Kisah tragis tentang Anna, gadis bermata mawar yang dikubur hidup-hidup pada tahun 1945, dan cinta abadi Julian yang terus mekar di atas tanah kuburannya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Gerimis terakhir di tahun 1945 membawa aroma tanah basah dan mesiu yang mulai luntur di sepanjang jalanan Amsterdam. Namun, bagi Julian, dunia hanya sewarna dengan sepasang mata gadis itu.
Nama gadis itu Anna.
Ia bukan gadis biasa. Sejak lahir, ada sesuatu yang ganjil sekaligus magis pada dirinya. Dokter menyebutnya kelainan, namun Julian menyebutnya mukjizat: di dalam sepasang manik mata Anna, ada semburat merah kelopak mawar yang mekar.
Setiap kali Anna berkedip, helai-helai merah itu seperti bergoyang ditiup angin tak kasat mata.
Pandangannya selalu hangat, seolah ia melihat dunia bukan sebagai tempat yang hancur oleh perang, melainkan sebuah taman yang menanti musim semi.
"Kau melihat apa, Julian?" tanya Anna suatu sore, bersandar pada dinding bata ruang bawah tanah tempat mereka bersembunyi.
"Melihat satu-satunya gadis yang pernah kucintai," bisik Julian, menyelipkan anak rambut Anna ke belakang telinga.
"Dan mawar-mawar yang menolak layu di matamu."
Anna tersenyum, meski di luar sana, derap sepatu bot tentara dan raungan sirine sisa-sisa perang masih menggetarkan kaca jendela.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.