1. Awal Pertemuan

168 22 8
                                        

Harry Potter menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma perkamen tua, ramuan obat, dan hawa magis Diagon Alley memenuhi paru-parunya.

Remaja itu membetulkan letak kacamata bulat yang bertengger di hidungnya, lalu berusaha merapikan sejumput rambut hitamnya yang selalu tampak berantakan-meskipun usahanya sia-sia karena sedetik kemudian rambut itu kembali mencuat, membingkai wajahnya dengan kesan manis yang alami.

​Di sampingnya, James Potter berdiri dengan senyum yang lebar. Hari ini adalah momen istimewa. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di negeri seberang dengan sistem asrama yang super ketat dan minim akses komunikasi, Harry akhirnya pulang.

James, yang tidak tahan lagi menahan rindu akibat sulitnya mendapat kabar dari sang putra, mengambil keputusan sepihak untuk memindahkan Harry ke Hogwarts.

Harry sendiri tidak mempermasalahkannya, ia tidak keberatan untuk bersekolah dimanapun. Baginya semua sekolah itu bagus.

Namun berbeda dengan ​Lily, sang ibu. Awalnya Lily menentang keras keputusan itu. Bagaimanapun, tinggal beberapa tahun lagi hingga Harry lulus. Namun, menghadapi keras kepalanya James Potter adalah hal yang mustahil. Lily akhirnya hanya bisa mengalah dengan helaan napas pasrah.

​"Aku akan menunggu di toko seberang, ya? Kalian berdua bersenang-senanglah," ujar Lily lembut, mengecup pipi Harry sebelum melangkah pergi. Dua pria dengan garis wajah serupa itu kompak mengangguk.

​"Jadi, kita harus ke mana dulu, Dad?" tanya Harry, mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan yang ramai.

​"Tentu saja membeli seragam dan jubah Hogwarts-mu! Ayo," sahut James penuh semangat, merangkul pundak putranya.

​Setibanya di toko jubah Madam Malkin, James langsung melangkah masuk dengan antusiasme yang meluap-luap. Tanpa sempat bertanya pada sang anak, James langsung menyebutkan ukuran pakaian Harry kepada sang pelayan, seolah ia sudah menghafal pertumbuhan putranya di luar kepala.

Harry hanya tersenyum maklum. Ia rela menuruti semua ini demi melihat binar bahagia di wajah ayahnya, meskipun jauh di lubuk hatinya ada rasa berat karena harus meninggalkan teman-teman di sekolah lamanya.

​Saat Harry sedang asyik memperhatikan gulungan kain di sudut ruangan, ia membalikkan badan terlalu cepat.

​Bruk!

​Bahunya membentur keras dada seseorang. Harry sedikit mengaduh, sebelum akhirnya ia mendongak untuk melihat siapa yang baru saja ia tabrak.

​Di hadapannya, berdiri seorang pemuda jangkung berambut pirang platina yang tersisir sangat rapi tanpa cela. Kulitnya pucat, kontras dengan pakaian mahal yang dikenakannya. Namun, yang membuat napas Harry sempat tertahan adalah tatapan mata pemuda itu-manik kelabu yang tajam, sedingin es, namun entah bagaimana langsung mengunci seluruh atensi Harry di tempatnya berdiri.

​Dunia riuh di sekitar Diagon Alley seolah meredup seketika, menyisakan jarak beberapa senti di antara mereka yang mendadak terasa begitu intens.

"Siapa kau? Apa kau salah satu murid Hogwarts? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."

Suara bariton itu memecah keheningan di antara mereka. Harry buru-buru mengambil langkah mundur, mendadak sadar bahwa jarak mereka berdua terlalu dekat di antara barisan gantungan jubah Madam Malkin.

"Aku Harry. Harry Potter," jawab Harry, berusaha menata kembali suaranya yang sempat tercekat. "Aku baru akan pindah ke Hogwarts besok."

Pemuda pirang itu mengernyitkan alis, menatap Harry dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang intens. "Potter?" gumamnya, setengah bingung. "Setahuku, anak Paman Potter hanya Kak Hans."

Dear MalfoyStories to obsess over. Discover now