Rasya hanya suntuk, berpikir barangkali alun-alun kota adalah pilihan tepat untuk melepas penat dari kepalanya yang bersik menuntut tanggung jawab- tanpa tahu, bahwa semesta telah merencanakan pertemuannya dengan Kenaan- mahasiswa muda yang sore itu...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Rasya
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kenaan
•••
Pukul empat dini hari.
Tanggal merah menyala di antara deretan angka yang terpajang di kalender, dan Rasya dengan impulsifnya semalam, telah membeli tiket perjalanan kereta api menuju pusat kota.
Lampu di sepetak kamar kos yang ditempatinya menyala, dengan pikiran bahwa sebentar lagi ia bisa kabur dari suasana hari kerja, pemuda cantik itu lekas memasuki kamar mandi bersama, kendati tetangga kos nya yang lain masih lelap dalam tidur sebab hari itu tempat mereka bekerja diliburkan.
Rasya menghela napas panjang, udara pagi menyambutnya begitu ia melangkah keluar gerbang bangunan kos yang ditempatinya. Tak butuh waktu lama hingga ojek yang dipesannya sampai.
Ini bukan kali pertama Rasya pergi ke alun-alun kota, bukan pertama kalinya pula ia pergi ke Gramedia tiap berkunjung ke sana.
Masih pukul tujuh pagi, Gramedia tentu saja belum beroperasi. Tapi Rasya yang sejak beberapa hari lalu dihantui oleh objek lukis— sebuah kotak telepon di pinggir jalan raya —telah memenuhi kepalanya.
Setidaknya dia harus mencoba menggambarnya sekali.
Maka, mengabaikan pengunjung dan turis asing yang tengah berjalan-jalan di trotoar, Rasya memutuskan untuk mendudukkan diri di halte, siap dengan buku sketsanya, menatap objek yang akan dilukisnya— sebuah kotak telepon berwarna merah yang sudah tidak beroperasi.
Earphone menyumpal telinga kanannya, sedang tangan kirinya mulai bekerja, menggoreskan garis, menyambungnya menjadi sebuah bentuk solid.
Musik dan gambar sketsa. Dua hal yang berhasil menenggelamkan Rasya begitu saja, meredam kepalanya yang berisik sejak beberapa minggu terakhir.
Goresan terus bertambah, sketsa terbentuk. Cantik, rapi, dengan proporsi yang sedikit memunculkan kepuasan pada dadanya. Mendongak, Rasya rasakan sinar mentari membelai sisi wajahnya— keemasan, hangat, dan sejenak bising kota yang semula teredam oleh suara musik dari erphone nya mulai terdengar. Nyata.