.
"Kenapa sih lo nggak marah balik waktu gue ngomel?"
"Karena marah nggak nyelesain masalah. Dan gue inget, Allah liat gue sekarang."
Maya nggak tidur malam itu.
Dia mikir: Kenapa cowok ini bisa setenang itu?
Kenapa dia nggak takut kehilangan nilai, kehilangan waktu, cuma buat sholat 10 menit?
Besoknya Maya buka chat ke Arif.
"Rif, boleh nggak gue tanya-tanya soal Islam? Tapi janji ya, lo nggak boleh maksa gue apa-apa."
Balasan Arif cuma 1 baris:
"Boleh. Tanya aja apa aja. Tapi gue janji, gue cuma bakal jawab. Yang milih jalan, tetep lo."
Maya baca chat itu sambil ngeliatin langit kosan yang penuh bintang.
Untuk pertama kali, dia ngerasa... penasaran sama Islam.
[Bersambung ke Bab 2: Pertanyaan Pertama]
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Dia Aku Pulang
RomanceKarena Dia, Aku Pulang Aku Katolik sejak lahir. Dia Muslim yang nggak pernah maksa aku apa-apa. Dia cuma sholat tepat waktu, sabar waktu aku ngomel, dan bilang "Allah liat kita" waktu aku mau nyerah. Aku jatuh cinta sama dia. Tapi yang bikin aku...
