Part 1: Kebangkitan Dua Inti Semesta

2 0 0
                                        


Semesta tidak pernah berisik saat menciptakan sesuatu yang agung. Ia hanya bergetar dalam hening yang pekat di titik paling hulu jagat raya—sebuah dimensi suci, rahasia, dan tak terjamah yang dikenal sebagai Rahim Kosmos. Di sanalah tempat segalanya bermula dan berakhir. Di sejauh mata memandang, hamparan nebula berwarna ungu safir dan magenta mengalun lambat bagai samudra sutra tanpa tepi, berjalin mesra dengan rasi bintang kuno yang berpijar keperakan. Angin kosmik berembus tanpa suara, membawa debu-debu galaksi yang berkilauan layaknya berlian mikro yang terapung bebas. Di tengah-tengah keheningan absolut yang sakral itu, sepasang jiwa kosmik yang murni telah selesai ditempa oleh takdir.

Detik itu, kedamaian rahim jagat raya terusik oleh sebuah getaran gaib yang halus namun masif. Jalinan benang takdir yang membentang di atas altar kosmik mendadak menegang. Itulah tanda bahwa Ayah Semesta dan Ibu Alam mulai terjaga dari tidur panjang mereka, mengembuskan napas kehidupan pertama pada dua entitas yang baru saja selesai diciptakan. Bersamaan dengan gema magis yang berdesing rendah di udara, dua pasang kelopak mata terbuka secara bersamaan untuk pertama kalinya.

Mereka lahir sebagai sepasang saudari kembar identik yang mewarisi kesempurnaan visual paling murni di alam semesta. Kendati kembar, kedua penciptanya meniupkan dua pesona aura yang bertolak belakang pada paras keduanya, menciptakan dualitas kosmik yang luar biasa indah.

Sang kakak, bangkit berdiri dengan kehangatan murni yang mendesing lembut dari dalam tubuhnya. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara tipe paras yang sangat imut, manis, dan cantik menggemaskan—sebuah struktur wajah yang ramah dan langsung memancarkan optimisme tinggi, sanggup mencairkan kebekuan apa pun. Helai rambut panjangnya yang bergelombang lebal mengembang indah, memiliki perpaduan warna yang sangat langka: pirang keemasan murni layaknya madu hutan di bagian atas, yang perlahan bergradasi menjadi semburat merah tembaga menyala di ujung-ujungnya. Rambut itu berkilau magis seolah dialiri oleh lidah api kosmik kecil. Pesona imutnya kian hidup berkat sepasang manik mata berbentuk bulat sempurna berwarna emas menyala yang sangat jernih, tajam, dan penuh rasa ingin tahu, memancarkan pendar cahaya fajar yang menyuburkan harapan. Tubuhnya yang mungil dibalut oleh selembar gaun fana yang luar biasa indah, tercipta dari rajutan benang cahaya matahari murni yang terus bergerak dinamis mengikuti setiap helaan napasnya.

Sementara sang adik, bangkit berdiri dalam keheningan yang absolut dan meneduhkan. Berbeda kontras dengan aura sang kakak yang meletup-letup, garis wajah sang adik tampak sedikit lebih tegas, simetris, namun memiliki sentuhan lekukan yang sangat halus. Parasnya memberikan kesan cantik yang anggun, berwibawa, misterius, dan sedikit dingin layaknya seorang ratu dari dimensi sunyi. Namun, ketegasan yang memukau itu bisa luntur seketika dan melunak jadi sangat manis saat seulas senyuman tipis terbit di bibirnya yang mungil. Rambut panjangnya yang lurus jatuh dengan anggun melompati bahu, memiliki warna hitam pekat sekelam langit malam terjauh tanpa bintang, namun memantulkan pendar keperakan yang dingin di setiap gerakannya. Sepasang matanya melambangkan kedalaman kosmos yang tak terukur; manik matanya berwarna ungu safir yang sangat dalam, teduh, dan penuh empati. Tubuhnya dibalut oleh keanggunan gaun jalinan kabut kegelapan malam yang pekat, yang melambai halus seolah-olah dia dikelilingi oleh bayang-bayang pelindung.

Saat kedua dewi kembar itu berdiri tegak di atas altar dan saling bertatapan dalam kebingungan murni makhluk yang baru lahir, ruang hampa di sekeliling mereka mendadak bergetar hebat. Jalinan nebula di sekeliling mereka berputar membentuk pusaran raksasa yang indah. Suara agung Ayah Semesta yang berat dan berwibawa, bersahutan dengan kehangatan Ibu Alam yang lembut penuh kasih sayang, menggema langsung di dalam pusat kesadaran mereka.

“Wahai inti kosmos yang suci... terbangunlah,” desis Ibu Alam melalui rasi bintang yang bergerak selaras dengan getaran suaranya, memeluk kesadaran kedua putri kembarnya. “Kau yang sehangat fajar dan berwajah manis, ku namai kau Lyra Clarice. Dan kau yang setenang malam dengan senyum madu, ku namai kau Lura Celeste.”

Two sides of eternity Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang