Anara Sulistyo Wardhana saat ini tengah berada di pesta pernikahan sahabat dekatnya dan sepupu kesayangannya. Tidak disangka mereka berjodoh dalam waktu yang cukup cepat dan Tyo - begitu ia disapa sehari-hari- menyaksikan semua perhelatan hubungan keduanya. Dia merasa terharu sekaligus bangga bisa menjadi saksi pernikahan mereka berdua dan sekarang hadir di tengah-tengah acara meriah dengan konsep Arabian Night ini. Tyo pun mulai merasa kesepian sekarang karena dua orang terdekatnya menikah dan pasti akan memulai kehidupan baru. Di tengah riuh pesta ini Tyo berdoa untuk keduanya agar selalu berbahagia dan tidak banyak keributan terjadi di dalam rumah tangga mereka.
Pukul 22.30 Tyo memutuskan untuk pulang lebih dulu karena sudah sangat kelelahan. Dia keluar dari gedung acara dan mengambil kunci mobilnya dari petugas parkir. Tak jauh dari mobilnya ada seorang gadis mengenakan gaun malam berwarna hitam keluar dari gedung juga, dia melepas sepatu hak tinggi yang menghambat langkah kakinya dan duduk sejenak di tangga. Tyo mengawasi gadis itu kemudian memutuskan untuk keluar dari mobilnya karena siapa tahu gadis itu butuh bantuan. Dia menghampiri gadis yang tengah terduduk di tangga itu.
"Hi..." ucapnya. Gadis itu menengadahkan kepalanya. Menatap Tyo yang berpostur tinggi.
"Oh, Hi. Anything I can help with?" ucap gadis itu. Tyo menggeleng dan ikut duduk di sampingnya.
"No, I wonder if you need help. Your feet must be tired with those shoes" Tyo mengedikkan kepalanya ke arah sepatu gadis itu. Gadis itu tersenyum simpul. Dia mengangguk dan memijit lagi kakinya.
"Yeah... it's hurt. But I survived, so don't worry, Sir" ucapnya ramah.
"I can drive you home, just tell me the address" ucap Tyo lagi.
"Really? Oh that would be very helpful. I can't find any taxis here, also it's almost midnight" ucap gadis itu lagi.
"Okay, come on" Tyo membawakan sepatu dan tas gadis itu, sedangkan gadis itu mengangkat gaun malamnya agar tidak terinjak saat menuruni tangga. Tyo membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu berterima kasih dan tersenyum manis dan langsung memakai seatbelt.Tyo masuk ke dalam mobilnya namun tidak dipungkiri dia tersenyum saat ajakannya pada gadis itu berhasil.
"So, where are you from?" ujar gadis itu pada Tyo.
"Me? I'm Indonesian. Am I looking like somebody from somewhere else?" ucap Tyo dengan kekehannya.
"Ohhh, kirain bule soalnya wajahnya dan rambutnya bule banget Kak" Gadis itu tertawa kecil.
"Ah hahaha, papa saya bule memang. Dari Scotland. Mama saya orang Semarang. Jadi memang agak bule-bule gitu." ucap Tyo.
"Ooohh pantesan. Eh iya, kenalin "Rindiani Clara Widjaya" panggil aja Indi."
"Anara Sulistyo Wardhana, panggil aja Tyo." keduanya bersalaman sebelum akhirnya Tyo mulai melajukan mobilnya ke arah alamat yang sudah disebutkan oleh Indi.
"Namanya lokal banget ya, kirain namanya akan ada bule-bulenya gitu hahahah" ucap Indi riang.
"Hahaha, ah bisa aja. Seleraku juga lokal-lokal aja kok." Tyo menanggapinya ringan. Percakapan terjadi seiring dengan perjalanan yang mereka lalui. Beberapa kali dihadapkan dengan lampu merah dan mereka harus terhenti karena kemacetan jalan yang mereka pikir tidak akan semacet itu karena sudah mau tengah malam. Indi beberapa kali mengecek ponselnya dan kembali mengobrol dengan Tyo.
"Harus buru-buru sampai ke tujuankah?" tanya Tyo.
"Oh, enggak, ini mempelai tanya baju tidurnya dimana? Aku udah masukin padahal. Mungkin ada yg usil ngeluarin dari koper hihihi" pembawaan riang Indi membuat Tyo juga ikut menimpali riang.
"Ohh, aku ngerti kok" ucap Tyo sambil tertawa. Tyo tidak menyangka akan membahas hal yang seperti ini di tengah perkenalan yang belum lama mereka lakukan. Lalu lintas yang melambat membuat Tyo merasa beruntung karena bisa bercakap-cakap dengan gadis di sebelahnya ini.
"Kalau kamu asli mana, Indi?"
"Ohh, aku dari Bandung, USA alias Urang Sunda Asli hahah" Humor gadis itu perlahan memasuki pikiran Tyo. Tyo ikut tertawa dengan gadis itu.
"Oh, keren banget, kamu temannya Tira?"
"Wah udah bukan temen lagi sih ama Tira, udah besti banget kita hampir 10 tahun lebih temenan" ucapnya dengan semangat.
"Oh, Tira gak pernah cerita punya temen orang Bandung. Padahal kami dekat." Ada sedikit kekecewaan di suaranya Tyo karena baru tahu mengenai teman Tira yang satu ini.
"Oh, mungkin karena aku gak tinggal di Bandung beberapa waktu itu kali Kak. Aku tinggal di Edinburgh untuk kerja dan S3 di sana jadi mungkin Tira belum cerita, atau Tira sibuk gak cerita. Nevermind, the less you know the better. Also, I'm not important person, I'm just her bestie" ucap Indi dengan senyuman di matanya yang cantik sekali menurut Tyo. Tyo setuju dan mengangguk saja. Dalam hati Tyo tidak ingin mengakhiri perjalanan ini, dia masih ingin banyak berbicara dengan Indi. Dia ingin mengobrol lebih banyak lagi, dia tidak ingin perkenalan ini berakhir begitu saja begitu Indi menginjakkan kaki keluar dari mobilnya. Dia kemudian memberanikan diri untuk bertanya
"Indi, can I have your number?" ucapnya. Indi melihatnya penuh curiga namun dia menadahkan tangannya.
"Give me your phone" Tyo pun menyerahkan ponselnya dan Indi mulai mengetikkan nomornya di sana. Setelahnya dia menyerahkan kembali ke Tyo dan berkata
"Mohon chat sebelum telepon ya heheeh" Tyo menanggapinya dengan tawa ringan.
"Baik"
Tiba di tempat menginap Indi, Indi pun mengucapkan terima kasih pada Tyo. Tyo pun mengiyakan dan segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah pria itu merebahkan dirinya di sofa, memikirkan hal yang baru saja terjadi. Berkenalan dengan teman baik adik sepupunya. Asing memang tapi dia merasa nyaman dan suka dengan percakapan yang terjadi. Meski percakapan itu ringan saja tapi gadis itu menanggapinya dengan baik. Tyo memang seorang yang pemilih mengenai lawan bicara, dia lebih suka lawan bicara yang to the point dan tidak bertele-tele. Namun dengan Indi meski percakapannya biasa saja dan terkesan basa basi dia merasa nyaman. Dia membuka ponselnya dan membuka aplikasi chat berwarna hijau. Dia melihat foto profil Indi yang tertera di sana. Cantik. Itu kesan pertamanya. Tanpa basa-basi dia menekan tombol chat.
Anara Sulistyo Wardhana: "Hi, Indi. Ini Tyo"
terkirim pada pukul 00.00.
