BAB 1

393 40 3
                                        

Aroma sisa pengharum ruangan rasa apel yang hampir habis di sudut dinding dan uap keringat dari belasan gadis yang bergantian memakai ruangan itu selalu menjadi kombinasi bau khas dari ruang latihan JKT48. 

Sore itu, pendingin ruangan di sudut langit-langit terasa kalah oleh suhu tubuh para pengisi ruangan yang baru saja menyelesaikan sesi latihan. Di depan cermin besar yang membentang dari ujung ke ujung dinding, beberapa staf manajemen dari Operational Team sedang berdiri memegang papan klip, bersiap memberikan pengarahan internal.

Hari itu bukan hari biasa bagi anak-anak Akademi. Sore ini adalah momen perkenalan perdana bagi para member dari Generasi 9 kepada senior yang nantinya akan menjadi rekan, atau bahkan saingan mereka di bawah lampu sorot Teater. 

Suasana ruangan diselimuti oleh ketegangan. Riuh canggung dan bisik-bisik pelan terdengar dari sudut-sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang asing bagi siapa pun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Di barisan senior, Angelina Christy duduk dengan posisi yang sangat tenang. Berbeda dengan citranya di depan kamera yang sering kali terlihat blah-bloh, sore ini ia menampilkan impresi yang jauh lebih matang. Mengenakan kaus latihan yang menyamarkan lekuk tubuhnya dan celana training, ia meluruskan kedua kakinya ke depan, menyandarkan punggungnya pada dinding cermin dengan santai. 

Rambut pendeknya yang berwarna cokelat gelap tampak sedikit berantakan karena sisa koreografi lagu yang baru saja ia pelajari beberapa jam lalu, namun sepasang mata bulatnya memancarkan ketenangan yang dingin.

Sebagai member Generasi 7 yang sudah merasakan kerasnya didikan panggung sejak usia sangat muda, Christy sebenarnya sudah kenyang melihat wajah-wajah baru yang datang dan pergi. JKT48 adalah tempat di mana regenerasi bergerak secepat rotasi bumi, ada yang bertahan hingga puncak, ada pula yang layu sebelum sempat mekar. 

Biasanya, Christy tidak akan terlalu ambil pusing. Ia adalah tipe member yang fokus pada perkembangannya sendiri, mengamati sekelilingnya seperlunya tanpa harus terlibat dalam riuh rendah perkenalan yang melelahkan.

Namun, sore ini entah kenapa perhatiannya terdistraksi sepenuhnya. Pandangan Christy melirik melewati bahu teman-teman seangkatannya, mengabaikan suara lantang staf manajemen yang sedang menjelaskan aturan dasar Golden Rules. Pandangan Christy terkunci pada barisan paling belakang di sudut ruangan yang agak temaram.

Di sana, bersandar pada dinding cermin dengan jarak yang cukup kentara dari teman-teman seangkatannya, duduk seorang gadis berambut hitam legam yang dikuncir kuda acak-acakan. Beberapa helai rambutnya yang lepas tampak menempel di pelipis yang basah oleh keringat. Wajah gadis itu datar, dingin, dan tatapan matanya lurus menatap lantai kayu seolah-olah lantai itu adalah hal paling menarik di ruangan tersebut.

Saat calon junior lain sibuk menebar senyum manis yang dipaksakan, mencoba terlihat seramah mungkin demi mencuri hati para senior, gadis kuncir kuda ini justru memasang aura cuek yang sangat tebal. Ia tidak tampak gugup ataupun berambisi untuk tebar pesona. Tatapannya kosong, seolah-olah pikirannya sedang melayang jauh ke luar ruangan, mungkin sedang mengulang kembali gerakan tari yang baru saja diajarkan.

"Lu ngelihatin apaan sih, Chris? Serius amat," bisik Eli, salah satu member Generasi 7 yang duduk tepat di sebelah Christy, menyenggol pelan lengan temannya itu karena menyadari arah pandang Christy yang tidak biasa.

Christy tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wajahnya tetap datar, mempertahankan ekspresi cool yang melekat padanya sore ini. "Itu... yang di pojok belakang. Yang kuncir kuda. Siapa, Kak?"

Eli memicingkan matanya, mengikuti arah pandang Christy sebelum akhirnya mendengus pelan sambil terkekeh halus, menjaga suaranya agar tidak menginterupsi staf di depan. "Oh, itu. Anak baru Generasi 9. Namanya Kathrina. Kenapa? Serem ya mukanya? Banyak yang bilang dia emang judes banget dari pas audisi. Anak-anak yang lain pada segan mau ngajak ngomong."

THE UNWRITTER SETLISTStories to obsess over. Discover now