Pagi itu, langit Jakarta masih berwarna abu-abu ketika Laras Maheswari berdiri tegak di depan gerbang sebuah kompleks pemerintahan yang sudah mulai dipenuhi kendaraan dinas.
Udara terasa lembap setelah hujan semalam. Beberapa petugas keamanan hilir mudik memeriksa kendaraan yang masuk, sementara para pegawai mulai berdatangan dengan langkah cepat, membawa tas kerja dan setumpuk agenda yang menunggu untuk diselesaikan.
Namun Laras tidak memedulikan semua itu.
Tatapannya lurus ke depan.
Tenang.
Datar.
Hampir tanpa ekspresi.
Seragam hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa satu lipatan pun. Rambut panjangnya diikat rendah di belakang kepala. Di telinga kirinya terpasang alat komunikasi kecil yang nyaris tidak terlihat.
Ia sudah terbiasa dengan lingkungan seperti ini.
Tempat-tempat yang dipenuhi orang penting.
Orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Orang-orang yang juga memiliki musuh.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari atasannya.
Bos:
"Target tiba pukul 07.30. Briefing terakhir di lantai tiga.:
Laras hanya membalas singkat.
Laras:
Siap.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Ia memang bukan tipe orang yang suka berbicara panjang.
Tiga puluh menit kemudian.
Sebuah ruang rapat kecil di lantai tiga dipenuhi beberapa orang dari tim pengamanan.
Di layar monitor terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas gelap.
Wajahnya familiar.
Terlalu familiar.
Karena beberapa bulan terakhir hampir setiap hari muncul di televisi.
Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet termuda dalam sejarah pemerintahan saat ini.
Usianya baru tiga puluh enam tahun.
Kariernya melesat cepat.
Namanya dikenal luas.
Wajahnya sering muncul dalam pemberitaan.
Dan karena itulah ancaman mulai berdatangan.
Seorang pria paruh baya berdiri di depan layar.
Namanya Komisaris Arif Nugroho.
Koordinator pengamanan yang ditunjuk langsung untuk menangani kasus tersebut.
"Ancaman terhadap Pak Teddy meningkat dalam dua bulan terakhir."
Ruangan menjadi hening.
"Awalnya hanya pesan anonim."
Klik.
Slide berganti.
Muncul beberapa tangkapan layar.
Pesan-pesan berisi ancaman.
Sindiran.
Hinaan.
Sampai kalimat yang membuat suasana ruang rapat sedikit berubah.
YOU ARE READING
Bodyguard Pak Pejabat
Romance"Tugas saya melindungi Bapak, bukan mencintai Bapak." Laras Maheswari selalu memegang prinsip itu selama bertahun-tahun menjadi pengawal profesional. Sampai ia ditugaskan menjaga Teddy Indra Wijaya, pejabat muda yang terus menerima ancaman misterius...
