Bab 1: Putri Kedua

1 1 0
                                        

Madrid malam itu terlalu terang.

Lampu-lampu istana menyala seperti sengaja ingin memberi tahu seluruh kota bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi di dalam sana. Mobil-mobil hitam berhenti satu per satu di depan pintu utama, menurunkan para bangsawan, pejabat, tamu negara, dan orang-orang kaya yang wajahnya sering muncul di majalah, tapi namanya tetap sulit diingat.

Di luar gerbang, kamera media berbaris seperti pasukan kecil. Mereka menunggu satu hal.

Bukan kedatangan para bangsawan.

Bukan gaun para tamu.

Bukan juga dekorasi Palacio Real yang malam itu terlihat seperti latar film kerajaan mahal.

Mereka menunggu Leonor.

Karena tentu saja, selalu Leonor.

"Putri Leonor sudah datang?"

"Apa benar malam ini ia akan memberi pidato?"

"Apakah Raja akan mengumumkan sesuatu tentang masa depan takhta?"

Suara para wartawan terdengar samar dari balik kaca mobil. Sofía duduk di samping kakaknya, menatap keluar dengan ekspresi yang sudah ia latih sejak kecil. Tenang. Anggun. Tidak terlalu dingin, tapi juga tidak terlalu terbuka.

Ekspresi keluarga kerajaan nomor sekian.

Di sebelahnya, Leonor merapikan ujung sarung tangannya. Gerakannya kecil, tapi tetap terlihat sempurna. Seolah-olah bahkan caranya bernapas pun sudah sesuai protokol istana.

"Kau gugup?" tanya Sofía pelan.

Leonor menoleh. Wajahnya tetap tenang, tapi Sofía tahu kakaknya terlalu pandai menyembunyikan rasa cemas.

"Sedikit," jawab Leonor. "Mereka bilang aku harus memberi sambutan setelah makan malam."

Sofía mengangkat alis. "Mereka bilang? Bukan bertanya?"

Leonor tersenyum tipis. "Kau tahu sendiri."

Ya. Sofía tahu.

Di kerajaan, beberapa hal memang tidak perlu ditanyakan. Orang-orang hanya memberi tahu, lalu berharap kau tersenyum seperti semuanya baik-baik saja.

Mobil mereka berhenti.

Dalam hitungan detik, pintu terbuka. Suara kamera langsung meledak seperti hujan kecil yang tidak ada habisnya.

"Putri Leonor!"

"Yang Mulia, lihat ke sini!"

"Putri Leonor, satu foto!"

Leonor turun lebih dulu. Seketika dunia seperti mengarah kepadanya. Cahaya kamera mengikuti langkahnya, nama Leonor dipanggil berkali-kali, dan semua mata tampak merasa beruntung hanya karena bisa melihat calon Ratu Spanyol dari dekat.

Lalu Sofía turun setelahnya.

Beberapa kamera masih mengarah, tentu saja. Ia tetap putri kerajaan. Ia tetap memakai gaun biru muda yang dijahit khusus oleh desainer terkenal. Rambutnya ditata rapi, anting kecil berkilau di telinganya, dan senyumnya cukup sempurna untuk membuat siapa pun percaya bahwa ia baik-baik saja.

Tapi teriakan itu berbeda.

Untuk Leonor, mereka berteriak seolah sedang melihat masa depan.

Untuk Sofía, mereka menyebut namanya seperti pelengkap kalimat.

"Putri Sofía, sebelah sini!"

"Putri Sofía, bisa berdiri dekat Putri Leonor?"

Sofía hampir tertawa kecil.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 16 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Second PrincessStories to obsess over. Discover now