Part 1 : "4:00"

13 5 2
                                        

Awalnya cuma kebetulan. Malam itu aku terbangun tanpa alasan yang jelas. Jam di ponselku menunjukkan 4:01 pagi. Terlalu pagi untuk bangun. Terlalu malam untuk disebut dini hari. Aku hampir menutup mata lagi saat layar ponselku tiba tiba menyala.

(Heeseung)
"Kamu bangun?"

Aku menatap nama itu beberapa detik.
Aneh.Kenapa dia chat jam segini?

"Iya kenapa kamu belum tidur? "

Balasannya datang cepat.

(Heeseung)
"Gak bisa tidur. "

Aku mengangguk pelan meakipun dia tidak bisa melihatnya.

"Sama"

Percakapan itu sederhana. Tidak ada yang spesial. Hanya dua orang yang terjaga di waktu yang sama, berbagi kalimat pendek untuk mengisi sunyi. Beberapa menit kemudian aku tertidur lagi. Dan aku pikir itu hanya terjadi sekali.

--

Tapi malam berikutnya, aku terbangun lagi. Jam 4:00 tepat. Dan seperti Dejavu ponselku menyala.

(Heeseung)
"Kamu bangun lagi? "

Aku sedikit tersenyum.

"Kamu juga? "

(Heeseung)
"Kayaknya kita punya masalah tidur yang sama."

Aku tertawa kecil. Dan lagi lagi kita berbicara. Tentang hal hal random. Tentang betapa anehnya bangun di jam segini. Tentang betapa sunyinya dunia saat semua orang tertidur.

--

Hari ketiga. Aku tidak tau kenapa, tapi aku terbangun beberapa detik sebelum jam 4.

03:59

Mataku langsung tertuju ke ponsel, menunggu. Dan tepat saat angkanya berubah, ponselnya menyala.

(Heeseung)
"Kamu sudah bangun ya? "

Aku terdiam sejenak. Lalu membalas pelan.

"Iya aku nunggu,"

Ada jeda yang lebih lama dari biasanya.
Lalu..

(Heeseung)
"Jangan nunggu aku. "

Aku mengerutkan kening.

"Kenapa? "

Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Seolah dia sedang berfikir terlalu lama untuk jawaban yang seharusnya sederhana.

(Heeseung)
"Gak apa apa cuma jangan biasain."

Aku tidak benar benar mengerti maksudnya. Jadi aku hanya menjawab.

"Hehe kebetulan aja kok"

--

Ternyata itu bukan kebetulan lagi. Hari keempat, hari kelima, hari keenam, tanpa sadar tubuhku mulai terbiasa. Aku selalu terbangun di jam yang sama. Dan selalu, dia sudah ada di sana. Menungguku atau mungkin kita saling menunggu. Percakapan kami mulai berubah. Tidak lagi sekedar "gak bisa tidur". Kami mulai mengisi hal hal kecil
Tentang hari yang melelahkan , tentang hal hal yang membuat kami kesal. Tentang hal hal yang kami tidak bisa katakan kepada siapapun. Dan entah sejak kapan, jam 4 pagi bukan lagi waktu yang aneh. Itu menjadi waktu favoritku.

--

Suatu malam aku terbangun seperti biasa.

3:59

Aku langsung meraih ponselku. Menunggu detik itu berubah 4:00. Satu detik, dua detik, tiga detik. Layar ponselku masih gelap. Aku menatap lebih lama dari biasanya. Dadaku terasa sedikit aneh. Sampai akhirnya, layarnya menyala.

(Heeseung)
"Maaf telat. "

Aku menghembuskan nafas pelan tanpa sadar. Seoalah ada sesuatu yang baru saja kembali ketempatnya.

"Aku kira kamu ga datang. "

(Heeseung)
"Aku selalu datang."

Aku tersenyum kecil, tidak tahu kenapa. Tapi kalimat itu lebih dari sekedar kata- kata. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang sederhana. Aku tidak lagi bangun karena kebetulan. Aku bangun karena menunggunya. Jam 4 pagi, bukan lagi tentang insomia. Tapi tentang dia.

RAIN AT 4 A. M ll Lee HeeseungStories to obsess over. Discover now