Rutinitas yang Menjerat

197 11 0
                                        

Setiap pukul lima pagi, sebelum matahari menyentuh pucuk-pucuk gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, alarm di unit apartemen Pasha sudah berbunyi. Di atas tempat tidur yang selalu rapi tanpa cela, Pasha membuka matanya. Tidak ada jeda untuk bermalas-malas. Tubuhnya bergerak secara mekanis-efek dari kedisiplinan militer yang diterapkan di akademi kuliner Perancis tempatnya menimba ilmu dulu.

Pasha adalah pria yang mencintai keteraturan. Di dalam lemari pakaiannya, kemeja putih dikelompokkan dengan sesama putih, jarak antar gantungan baju diatur presisi dua sentimeter.

Hidupnya adalah serangkaian garis lurus yang ia gambar sendiri. Sebagai anak tunggal dari keluarga kelas menengah yang menaruh harapan besar pada pundaknya, Pasha tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi "biasa saja" adalah sebuah dosa besar.

Setelah menyelesaikan ritual paginya-termasuk menyisir rambut hitamnya dengan rapi dan memastikan apron putihnya tidak bernoda-Pasha akan berdiri di depan cermin besar.

Wajahnya manis, dengan garis rahang yang lembut dan sepasang mata yang sebenarnya indah namun selalu memancarkan kelelahan yang amat dalam. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, buah dari jam tidur yang jarang menyentuh angka empat jam semalam.
"Sempurna," bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra harian sebelum ia melangkah keluar menuju L'Amuse.

Di belahan Jakarta yang lain, di sebuah rumah tua peninggalan kolonial yang meranggas di sudut tersembunyi Jakarta Kota, Taksa baru saja menutup buku catatannya saat jago berkokok. Kamar Taksa adalah antitesis dari apartemen Pasha. Tempat itu lebih mirip gudang ekspedisi kuno daripada kamar tidur.

Gulungan peta topografi usang menumpuk di pojok ruangan, potret-potret hitam putih para tetua adat di berbagai pelosok Nusantara tertempel acak di dinding menggunakan isolasi kertas, dan di atas mejanya, berserakan beberapa kamera analog mekanis yang bagian dalamnya sengaja dibongkar.

Taksa adalah tipe pria yang membiarkan hidupnya dituntun oleh rasa ingin tahu yang liar. Lahir dari seorang ayah yang merupakan antropolog dan ibu seorang kurator museum, Taksa tumbuh di atas jok belakang mobil jip, berpindah dari satu situs penggalian purbakala ke situs lainnya.

Ia bertubuh jangkung, dengan bahu lebar yang kokoh karena terbiasa memanggul tas ransel berat, dan rambut ikal hitam yang dibiarkan sedikit panjang hingga sering kali jatuh di dahinya.

Pagi itu, Taksa tidak memedulikan penampilannya. Ia hanya mengenakan kaos oblong pudar dan celana kargo penuh kantong yang jahitannya sudah mulai lepas. Matanya yang cokelat pekat, yang selalu menatap dunia dengan binar jenaka sekaligus tajam, tertuju pada sebuah kliping koran tua tentang hilangnya varietas padi kuno di tanah Jawa.

"Kuliner itu bukan cuma soal apa yang masuk ke mulut," gumam Taksa seolah berbicara pada bayangannya sendiri, sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang berderit. "Tapi soal siapa yang memasaknya, tanah apa yang menumbuhkannya, dan cerita apa yang terkubur di dalamnya. Kalau itu hilang, kita kehilangan identitas."

Ini fist time aku bikin cerita, menurut kalian gimana guys??
Jujur bingung jugaa aku kenapa tiba-tiba nulis cerita gini wkwk
Kalo sukaa ramein yaaa oll lopyuu

Mencari Rasa yang Hilang - TEETEEPOR. (END)Stories to obsess over. Discover now