Malam itu sunyi, hanya derap langkah tergesa dan desir angin yang memecah keheningan. Seorang wanita berlari di kegelapan, tubuhnya kurus, pakaian lusuhnya basah oleh keringat dan embun. Di dalam pelukannya, ia mendekap erat seorang bayi laki-laki yang baru berusia tujuh hari.
Ia tidak berlari untuk dirinya sendiri.
Ia berlari untuk menyelamatkan anaknya.
Petaka itu bermula dari kebiasaan suaminya berjudi. Hutang menumpuk, bunga terus berbunga. Para penagih telah lama kehilangan kesabaran. Dua malam lalu, mereka datang ke gubuk kecil itu. Pertengkaran pecah, dan ketika fajar menyingsing, suaminya tergeletak kaku dengan darah mengering di sudut bibir. Kini giliran mereka memburunya.
Kaki wanita itu perih. Telapak kakinya lecet, setiap langkah terasa seperti pisau yang merobek kulit. Napasnya pendek dan tersengal, tetapi ia tidak berani berhenti. Di belakang sana, suara langkah kaki dan umpatan kasar semakin mendekat.
Air matanya mengalir tanpa henti. Bukan hanya karena lelah dan takut, melainkan karena putus asa. Ia menatap wajah mungil bayi di dadanya, pipinya yang masih merah, bibirnya yang bergerak-gerak mencari kehangatan.
“Bertahanlah, Anakku” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Omma tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu”
Ia mengeratkan pelukan, seolah dengan itu ia bisa melindungi buah hatinya dari seluruh dunia yang kejam. Dalam gelap, ia terus berlari, mencari jalan keluar, sebuah tempat di mana anaknya bisa hidup aman, meski ia sendiri harus binasa.
****
Ia terus berlari hingga hutan kecil di pinggiran desa menyambutnya. Pohon-pohon tua berdiri rapat, bayangannya menari-nari di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Di sinilah suara langkah para penagih itu mulai memudar, tertelan oleh deru angin dan dedaunan yang bergesekan.
Wanita itu bersandar pada batang pohon, napasnya tersengal-sengal. Bayi di pelukannya menggeliat pelan, menangis lirih karena kedinginan. Ia menunduk, mengusap punggung kecil itu dengan tangan yang gemetar.
“Tahan sebentar, Nak… sebentar lagi” gumamnya, meski ia sendiri tak tahu ke mana harus pergi.
Tiba-tiba, terdengar suara ranting dipijak. Ia menahan napas dan mengintip dari balik pohon.
Sosok yang muncul membuat hatinya bergetar.
Itu Perdana Menteri Kim.
Dalam keadaan terjepit seperti ini, ia tak punya pilihan lain. Demi menyelamatkan putranya, hanya inilah jalan yang tersisa. Dengan tubuh gemetar, ia melangkah keluar dan mendekati lelaki itu.
“Perdana Menteri Kim…” suaranya pecah di tengah malam yang sunyi.
Lelaki itu tertegun melihat seorang perempuan berdiri di tengah hutan, menggendong bayi di tengah kegelapan.
“Perdana Menteri Kim, aku mohon, selamatkan anakku” ucapnya sambil berlutut.
“Aku tidak punya banyak waktu. Orang-orang itu mengejarku. Aku tahu kita tidak saling mengenal, tetapi aku mohon… selamatkan anakku. Dia tidak bersalah”
Air matanya jatuh tanpa henti.
Perdana Menteri Kim memandangnya dengan iba.
“Apa yang bisa aku bantu?” tanyanya pelan.
“Aku mohon, rawatlah anakku seperti kau merawat anakmu sendiri. Aku tahu ini permintaan yang berlebihan, tetapi aku tidak punya waktu lagi. Dia putraku yang berharga”
“Aku bisa menyelamatkan kalian berdua” jawabnya.
Wanita itu menggeleng pelan.
“Mereka akan terus memburu kami. Aku mohon, Perdana Menteri Kim”
“Bangunlah. Aku akan membantumu” ucap lelaki itu tegas.
Wanita itu bangkit, lalu menyerahkan bayinya dengan hati hancur.
“Nak… maafkan Omma. Omma melakukan ini demi dirimu. Jadilah anak yang baik, berbudi luhur” bisiknya sambil menahan tangis.
Bayi mungil itu menggeliat dalam pelukan Perdana Menteri Kim.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar semakin dekat dari kejauhan.
“Aku harus pergi” katanya tergesa. “Satu lagi… tolong sembunyikan identitasnya. Namanya… Kim Seokjin”
Ia menatap anaknya untuk terakhir kali, lalu berbalik dan menghilang ke dalam gelap.
Perdana Menteri Kim hanya bisa menatap kepergian wanita itu dengan iba, sebelum memandang bayi dalam gendongannya.
Di hatinya terasa aneh. Istrinya baru saja kehilangan putri yang baru dilahirkan. Kehadiran bayi mungil ini terasa seperti anugerah yang datang di tengah duka.
“Aku akan menjagamu” gumamnya pelan.
“Mulai sekarang, kau adalah putriku. Putriku yang cantik… Kim Jinie”
Bersambung
Hai yeorobun 👋
Aku balik lagi dengan poster kissing lainnya 🤭
Sebagai perkenalan, singkat dulu aja ya 😆
Buku ini ada OST-nya loh 🎧✨
Boleh banget dengerin lagunya pas baca biar feelnya lebih dapet.
Kalau nggak juga nggak papa 🙆♀️
Tapi coba dengerin sekali aja ya 😉👌
Biar kebayang ceritanya bakal kayak gimana. Terus cek videonya juga 👀 Ada apa aja di sana. Nanti kalian pasti paham pas udah baca ceritanya.
Untuk sekarang, dengerin OST-nya dulu ya.. ⬇️
Kita lanjut lagi nanti malam, oke? 👌
See yaa!!😉
